My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Pulang



Hampir setiap hari, Cindy selalu di buat geram oleh tingkah Brian. Entah mengapa, bosnya itu kini selalu berusaha mendekatinya. Genta dan Bagas pun tak habis pikir. Mereka tidak tahu apa yang di pikirkan Brian.


"Lo ngerasa ada yang aneh gak sih sama bos?" tanya Bagas. Genta hanya mengangguk. Sama halnya dengan Bagas, Genta memang merasa ada yang janggal dengan sikap Brian.


"Kalau gue gak salah ingat, ini terjadi setelah pertemuan bos dengan mantan pacarnya itu." Bagas mengangguk menyetujui.


"Di ruangan bos, kita taruh CCTV tersembunyi gak?" tanya Genta.


Bagas mengernyitkan dahinya mencoba menggali ingatannya. Bagas pun segera mengambil laptop dan mencoba mencari apa yang di carinya.


"Gotcha...." pekiknya senang. Ketika ia menemukan kamera yang di carinya itu.


Jarinya segera menari indah di sana. Bagas mencoba membuka gambaran kejadian dua Minggu yang lalu.


Benar saja, rupanya Patricia meletakkan sesuatu yang luput dari pandangan Genta saat ada di ruangan itu juga. Mungkin hal itu terlihat oleh Brian.


Tapi, kenapa dia tidak memberitahuku? batinnya.


"Bos gak ngomong apa-apa sama Lo?" Genta menggeleng.


Genta menepuk dahinya. Entah mengapa ia bergegas lari meninggalkan Bagas di pantry. Mereka memang tengah berada di pantry menyeduh kopi saat itu.


"Woy mau kemana Lo?" teriak Bagas. Genta tak menjawab dan terus berlari.


Melihat itu Bagas hanya menaikkan bahunya tak mengerti. Ia pun membawa gelas kopi miliknya ke dalam ruangannya. Saat ia melewati lift, ia melihat Patricia lagi.


Wah, musuh kembali. batin Bagas.


Bagas melangkah cepat menuju meja Jenny yang terdekat. Meletakkan gelas kopi dan laptopnya di sana, kemudian menghubungi seseorang. Jenny terbengong melihat hal itu.


"Kamu kenapa mas?" tanyanya. Bagas menaruh telunjuknya di bibirnya. Memberi tanda untuk tidak mengajaknya bicara dulu. Jenny pun diam.


"Musuh." ucapnya pelan saat panggilan itu tersambung. Setelah satu kata itu terucap, Bagas mematikan telepon.


Patricia tiba di belakang Bagas. "Selamat siang." sapanya lembut.


"Siang." jawab Bagas dan Jenny bersamaan.


"Brian ada kan?" tanya Patricia lagi.


"Nona sudah buat janji?" tanyanya. Pasalnya, bagian loby tak menghubunginya jika ada tamu yang ingin bertemu Brian.


"Sudah." Jenny menyangsikan itu. Ia pun menghubungi Brian.


Setelah memastikannya, Jenny bangkit berdiri dan akan berjalan ke pintu ruangan Brian. Tepat saat itu, Cindy pun sudah mendorong pintu Brian lebih dulu.


Mereka menatap Cindy dan saling melempar pandangan. Kemudian Jenny tersadar dan mengantar Patricia ke ruangan Brian.


Jenny kembali ke luar. "Gimana?" tanya Bagas.


"Apanya?" tanyanya bingung.


"Apa mereka berc***** seperti waktu itu?"


"Aduh..." Bagas mengusap pundaknya yang di pukul Jenny.


"Kok kamu mukul aku?" tanyanya.


"Ngapain nanya begitu? Jangan kepo-kepo sama urusan orang." ucap Jenny kesal.


Genta tiba dengan nafas terengah-engah. Ia terlihat kesal. "S*** kita kecolongan." ucapnya.


"Nanti saja. Musuh ada di dalam." Genta bergegas mendekati ruangan Brian, namun terhenti karena ucapan Bagas selanjutnya.


"Ada Cindy di dalam." Genta berbalik menatap Bagas.


"Maksud gue, Cindy dan mantan pacar bos ada di dalam bersama." Genta pun mendekati Bagas kembali.


Sesaat sebelum Genta menjawab, Patricia keluar lebih dulu dari dalam dengan raut wajah kecewa. Refleks, Bagas dan Jenny berpura-pura bekerja. Genta ikut memainkan sandiwara itu.


Setelah Patricia berlalu, Bagas membuka rekaman CCTV di ruangan Brian. Benar saja, Patricia sempat terlibat adu mulut dengan Brian. Tapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Genta mulai memikirkan sebuah rencana untuk membuat Patricia mundur secara teratur dan menjauhi Brian. Tapi mereka harus mencari tahu maksud patricia lebih dulu.


Setelah tiga puluh menit, Cindy pun keluar. Genta mengikuti langkah Cindy.


"Mau ngapain?" tanyanya seakan tahu maksud Genta.


"Lo tahu saja." Genta menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Gue gak tahu bos punya masalah apa sama mantannya. Gue cuma dengar, kalau mantannya minta tolong bos untuk berpura-pura jadi kekasihnya. Cuma itu yang gue denger." tutur Cindy.


"Yakin cuma itu?" Cindy menatap Genta tajam dan melipat tangannya di d***.


"Oke. Gue percaya." ucap Genta takut-takut. Ia tersenyum kaku.


Rupanya, jika seorang wanita tengah marah, pria pun tak bisa berkutik.


••••••••


Hari yang dinanti Kinanti pun tiba. Rianti sudah tak bisa membujuk putrinya lagi. Apalagi ia baru tahu jika Bram sudah mengurus semua sendiri.


Mereka bergegas menuju bandara. Kinanti merasa sangat senang akan kembali ke ibukota. Ia akan kembali merasakan indahnya bersama keluarga.


Penerbangan yang cukup lama, membuat Kinanti mengalami jetlag. Tiba di kediaman Wijaya, ia memilih tidur sepanjang hari.


Brian mengetahui kedatangan adiknya, sengaja masuk kedalam kamarnya dan menggodanya. Ia melihat Kinanti tidur dengan pulas nya.


"Pulang-pulang malah tidur. Bangun." Brian menarik selimut Kinan.


"Kakak..." teriak Kinan dengan suara khas orang bangun tidur.


"Aku capek tahu." rajuknya.


"Emang gak kangen sama kakak?" tanyanya. Kinan kembali memejamkan matanya.


"Kangen..." ucapnya manja dengan mata yang masih terpejam.


"Peluk dong." Brian merentangkan tangannya.


"Gak mau. Kakak bau." ucap Kinan ketika melihat Brian masih menggunakan pakaian kerjanya.


Brian pun mulai menggelitik Kinan. Mereka bercanda ria. Rianti tersenyum melihat keakraban kedua anaknya.


Ia pun kembali turun ke bawah. Saat kakinya menapaki anak tangga terakhir, ia melihat Bram yang menatapnya tajam. Seketika wajah Rianti berubah pias.


Bram kembali teringat tentang pernyataan Sofia beberapa bulan lalu. Bram ingin memastikan, jika bukan Rianti pelaku yang dengan sengaja menjauhkan dirinya dari Dewi putrinya.


Meski pada kenyataannya, hanya Rianti yang berpeluang melakukan itu. Bram tidak bicara dan melangkah ke ruang kerjanya. Rianti pun tak menyapanya.


Bram berjalan mondar-mandir. Menimbang-nimbang untuk menginterogasi Rianti. Haruskah ia mencurigainya? Tapi, jika bukan dia siapa lagi yang bisa melakukan hal itu? Hanya Rianti yang memiliki potensi itu.


Perlahan, ia keluar dari ruang kerjanya dan mencari Rianti. Ia mencarinya ke dapur, namun Rianti tak ada. Ke ruang tamu pun tak ada. Kembali ia menuju taman. Taman yang di buat oleh Sofia dan diteruskan oleh Rianti.


Rianti tengah duduk termenung di sana. Menatap semua bunga yang di tanam dan di rawat dengan baik.


"Kau di sini?" ucap Bram.


"Hmmm.." gumam Rianti tanpa menoleh pada Bram.


Mereka sadar, beberapa bulan terakhir, hubungan mereka memang tak lagi harmonis. Tapi Bram sudah menetapkan hatinya. Ia akan segera mengakhiri semua kemelut ini. Ia pun tak ingin berlama-lama menyiksa batin Rianti. Karena jelas-jelas, cinta untuk Rianti tidak pernah ada.