
Waktu menunjukkan tepat tengah malam di negara Rianti saat ini. Sejak sore, hatinya begitu gelisah. Pikirannya melayang pada putranya.
Awalnya, Rianti membiarkannya. Hingga di tengah malam seperti ini, ia terbangun dari mimpi buruk yang membayanginya. Firasatnya semakin tak enak.
Segera Rianti mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Bram. Tersambung, namun Bram tak juga mengangkatnya. Dia terus mencoba.
Di ibu kota, Bram, Sofi, Dewi Genta dan anak buahnya yang lain, tiba di kamar yang menjadi privasi Bram dan Brian. Rupanya, jalan kekamar itu, tidak memiliki CCTV. Pantas mereka tak bisa menemukan Brian.
Jantung Bram berdegup kencang. Belum lagi, Rianti terus menelponnya. Sofi pun terus menyuruh Bram membuka pintu. Bram mengangkat telepon Rianti.
Di dalam, gadis itu baru saja sadar dari pingsannya. Ia merasa ada yang memeluknya. Bertepatan pintu terbuka, gadis itu terduduk. Ia terkejut melihat semua yang ada di ruangan itu.
Bram yang baru mengangkat telepon itu membelalakkan matanya melihat kejadian di hadapannya.
"Brian...." teriak Bram.
Gadis itu menoleh ke sampingnya dan mendapati atasannya memeluknya. Ia segera meraba tubuhnya. Tidak ada yang aneh. Pakaiannya pun masih lengkap.
Brian bangun dengan terkejut. Ia mengerjapkan matanya. "Papa...." ucapnya dengan suara parau.
Sofi mendekati gadis itu bersama Dewi. "Ayo kak, saya bantu." ucap Dewi. Dewi memandang gadis itu.
"Kak Cindy.." Dewi mengingat Cindy.
Cindy melihat Dewi. Namun, akibat sakit kepalanya, penglihatannya kabur. Ia memegang kepalanya. Brian menatap gadis itu.
"Kau masi sakit kepala?" tanyanya.
"Apa yang kau lakukan pada gadis ini?" tanya Bram menahan emosinya.
"Nanti saja mas. Panggil dokter dulu ke sini." pinta Sofi.
"Cindy, kau baik-baik saja?" tanya Genta. Dewi melihat ke khawatiran Genta membuatnya merasa cemburu.
"Sayang, kau tidak usah cemburu padanya. Dia temanku." ucap Genta yang melihat perubahan raut wajah Dewi yang kini sudah menjadi tunangannya.
"Minggir, biar aku saja." ucap Brian.
"Kau berbaring saja. Wajahmu pucat. Apa kau sakit?" tanyanya pada Cindy.
"Iya pak." ucapnya.
Sofi sudah menelpon dokter, sebentar lagi dokter akan tiba. Ia mendekati Brian dan Cindy.
"Kau tidak apa-apa nak?" tanya Sofi yang melihat wajah pucat Cindy. Cindy menggelengkan kepalanya.
Bram melupakan ponselnya yang masih tersambung dengan Rianti. Rianti bisa mendengar dengan jelas semua pembicaraan di sana. Ia terduduk lemas mengetahui putranya berada di kamar yang sama dengan seorang gadis.
Rianti tak percaya dengan yang terjadi. Airmatanya luruh tanpa di komando. Perasaannya sakit mendengarnya.
"Apa yang terjadi mas." lirih Rianti.
"Maaf Rianti, aku akan menghubungimu nanti." Bram memutus sambungan telepon secara sepihak.
Rianti memutuskan segera kembali ke ibukota. Pikirannya tak tenang. Ia harus tahu, kejadian apa yang menimpa putranya.
Tak lama dokter datang dan memeriksa Cindy dengan seksama. Setelah memeriksanya, dokter merapihkan semua peralatannya dan tersenyum menatap semua orang di ruangan itu.
"Nona ini tidak apa-apa. Dia hanya mengalami pusing akibat kelelahan dan stress. Benar nona?" dokter itu menghadap Cindy.
"Iya dok. Saya pekerjaan yang menumpuk, membuat saya kurang istirahat dan lupa makan." jawab Cindy lemah.
"Terimakasih dokter." ucap Sofi lega.
Anak buah Genta pun segera mengantarkan dokter itu. Tinggallah mereka di ruangan itu. Bram menatap penuh selidik pada Brian. Sama seperti yang lain. Brian menyadari itu.
"Aku tidak melakukan apapun pada wanita ini. Aku hanya menolongnya." Brian membuang pandangannya.
"Itu tidak sengaja pa.." jawab Brian.
"Brian, kau benar tidak melakukan sesuatu yang tidak kau sadari kan?" Sofi mendekati Brian.
"Sungguh ma, aku tidak berbuat macam-macam padanya." ucap Brian frustasi.
Brian merasa frustasi. Tatapan semua orang yang ada di kamar itu mengintimidasinya kecuali gadis itu. Entah dia percaya atau tidak, Brian tidak tahu.
"Cindy, apa kau tidak merasa ada yang aneh?" tanya Genta yang di jawab Cindy dengan gelengan kepala.
"Tidak. Aku ingat, aku pingsan saat akan ke toilet dan menabrak pak Brian." ucapnya lemah.
"Dengar sendiri kan." Dewi hanya diam dan mendengarkan.
"Kalau begitu, kau harus menikah dengannya." tegas Bram.
Seketika, mata Brian dan Cindy membola. Mereka tak percaya dengan kata-kata yang di ucapkan Bram.
"Pa, aku tidak melakukan apa pun padanya. Kenapa aku harus menikahinya?" ucapnya.
"Mama rasa papamu benar. Kau harus menikahi gadis itu." Sofi membela Bram.
Dewi dan Genta saling pandang. Mereka merasa ada yang janggal dengan Bram dan Sofi. Dia yakin, Brian tidak menyentuh Cindy. Dia hanya memeluknya. Itu pun, mungkin tanpa sadar.
"Tidak ada alasan lagi. Brian, papah gadis itu. Dan antarkan dia pulang." perintah Bram.
"Tidak mau. Kalian sudah memaksaku melakukan hal yang tidak ingin ku lakukan." tolaknya.
"Aku tidak mencintai gadis ini, tapi kalian menyuruhku menikahinya." geramnya.
"Maaf pak saya menyela. Apa yang di katakan pak Brian benar. Kami tidak mungkin menikah." ucap Cindy.
"Saya juga tidak mencintai pak Brian."
"Untuk yang tadi, saya sangat berterimakasih, karena pak Brian menolong saya."
"Insiden pelukan tadi, saya rasa itu tidak di sengaja. Saya memahaminya. Jadi, tidak usah di besar-besarkan." lanjutnya.
Cindy berusaha bangun, meski kepalanya terasa berat. Dia hampir terjatuh, jika Brian tak memegang pundaknya.
"Sudah biar aku antarkan pulang. Kau saja lemah begini." ketusnya.
Brian pun membantu Cindy dan mengantarnya pulang. Cindy mengucapkan terimakasih. Brian pun memberikannya ijin untuk istirahat sementara, mengingat kondisinya.
Tiba di rumah, Bram sudah menunggunya di ruang keluarga. Brian masuk tanpa menghiraukan keberadaan Bram.
"Brian, kau hampir saja terjebak dalam permainan Jasmine kan?" tanyanya.
Brian yang sempat lupa dengan kejadian itu, kembali teringat tentang minuman yang di berikan Jasmine padanya. Ia berbalik dan menatap papanya.
"Papa tahu darimana?" tanyanya.
"Anak buah Genta sudah mencurigainya. Dan sekarang, Genta sedang menyelidikinya." ucap Bram. Bram melangkah mendekati Brian.
"Papa tidak ingin hal ini kembali terulang. Dengarkanlah papa." Bram menepuk pundak Brian dan meninggalkannya.
Brian mencoba mencerna ucapan Bram. Dengarkan apa. Aku saja tidak tahu harus bagaimana? Apa maksud papa, tentang menikahi gadis tadi? pikirnya.
Brian segera menuju kamarnya dan memikirkan kejadian tadi. Apakah dia harus mengikuti kata-kata papanya atau tidak? Namun ia bimbang. Brian tidak ingin menyakiti gadis itu dengan menikahinya tanpa cinta.
Dirinya pun, tak ingin mempermainkan pernikahan. Terlebih, hati gadis itu akan tersiksa jika pernikahan ini terjadi secara paksa. Dia mencoba memikirkan jalan lain yang bisa menghentikan tindakan Jasmine padanya.
Bagaimana caraku menyelamatkan gadis itu? Apa yang harus ku lakukan pada Jasmine? Dia sudah keterlaluan. Untung saja aku bisa mengontrol diriku. Jika tidak, aku pasti sudah menerkam gadis itu tadi.
Brian tenggelam dalam pikirannya.