
POV Genta
Setelah kejadian aku dan Dewi yang bertemu dengan mama Sofi dan nona Jasmine, aku dan Dewi pergi makan ke tempat lain.
Dewi menilai, jika gadis bernama Jasmine itu punya sisi lain yang tersembunyi. Ia menyampaikan ke khawatirannya tentang Brian padaku.
Rupanya, gadis ku tetaplah gadis manis yang penuh cinta. Meski dirinya masih terlihat membenci Brian kakaknya, rasa sayangnya tetap ada dan ia sembunyikan.
Aku mengerti bagaimana perasaannya. Pasti sangat sulit, membenci orang yang masih memiliki darah yang sama dalam tubuh kita.
Malam ini, aku mendatangi Bagas sahabatku. Sengaja aku memilih ke rumahnya, agar tidak ada yang curiga. Jika di kantor, aku tidak leluasa karena Jenny pasti akan mengikuti ku untuk bisa mendekati pria ini.
"Bro, gue mau minta tolong sama lo. Tapi ini rahasia." ucapku begitu berhadapan dengan Bagas.
"Serius banget kayanya?!" serunya.
"Lo benar. Ini masalah bos besar kita." ku lihat Bagas mengangguk. Wajahnya pun ikut berubah serius.
"Ada apa?" tanyanya.
Aku pun mulai menceritakan masalah Jasmine yang mencoba mendekati Brian. Hingga Brian hampir melakukan kesalahan. Saat itu, beruntung Brian bisa mengontrol dirinya. Jika tidak, sudah di pastikan masa depan Cindy yang hancur.
Setelah Bagas mendengar ceritaku, ia mulai beranjak ke kamarnya dan mengambil laptop miliknya.
"Oke, gue akan bantu Lo. Apa yang bisa gue bantu."
"Gue minta tolong Lo masuk dalam data base perusahaan Future Furniture. Cek data keuangan mereka. Ingat semua." dia terlihat mengacungkan kedua ibu jarinya.
Ku lihat jarinya mulai menari dengan indah di atas keyboard laptopnya. Aku sudah memikirkan banyak rencana. Namun, hanya rencana ini yang masuk akal. Aku harus tahu, kenapa Jasmine sangat bersikukuh untuk bersama Brian?
Sama halnya dengan ayahnya. Meski mereka belum menjalankan rencananya, aku harus bisa menyerang mereka lebih dulu.
Tidak tahu sudah berapa lama aku berkutat dengan pikiranku, dan Bagas dengan laptopnya. Aku terkejut saat Bagas bersorak girang.
"Gotcha...." wajahnya terlihat berbinar.
Aku menatap pada laptopnya. Aku tak bisa mengerti dengan semua pemrograman itu.
"Ini apa?" tanyaku.
"Ini adalah data keuangan perusahaan itu. Biar gue jelasin." Bagas mulai menjelaskan.
Dia mengatakan, jika perusahaan yang di pimpin Jasmine tengah mengalami kesulitan keuangan. Perusahaan itu mengalami 'pailit'. Aku pun mulai mengerti.
Jadi, Jasmine ingin Brian membantunya. Tapi, tanpa pengembalian dana. Itulah sebabnya ia begitu ingin menikah dengan Brian. Selain cinta, ada harta yang melatar belakangi nya.
Kecurigaan ku benar. Ada maksud lain dari niat Jasmine. Aku pun mulai memberitahu Bagas rencana ku. Ya, hanya dia yang bisa ku percaya. Setelah aku menemukan, salah satu anak buah ku berkhianat.
"Lo ngerti kan maksud gue?" tanyaku setelah menjelaskan rencana ku.
"Oke. It's time to show.." kami saling pandang.
Pagi harinya, saat tiba di ruangan ku, aku mengambil amplop yang sudah ku siapkan beberapa hari yang lalu. Aku masuk ke ruangan calon kakak ipar ku itu dan menyerahkannya.
"Apa ini?" ku lihat dahinya berkerut dalam setelah membuka amplop itu dan membaca isinya.
Kulihat dia menghela nafas berat dan memijat pelipisnya. "Tenang saja pak, saya sudah menyiapkan seorang asisten yang bisa anda andalkan." dia mengangkat kepalanya menatapku.
Tak lama, pintu ruangan di ketuk. Aku membukanya dan melihat Bagas. Aku mempersilahkannya masuk dan memperkenalkan nya pada Brian.
Brian pun terlihat pasrah melepasku.
Oke. Rencana pertama berhasil. Aku yakin, Jasmine pasti akan mulai menjalankan rencananya. Permainan baru saja di mulai.
Bagas pun sudah mulai memasang CCTV dalam ruangan Brian dan di mobil. CCTV di mobil, di pasang khusus. Alat penyadap pun sudah di pasang. Begitupun GPS. Bagus, aku mulai mengawasi. Karena semua itu, di sambungkan ke ponselku dan ponsel Bagas.
Rencana ku berjalan dengan mulus. Seminggu pertama, aku mulai melihat Brian terbiasa dengan kerja Bagas. Kelihatannya mereka cukup cocok. Syukurlah, aku bisa bernafas lega sekarang.
Beberapa hari ini, aku mulai melihat Jasmine sering datang ke gedung Wijaya Group. Aku melihatnya selalu menggoda Brian. Meski dengan pakaian yang terlihat minim, Brian tak tergoda.
Wah, aku mulai berpikir calon kakak ipar ku ini
homo. Di suguhkan pemandangan seperti itu, tidak membuatnya melakukan hal jahat pada gadis itu. Justru Brian membentaknya dan menasihatinya. Oke, penilaian ku berubah. Dia pria yang sopan.
Kali ini Jasmine datang lagi dengan pakaian yang cukup sopan. Tapi Brian tak menggubrisnya. Entah seperti apa selera dari calon kakak ipar ku ini? Aku sendiri tak tahu.
Baiklah, sepertinya Jasmine tengah mengambil hati Brian dengan perlahan. Jadi, dia bermain santai. Atau adakah yang tahu rencana ku?
Tidak, aku sangat yakin tidak ada yang tahu kecuali Bagas. Karena aku sudah tahu ada Rendy, salah satu anak buah ku yang membelot. Jadi aku merahasiakan ini.
Sudah hampir satu bulan aku menunggu, sepertinya mereka benar-benar belum menyerang. Baik, kalau begitu, ayo kita serang lebih dulu. Aku bosan menunggu.
Aku menghubungi Bagas untuk menyusup lagi dalam data base keuangan perusahaan Future Furniture. Bagas yang mengerti maksudku mulai melakukan tugasnya.
Bagus, umpan sudah tersebar. Kini tinggal menunggu ikan menyambar umpan itu. Ternyata tidak butuh waktu lama bagi si ikan melahap umpan itu. Mereka mulai melakukan gerakan.
"Ayah, kondisi perusahaan semakin menurun. Bagaimana ini?" kudengar suara Jasmine yang menghubungi ayahnya.
Ya, tidak hanya ponsel Brian yang ku sadap, ponsel Jasmine pun sudah dalam kendaliku. Jasmine terdengar sangat panik.
"Tenang jangan panik. Kita sudah harus melanjutkan rencana. Kau tenang saja. Ayah pasti akan membantumu."
Bagus sekali ini baru seru. Aku merenggangkan ototku yang mulai terasa kaku. Lagi, terdengar suara. Kali ini, suara Rendy dan Daniel. Aku tersenyum puas. Rupanya, sekali dayung, semua bisa ku lampaui.
"Rendy, aku akan atur makan malam bisnis dengan Brian. Kau buat, agar Genta atau anak buah lainnya tak ada yang mengikuti atau tahu. Aku harus membuatnya menikah dengan Jasmine."
Oh.... Sungguh ayah yang licik. Mengajarkan anaknya berlaku curang. Baiklah, ku terima tantangan ini. Ayo Genta, kau bisa. Bagas mulai memberitahuku rencana makan malam itu. Ku katakan padanya untuk mengiyakan.
Maaf Brian, kau harus sedikit menderita untuk merasakan kebahagiaan. Inilah caraku melindungi mu.
Aku sudah memilih menjadi pengawal mu, jadi aku tidak ingin bekerja setengah-setengah. Sampai akhir, aku akan tetap melindungi diri mu.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Happy reading..
Jangan lupa like, dan komennya ya ... Terimakasih....
Love you all