
Jasmine tiba di restoran. Ia tidak tahu seperti apa wajah ibu dari Brian. Ia memasang wajah polosnya.
Yang mana ya? Aku lupa tanya ayah tadi. gumamnya.
"Maaf nona, apa nona bernama Jasmine?" tanya seorang pelayan yang menghampirinya.
"Iya benar." jawabnya.
"Silahkan ikut dengan saya." Jasmine mengikuti pelayan itu.
Jasmine yakin, pelayan itu pasti sudah diminta menunggunya. Mereka tiba di meja tempat Sofi menunggu.
Sofia, menampilkan senyum manis pada Jasmine. Jasmine menatap kagum pada wanita di hadapannya. Ia dim tak bergerak, matanya pun tak berkedip memandang Sofia.
Ayah benar. Wanita ini jauh lebih cantik dari Tante Rianti. Usianya pasti sudah mencapai lima puluh. Tapi, tidak terlihat sedikitpun.
"Nona, apakah kau Jasmine?" Sofia mendekati Jasmine dan menyentuh bahunya.
"Ah... Iya Tante.... Perkenalkan... saya.... Jasmine.." ucapnya terbata. Jasmine baru saja tersadar dari lamunannya.
Jasmine bersikap manis di hadapan Sofi. Jasmine ingin membuat Sofia menyukai dirinya.
"Ayah bilang, Tante ingin bertemu saya?" tanyanya.
"Iya. Tante ingin tahu, seperti apa gadis yang menyukai Brian." Sofia menatap Jasmine.
"Tidak buruk. Tapi maaf ya sayang, Tante tidak suka dengan perjodohan." seketika Jasmine merasa di tolak.
"Apa Tante menolak saya?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak. Bukan begitu." sanggah Sofia.
"Begini, Tante ingin Brian menikah dengan orang yang di cintainya. Karena, Tante ingin dia bahagia. Jika dia menikah karena cinta, rumah tangga yang di jalani akan harmonis." tutur Sofia.
"Tante, saya sangat mencintai Brian." lirih Jasmine. Ia bahkan sudah terisak.
"Tante tahu sayang. Tapi jika hanya kau yang mencintainya, hubungan kalian tidak akan lama." Jasmine menghapus airmatanya.
"Tante benar. Sejak dulu, aku sudah mencintai Brian. Tapi, Brian tak pernah melihat padaku." ucapnya sendu.
"Sebaiknya, kita makan dulu." Jasmine mengangguk patuh.
Mereka pun makan dalam diam. Jasmine mencoba menikmati makanannya dan berusaha bersikap biasa. Ia menyimpan kemarahannya dan mempertahankan wajah polosnya.
Sofia bisa melihat, jika Jasmine tengah menahan dirinya. Kontrol diri yang bagus. Tapi sayang, wajah arogan dan dominannya sangat terlihat jelas. Jika kau bersama Brian, maka bisa di pastikan, Brian akan kau buat tunduk. batinnya.
Sesekali, Sofia menatapnya dengan ekor matanya. Ia membuat, seakan Jasmine tidak di tolak olehnya. Meskipun sejak awal, Sofia sudah jelas menolak.
Dia bukan gadis yang cocok. Masih lebih bagus gadis yang di tolong Brian saat itu. Masih terlihat hatinya yang murni dan jujur. Tapi, gadis ini harus di buat jera agar tidak mengganggu Brian lagi.
Mereka selesai makan. Sofia kembali tersenyum pada Jasmine. "Ceritakan pada Tante, sejak kapan kau menyukai Brian?"
"Sejak usia kami masih enam atau tujuh tahun Tante." jawabnya malu-malu.
Sofia ternganga mendengar jawaban Jasmine. Detik berikutnya, Sofia tersadar dan tersenyum.
"Bagaimana bisa?" tanyanya.
"Saat itu, aku melihatnya sering duduk sendiri di sekolah."
"Kalian satu sekolah?" Jasmine mengangguk.
"Lanjutkan."
"Lalu, aku mendekatinya dan mengajaknya bermain. Awalnya dia tidak mau, tapi aku terus mencobanya. Hingga akhirnya dia mau bermain denganku." wajah Jasmine terlihat berbinar menceritakan masa lalu.
"..." Sofi masih mendengarkan.
"Tapi, om Bram tidak mau menjodohkan kami." wajahnya kembali terlihat sendu.
"Alasan om Bram sama seperti Tante. Jika kalian di jodohkan, maka besar kemungkinan Brian akan menyakitimu." Jasmine pun akhirnya paham, jika Sofi dan Bram, tidak ingin Brian menyakiti hati wanita.
"Sekarang aku tahu Tante." Jasmine tersenyum.
"Tapi, jika di jodohkan sekarang, tidak masalahkan Tan?" dia masih mencoba meluluhkan hati Sofi. Sofi tersenyum lembut.
"Tidak sayang. Sudah Tante katakan, biar Brian yang menentukan jalan hidupnya." Sofi menggenggam lembut jemari Jasmine.
Jasmine menggeram dalam hati. Ia mengumpat dan memaki Sofi hanya di hatinya. Ia terus memaksa untuk tersenyum pada Sofi.
Tiba-tiba, Genta dan Dewi menghampiri meja mereka. Genta yang tengah mengajak Dewi makan malam bersama, tidak sengaja melihat keberadaan Sofi. Namun, mereka tidak bisa melihat gadis di depan Sofi. Pada akhirnya, mereka memutuskan menghampiri Sofi.
"Ma..." sapa Genta dan Dewi bersamaan.
Jasmine dan Sofia menoleh pada sumber suara. Melihat Dewi dan Genta, Sofia berdiri dan menyambut mereka. Jasmine ikut berdiri.
Ini pertemuan keduanya dengan dewi. Saat pertunangan dulu, Dewi terlihat cantik dan glamor. Namun kali ini, ia terlihat sederhana dan biasa saja.
Jasmine merendahkan Dewi dalam hati. Namun Dewi bisa melihat dan merasakannya dari tatapan Jasmine.
"Mama sedang apa?" tanya Genta. Dewi menatap Jasmine tak suka.
"Bertemu dengan gadis yang menyukai Brian." jawabnya.
"Mama hanya ingin mengenalnya. Semua keputusan, tetap ada pada Brian." ucapnya menjawab pertanyaan yang timbul dari mata Genta dan Dewi.
"Kalian lanjutkan saja kencan kalian." Sofia mempersilahkan.
"Kalau begitu, kami duluan ya ma." pamit Genta.
"Ayo sayang." ajak Genta.
Mau tidak mau, Dewi memutus tatapan tidak sukanya dan berpamitan pada Sofia. Genta mengajaknya keluar dari restoran itu.
"Kenapa kita gak bareng mama saja kak?" tanya Dewi.
"Sayang, mama sedang menilai gadis itu. Dan kamu harus tahu, mama juga pasti sedang memikirkan sebuah rencana agar gadis itu menjauh dari Brian dengan sendirinya." tutur Genta.
Dewi menghembuskan nafas lega. Ia benar-benar tak suka dengan gadis itu. Terlihat jika gadis itu sedang berpura-pura di hadapan mamanya.
Sofi mempersilahkan Jasmine duduk kembali. Setelah puas berbincang, dan memberi nasihat, Sofi menyuruh Jasmine pulang.
"Sudah malam, sebaiknya kau segera pulang. Tidak baik bagi seorang gadis pulang terlalu malam." ucapnya.
Jasmine menatap tak percaya pada wanita di hadapannya. Ia tak pernah di usir seperti ini. Sungguh, Jasmine semakin geram.
"Iya Tante." Jasmine merapihkan tasnya dan berdiri.
"Kalau begitu, saya pamit ya Tan." Jasmine langsung berbalik. Wajah arogan itu kembali.
Jasmine menahan marahnya dan hanya mengetatkan rahangnya. Matanya di penuhi oleh kilat kemarahan.
Di mobil, Jasmine segera memukul stir mobilnya berkali-kali. Mulutnya mulai menyumpah dan berkata kasar. Ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Ayah benar, wanita ini tidak mudah di hadapi. Tenang Jasmine. Kau harus bisa membuat Brian bertekuk lutut padamu. Setelah itu, kau bisa singkirkan semua orang yang tidak kau suka." gumamnya sendiri.
Nafas Jasmine masih tersengal-sengal akibat menahan amarah. Ia mencengkeram stir mobilnya dengan kuat. Matanya pun menyorot tajam.
"Sofia.... Kau hanyalah ibu tiri. Aku akan memanfaatkan Tante Rianti untuk mendukungku. Tunggu saja nanti." seringai jahat muncul di wajah Jasmine.
Apakah yang dirasakan Jasmine sungguh rasa cinta, atau justru hanya sebuah obsesi belaka? Siapa yang akan membuatnya menjauhi Brian? Bisakah Brian lolos dari kegilaan Jasmine?