My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Pekerjaan setelah magang



Beberapa bulan sudah berlalu sejak Rianti mengunjungi Sofia. Ia pun sudah memberitahu pada Bram dan Brian keputusan yang di ambil oleh Sofia.


Saat itu, ada kekecewaan yang mendalam di hati Brian. Penolakan itu, seakan menjauhkan Brian dari Sofia dan Dewi. Dua orang wanita lainnya yang sangat penting bagi hidup Brian selain Rianti dan Kinanti.


Sementara Bram, merasa kehilangan kesempatan untuk bersatu kembali dengan wanita yang di cintainya. Sepertinya, Sofia tidak bisa memaafkannya.


Sejak itu pula, komunikasi antara Bram dan Sofia mulai merenggang. Hanya Dewi yang sesekali menghubunginya. Bram merasa malu untuk bertemu dengan Sofia.


Sofia sendiri, menghindari kontak dengan Rianti maupun Bram. Hanya pada Brian wanita itu sering bertukar kabar.


•••••••••


Setelah selesai magang, Genta kini tengah mengurus skripsinya dan menjalani tugas barunya. Kini, Genta tak perlu lagi bingung mencari kerja ketika kuliahnya telah selesai.


Meski pekerjaannya tidak seperti yang di harapkan, bahkan mungkin jauh dari mata kuliah yang di ambilnya, ia tetap bersyukur dan menjalani pekerjaannya dengan baik.


Kali ini, ia tengah mengawal seorang pria tampan dan terkaya di ibukota. Pria itu akan segera berangkat ke kantornya.


"Selamat pagi pak." sapa Genta. Pria itu hanya mengangguk. Genta membuka pintu belakang untuk tuannya. Setelahnya, ia memutar dan duduk di kursi samping supir.


"Gen, apa jadwal saya hari ini?" tanya pria itu.


"Bapak akan ada meeting dengan Gold Furniture setelah makan siang. Setelahnya, tidak ada jadwal." Genta memberitahu pria itu jadwalnya. Selain sebagai bodyguard pribadinya, Genta juga berprofesi sebagai asisten pria itu. Mendengar penuturan Genta, pria itu hanya mengangguk.


"Ok." pria itu kembali fokus dengan iPad di tangannya.


Di tengah jalan tiba-tiba saja turun segerombolan orang yang menghadang jalan mereka. Genta turun lebih dulu. Pria itu hanya menontonnya dari dalam tanpa ikut campur.


Beberapa menit kemudian, perkelahian pun terjadi. Pria itu hanya tersenyum kecil dan mengusap bibirnya dengan telunjuknya. Genta cukup kuat menghadapi kesepuluh orang itu tanpa lecet sedikit pun.


Dalam waktu lima belas menit, seluruh gerombolan itu meninggalkan lokasi. Genta kembali ke dalam mobil.


"Kali ini siapa?" tanya pria itu.


"Masih dari musuh yang sama pak. Sepertinya, mereka belum jera mencari perkara dengan bapak." jawab Genta dengan wajah datar.


Wajah Genta saat dengan atasannya sangat berbeda dengan saat di luar. Mungkin itu terjadi karena profesinya juga sebagai bodyguard atau pengawal pribadi atasannya.


"Biarkan saja, Saya tidak mengerti kenapa dia selalu mencari perkara denganku." pria itu menghela nafas.


Wijaya Group


Mereka melewati lobi dan menuju lift khusus petinggi perusahaan. Genta menekan tombol lima belas. Lantai teratas gedung ini dan yang menjadi ruangan atasannya sekaligus ruangannya. Tiba di lantai lima belas, Genta menuju ruangannya. Jenny mengetuk pintu ruangan Genta.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk" perintah Genta. Jenny masuk dan berkacak pinggang.


"Kenapa?" tanya Genta seraya mengerutkan keningnya.


Jenny menghela nafas kasar dan duduk di hadapan Genta. "Lo manis dikit kek jadi cowok." Jenny cemberut.


"Buat apa? Lo kan bukan cewek gue. Gue gak mau manis-manis sama cewek lain. Nanti cewek gue cemburu." tutur Genta tanpa menoleh pada Jenny.


"Kali ini apa? Masih tentang Bagas?" tanya Genta. Mata Jenny berbinar mendengar nama Bagas di sebut. Wanita itu menganggukkan kepala cepat.


"Nantilah. Gue lagi gak ada waktu." jawab Genta. Jenny mendesah lelah. Ia pun segera berlalu dari ruangan Genta.


Genta menatap punggung Jenny hingga pintu ruangannya tertutup. Genta hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sekertaris tuannya sekaligus temannya itu. Genta kembali melakukan pekerjaannya.


••••••••••••


Mereka menuju meja yang telah di tempati oleh Bagas. Bagas sendiri terkejut melihat keberadaan Jenny. Jenny tersipu. Ia memilih duduk di depan Genta. Sementara Genta, duduk di samping Bagas. Mereka makan sambil berbincang-bincang dan tertawa.


Saat tengah menyantap makan siangnya, ponsel Genta berbunyi. Ia pun mengambil benda pipih itu dari saku jasnya dan melihat nama pemanggil. Ia tersenyum melihat nama yang terpampang itu. Tanpa ragu, ia menggeser tombol jawab.


"Halo cantik..." Jenny dan Bagas saling pandang. Baru kali ini mereka mendengar Genta memuji seseorang meski melalui telepon. Siapa? pikir mereka.


"..."


"Jadi, kamu jadi ke ibukota ya?"


"..."


"Ok. I Miss you." Genta menutup panggilan itu. Wajahnya masih menampilkan senyum manisnya.


"Cewek Lo pasti." tebak Bagas. Genta mengangguk.


"Dih... Baru ini gue denger Lo ngomong kaya begitu. Gak cocok banget." ejek Jenny.


"Bilang saja Lo iri gak pernah gue bilang cantik." Genta balas mengejek Jenny.


"Ogah gue Lo panggil begitu." Jenny mengendikkan bahunya.


Kalau Bagas yang manggil sih, gue dengan senang hati. batin Jenny.


"Lo ngarep si cowok super jutek ini yang ngomong begitu kan?" Jenny gelagapan.


"Tunggu hatinya dia terbuka baru dia bakal lihat Lo." Bagas menatap Genta tajam.


"Ayo Jen, setelah ini kita ada rapat." Genta membereskan bekas makannya.


"Kalian sibuk banget sih." gerutu Bagas.


"Lo masih mau di temani gue atau Jenny?" Jenny menatap tak percaya pada Bagas. Namun Bagas, terdiam dan akhirnya membuang pandangannya.


"Gue duluan ya." Genta dan Jenny segera kembali dan menyiapkan berkas-berkas untuk di bawa oleh mereka.


Tinggallah Bagas yang hany menatap mereka hingga tak lagi terlihat. Ia mendesah pelan. Kemudian, membereskan bekas makannya dan kembali ke ruangannya.


Genta benar-benar bikin gue nervous. Gue kan pengen curhat, kenapa dia malah bawa Jenny buat makan bareng. Jadi saja gue ga jadi curhat. Hah.....batinnya. Bagas kembali mengerjakan pekerjaannya.


Jenny dan Genta segera membereskan berkas-berkas yang akan di bawa. Setelah semuanya siap, Genta mengetuk pintu ruangan Presdir dan mengingatkannya jadwal meeting.


Setelahnya, ketiganya menuju lift dan berjalan menyusuri lobi Wijaya Group. Mereka keluar dari Wijaya Group bersama dan menuju gedung Gold Furniture untuk melakukan meeting.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai-hai readers tersayang. Terimakasih buat kalian yang masih mendukung novel ini. Terimakasih banyak juga buat pihak NT yang sudah membuatkan cover untuk novelku.


Jujur, sebelumnya aku gak punya cover yang pas buat novel ini. Mudah²an cocok ya dengan isi novel.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. Like👍, dan komen🗯️nya.


Hari ini gak punya ide buat bikin judulnya. Jadilah hanya di tulis part... Tak apalah.


Thank you all...


I Love you so much..😘😘


Happy reading....