
Mentari bersinar cerah pagi ini. Burung-burung pun berkicau merdu menyambut hari yang baru. Namun, hal itu tak membuat Sofia bersemangat layaknya alam menyambut.
Sofia tengah termenung memikirkan ucapan Bram dan Brian kemarin. Sudah sejak malam ia memikirkannya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya ini, tengah mengalami dilema. Bagaimana tidak, setelah sekian lama ia menikmati hidup tanpa pria di sampingnya, tiba-tiba saja Bram memintanya kembali.
Flashback
Sofia tengah sibuk menyiapkan beberapa desain pakaian untuk pelanggannya. Gambar itu sudah selesai di buat. Pelanggan pun menyukai rancangan yang masih berbentuk sketsa itu.
Sofia berjalan menuju tempat penjahit yang akan menjahit rancangannya. Ia tak membawa ponselnya. Di ruangannya, ponselnya terus berdering beberapa kali.
Setelah ia selesai memberikan rancangannya pada penjahit, Sofia kini duduk di meja kerjanya. Ia belum memegang ponselnya sama sekali.
Mendekati waktu pulang, semua pekerjaan Sofia sudah selesai. Disaat tengah merenggangkan otot-ototnya yang lelah, ponselnya kembali berdering. Sofia melihat nama pemanggil itu. Wanita itu mengangkatnya.
Setelah berbasa-basi, Brian menyampaikan maksud hatinya menghubungi Sofia.
"Ma, mama mau kan kembali ke rumah papa?" ucap Brian.
Sofia tak bisa menjawabnya. Dengan segera ia mematikan telepon itu.
Malam harinya, ketika Sofia dalam perjalanan kembali ke rumahnya, tiba-tiba saja Bram sudah menunggunya di depan jalan. Sofia menghentikan mobilnya dan menghampiri Bram.
"Mas, kenapa di sini?" tanya Sofia. Bram menatap Sofia dengan tatapan penuh cinta.
"Sofia...." kata-kata yang sudah tersusun dalam benaknya tak bisa terucap. Sofia masih menunggu.
"Mas.." panggil Sofia. Bram masih terdiam dan menatap manik coklat milik Sofia. "Kita ngomong di rumah saja ya." ajak Sofia. Baru saja Sofia berbalik, Bram memegang jemarinya.
Sofia berhenti dan membatu. Ini, kontak fisik pertema mereka setelah tujuh belas tahun berlalu. Ada perasaan yang tak mereka duga mengalir hingga menyentuh dasar hati mereka.
Jantung Sofia berdegup kencang. Begitupun dengan Bram. Rasa yang mereka kira sudah berakhir, entah mengapa kini kembali merasuk jiwa mereka.
"Sofi, kembalilah. Ayo pulang ke rumah kita. Rumah yang kita bangun bersama." Sofi berbalik dan menatap Bram.
Ada kesungguhan yang terpancar dari mata pria paruh baya itu. Pria, yang pernah merajai hatinya. Pria yang pernah mengisi hari-harinya. Sayangnya, pria itu juga yang menyakitinya.
Tanpa terasa, air mata membasahi pipinya. Sofia menarik tangannya dan masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu memutuskan untuk pergi tanpa menjawab pertanyaan dari pria itu.
Flashback off
Sofia menghembuskan nafas kasar berkali-kali. Ia merasa bingung dengan permintaan anak yang di cintainya itu. Meski bukan anak kandungnya, Sofia sangat menyayanginya.
Sofia memutuskan tak berangkat bekerja. Pikirannya terlalu kacau untuk di ajak bekerja. Hingga menjelang siang, Sofia mencoba menyibukkan diri dengan membuat berbagai macam masakan.
Dewi yang baru pulang dari sekolah, membulatkan matanya menatap meja makan. Tidak seperti biasanya pikirnya. Hari ini, mama nya ada di rumah dan memasak berbagai makanan enak.
"Kok tumben mama gak kerja?" Dewi menghampiri mama nya dan mencium punggung tangannya.
"Mama lagi gak konsen." jawabnya.
"Mama pasti lagi ada yang di pikirkan." Dewi yang mengetahui sifat sang mama langsung menebak. Sofia hanya menganggukkan kepala.
"Kita makan yuk. Tapi kamu ganti baju dulu ya." Dewi hanya mengangguk dan berlalu menuju kamarnya.
Lima menit kemudian, Dewi sudah kembali ke meja makan. Mereka makan dalam diam. Usai makan, seperti biasa Dewi akan membantu mbok Narti membereskan meja makan.
Sofia sendiri segera menuju kamarnya. Selesai membantu mbok Narti, Dewi mengetuk pintu kamar sang mama.
Tok... Tok... Tok...
"Ma." panggil Dewi.
"Masuk sayang." Dewi pun masuk dan menutup pintu. Ia mendekati mamanya dan memeluknya.
"Mama kenapa? Cerita dong sama Dewi?" Dewi sudah tidak tahan untuk bertanya.
Sofia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Kakak kamu minta mama kembali ke rumah papa." Sofia hanya mengatakan permintaan Brian padanya.
Dewi terkejut. Reaksinya sama seperti Sofia. Dewi tak bisa berkata-kata.
"Jadi, mama bilang apa sama kak Brian?" Sofia hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa mama mau kembali ke rumah papa?" tanya Dewi penuh selidik.
Sofia menghela nafas kasar. Ia sendiri tidak tahu jawabannya. Jauh di dasar lubuk hatinya, Sofia ingin kembali mereguk manis hidup dengan Bram.
Mas, jauh di dasar lubuk hatiku, aku ingin kembali. Tapi, bolehkah aku egois? Bolehkah aku memiliki mu seorang? Aku tidak ingin berbagi dirimu. Tapi Rianti sudah memberikanmu dua orang anak. Apalah artinya aku untukmu. Bukankah ini sudah lebih baik? Lepaskanlah aku. Kita jalani hidup ini masing-masing.
Brian, maafkan mama nak. Kamu tidak perlu tahu masalah yang sebenarnya. Mama tidak ingin kau ataupun Dewi terluka. Bagaimanapun, mama ini egois. Mama hanya memikirkan diri mama sendiri. Mamamu dan papamu sudah bahagia tanpa kehadiran mama. Jadi, tolong lupakan keinginanmu.
Dewi, maafkan mama yang tak bisa memberikanmu keluarga yang utuh. Maaf, karena keegoisan mama, kamu menjadi korban. Maaf nak. Mama sangat menyayangimu. Semua itu, hanya bisa di ucapkan ya dalam hati.
Sofia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dewi menyadari pergolakan batin mamanya. Di saat air mata mengalir membasahi pipi Sofia, Dewi menghapusnya dengan jemarinya.
"Mama jangan nangis. Dewi akan dukung apa pun keputusan mama." Sofia semakin terisak. Ia semakin merasa bersalah pada putri semata wayangnya.
Mereka berpelukan. Mbok Narti yang tak sengaja mendengar pembicaraan Sofi dan Dewi, ikut menitikkan air matanya.
Bagaimana tidak, selama ini, mbok Narti sangat tahu betapa dalam kerinduan yang tersimpan di hati Nyonya nya itu. Wanita yang sudah berusia senja itu, sudah melayani Sofia sejak Sofia dan Bram memasuki rumah mereka dua puluh tujuh tahun yang lalu.
Wanita itu adalah saksi, betapa Sofia sangat mencintai Bram dengan setulus hatinya. Bahkan, bagaimana Sofia merasa sakit hati pun, ia tahu.
Mbok Narti menutup rapat kembali pintu kamar Sofia. Ia menghapus air matanya dan masuk ke kamarnya.
Dua jam kemudian, Dewi mengajak mamanya berjalan-jalan di taman. Ia ingin, mamanya kembali semangat menjalani harinya seperti biasa.
Mereka berjalan-jalan dan bersenda gurau. Sofia begitu menyayangi Dewi. Apa pun akan dia lakukan untuk kebahagiaan Dewi. Kecuali, kembali tinggal bersama papanya.
๐๐๐๐
Hai para readers ku tersayang....
Terimakasih masih menunggu aku up.
Setelah beberapa kali โtulis, hapus ceritaโ aku memutuskan, cerita ini yang akan aku up.
Terimakasih buat kalian semua.
Boleh dong, ๐, ๐ฏ๏ธ, ๐นnya.
Hehehe.....
Thank you all..
Love you so much ...๐๐๐๐