My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Ingin Memilikimu



_Dewi POV_


Sekian lama aku mengenalnya, baru hari ini aku menyadari perasaan lain yang timbul dalam hatiku. Beberapa tahun lalu, adalah saat pertama kali aku jatuh cinta. Namun aku sadar, usiaku belum pantas mengenal cinta.


Pada akhirnya, aku mencoba melupakan perasaan itu dan menganggapnya sebagai rasa kagum. Aku yang jauh dari sebuah keluarga sempurna, sering kali merasa iri pada orang-orang sekitar ku.


Akan tetapi, setelah aku mengenal keluarga sahabatku Kiara, seakan aku mempunyai keluarga yang sempurna. Orang tua Kiara yang juga menyayangiku, kakaknya yang juga menunjukkan perhatian padaku, membuatku merasa berada di dekat papaku dan kakakku.


Hingga aku merasa nyaman mendapatkan perhatian dari kak Genta, kakak Kiara.


Kak Genta adalah sosok pria baik hati dan lembut. Aku bahkan tak pernah melihatnya memarahi Kiara ketika ia membuat kesalahan. Bahkan ketika Kiara mendapat nilai buruk sekalipun, keluarganya tetap men-supportnya.


Sebenarnya, mamapun seperti itu. Tapi, aku merindukan sosok ayah yang sesungguhnya. Juga sosok kakak yang sesungguhnya. Kak Brian yang tengah menempuh pendidikan S2 nya di Luar negeri, membuatku semakin jauh dari dirinya.


Begitupun adikku Kinanti dan mama Rianti. Mereka ikut menemani kak Brian di sana. Papa juga mengurus perusahaan yang berada di sana. Kinanti, pindah sekolah di sana. Sementara mama Rianti, menemani mereka.


Tinggallah aku di desa ini dengan Mama kandungku. Sepi? Jelas saja aku merasa sepi.


Akhirnya, aku mengajak sahabatku mengelilingi mall yang baru berdiri setengah tahun ini. Baru satu jam kami di sini, mereka akhirnya pulang. Sebenarnya, mereka mengajakku pulang bersama, namun aku merasa bosan di rumah.


Pada akhirnya, aku memutuskan berjalan-jalan sendiri. Aku masuk ke toko buku. Berniat mencari buku-buku yang bagus. Aku mencari novel atau pun komik yang menarik. Untuk menambah koleksi buku ku.


Saat aku tengah serius memilah buku, terdengar suara yang familiar di telingaku. Aku menoleh dan mendapati pria yang ku kagumi di dekat ku. Aku merasa canggung. Mungkin dia pun begitu. Hingga terciptalah keheningan di antara kami.


Setelah berdiam sekian menit, ia pun membantu ku memilah novel yang tengah ku pegang. Entah mengapa, aku jadi tak tertarik lagi dengan novel itu. Karena tak ada lagi yang ingin di beli, ia mengajak ku pulang bersamanya. Aku mengiyakannya.


Di perjalanan, kami saling diam. Meski sesekali ku lirik dia melalui ekor mataku. Jantungku selalu berdegup dengan kencang tak terkendali jika berada di dekatnya.


Aku bertanya pada hatiku, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Lagi-lagi aku mencoba berpikir realistis. Kak Gen, pasti hanya menganggap diriku adiknya. Usiaku yang sebaya dengan Kiara, membuatku meyakininya.


Terbersit tanya di benakku. Apakah salah aku menyukainya? Apakah aku tidak boleh menyukainya? Ingin ku tanyakan padanya, siapa aku di hatinya? Apakah dia menganggap ku seperti adiknya? Kenyataannya, aku tak bisa melontarkan pertanyaan itu.


Caranya memperhatikan dan melindungi ku, membuatku menginginkannya. Aku ingin menggenggam tangannya. Ingin memilikinya. Tapi, apa nanti yang akan ia pikirkan tentang diriku? Gadis kecil yang.... Ah... Entahlah.


Tuhan... Aku sungguh ingin memilikinya.


Aku hanya mampu berbicara dalam hatiku.


•••••••••••••


_Genta POV_


Dari waktu ke waktu, hatiku semakin tak terkendali. Seperti hari ini. Saat ku lihat ia berdiri di dalam toko yang sama denganku, irama jantungku mulai berbeda dari biasanya. Jika di dekat teman-teman wanitaku di sekolah jantungku tak bereaksi seperti ini, mengapa hanya dengan melihatnya saja irama jantungku bereaksi?


Aku tahu, aku sudah mulai memandangnya sebagai wanita. Jika selama ini aku memungkirinya, kali ini aku tidak lagi memungkirinya.


Tapi, apa gadis ini merasakan hal yang sama denganku? Ku putuskan mendekatinya. Aku melihat ia sedang membaca sinopsis dari novel yang berada di tangannya. Aku tahu, novel itu sangat bagus.


Ketika ku katakan jika novel yang di pegang ya itu bagus, ia menoleh padaku. Kami mulai saling menyapa. Hingga tak lama, keheningan menguasai kami.


Dalam perjalanan pun, kami saling terdiam. Hingga ketika ia ingin jatuh, ku rangkul pundaknya. Berharap ia tak terjerembab. Ia terkejut. Terlihat jelas di wajahnya.


Tahukah ia, bahwa aku mulai menginginkannya? Ya, aku yakin sekarang. Aku tahu aku menyukainya.


Jujur saja, aku ingin menggenggam tangannya. Memberikan pundak ku untuk tempatnya bersandar. Aku yang tahu jika ia sering menangis karena merindukan keluarganya, ingin selalu ada di sampingnya. Menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


Ingin ku curahkan cinta ku padanya, menggantikan keluarganya. Aku tak bisa melihatnya bersedih. Hatiku ikut sakit melihatnya. Salahkah aku mencintainya?


Dewi, namamu selalu terngiang di telingaku. Wajah mu selalu hadir dalam mimpiku. Sungguh, aku sangat menginginkanmu.


Tidak, aku harus berhasil. Aku akan jadi orang yang selalu ada di sampingnya. Aku akan sukses. Ya, aku akan belajar sungguh-sungguh.


Sudah ku putuskan. Aku akan kuliah sambil bekerja di ibu kota. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku pasti bisa membuatnya bahagia.


Tunggu aku gadis kecilku. Kamulah penyemangat hidupku. Aku pasti akan menjadikanmu milikku. Ya, aku yakin itu. Dewi Adianna.


Tuhan, dengarkanlah permohonan ku.


•••••••••••


Hari sudah hampir gelap ketika mereka tiba. Jalan di desa itu pun mulai sepi. Tiba di taman, Genta menggenggam jemari Dewi lembut. Dewi tersentak dan menatap ke dalam mata Genta.


Genta pun menatapnya kembali dengan rasa cinta yang mulai ia tunjukkan. Dewi yang melihatnya masih merasa tak yakin.


"Kenapa kak?" tanya Dewi. Genta hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.


Dewi semakin salah tingkah melihat senyum Genta. Ingin Dewi bertanya, apakah Genta menyukainya? Namun ia takut. Ia takut, apa yang ia lihat dan rasakan, tidak sama dengan apa yang di rasakan Genta.


Genta mendekat dan membelai rambut Dewi. Merapihkan anak rambutnya yang berantakan. Dewi semakin terkejut mendapati perlakuan manis dari Genta.


"Apa kak Genta menyukaiku?" pertanyaan itupun lolos dari bibirnya. Genta tersenyum. Dewi tak dapat mengartikan senyum Genta.


Genta mengecup pipi Dewi. Wajah Dewi bersemu merah. Ia menundukkan wajahnya.


"Kakak suka sama Dewi. Tapi Dewi gak perlu jawab sekarang. Karena kakak ingin jadi sukses dulu." tutur Genta.


Dewi mendongakkan kepalanya, menatap langsung ke dalam bola mata milik Genta. Dewi sempat takut, jika itu hanya mimpi.


"Kakak gak bohong kan?" tanyanya.


"Gak. Kakak serius."


"Jadi Dewi gak mimpi?" Genta tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Rasa bahagia mengalir dalam hati mereka. Mereka pun tersenyum.


"Dewi akan datang pada kakak. Ketika Dewi akan menjawabnya." Genta mengangguk tanda setuju.