
Genta terus mengawasi gerak gerik Jasmine CEO dari PT. Future Furniture. Sampai detik ini, tidak ada yang mencurigakan. Meski begitu, Genta tetap waspada menjaga bos sekaligus calon kakak iparnya itu.
Hingga pembangunan selesai, dan hotel di pulau B sudah di lengkapi dengan furniture yang terlihat mewah, masih belum terlihat hal yang mencurigakan.
Bahkan, saat pembukaan hotel, kehadiran Jasmine tidak juga menurunkan kewaspadaan Genta. Ia tetap berjaga-jaga.
Tanpa terasa, waktu terus bergulir. Bulan pun kini berganti. Undangan untuk pertunangan Dewi dan Genta sudah di sebar. Tidak banyak memang yang di undang. Hanya keluarga dekat, sahabat, dan beberapa petinggi perusahaan Wijaya Group serta rekanannya.
Dari perusahaan yang Sofia pimpin, hanya beberapa saja yang Sofia undang. Termasuk rekanan dari Hadinata Corp..
Dewi pun sudah menempati apartemen yang biasa ia tempati ketika liburan. Namun berbeda, kali ini, ia akan tinggal di ibukota dalam waktu yang cukup lama. Sama halnya dengan Kiara dan Puspa. Mereka, akan melanjutkan studi di ibukota.
Genta sendiri sudah membeli rumah dari hasil kerja kerasnya. Tidak terlalu besar, namun cukup untuk di tempatinya bersama kedua orangtuanya dan adiknya. Kini, dalam tahap renovasi.
Ia akan memberitahu hal ini nanti. Saat pesta pertunangannya selesai. Rasa bahagia, membuatnya menurunkan kewaspadaan terhadap Jasmine.
Moment ini pun tak di sia-siakannya. Rencana sudah tersusun rapi di benaknya. Tinggal melaksanakannya saja. Tidak percuma ia beberapa waktu ini bersikap biasa saja. Nyatanya, Genta dan tim pengawalnya memberikan celah.
(Tinggalkan Jasmine sejenak hingga saat rencananya di jalankan tiba)
Dewi dan Kiara tengah melakukan fitting gaun untuk acara pertunangannya. Dewi terlihat cantik dengan gaun berwarna putih tulang. Lengan tiga perempat dan panjang gaun di bawah lutut. Kulitnya yang putih semakin terlihat bersinar.
"Kamu cantik banget." mata Kiara terlihat berbinar memandang Dewi. Puspa yang mendengar ucapan Kiara, segera mengalihkan pandangannya pada Dewi.
"Ini kamu Wi? Sumpah, aku pangling loh." timpal Puspa.
"Apa lagi kak Genta ya. Pasti lebih pangling lagi." mereka tertawa bersama.
Selesai melakukan fitting, mereka menuju restoran untuk makan siang. Di sana, Genta dan Brian sudah menunggu.
Kiara melayangkan pandangannya mencari sang kakak. Dewi melihatnya lebih dulu. "Itu di sana." ucapnya.
Serempak mereka menuju tempat Genta dan Brian menunggu. Genta menyambut mereka dengan senyuman. Brian masih fokus dengan ponsel di tangannya.
"Sudah lama?" tanya Dewi.
"Baru sepuluh menit kok." jawab Genta.
"Cih, sepuluh menit baru." decih Brian. Genta mempedulikan ucapan Brian.
"Iya tahu, buat orang yang kasmaran mah, sepuluh menit itu gak berarti apa-apa." Brian mendelik kesal. Matanya kembali fokus pada ponselnya.
Dewi hanya tersenyum melihat kekesalan Brian. Mereka pun memesan makanan dan makan bersama. Genta mulai bertanya tentang rencana masa depan ketiga gadis itu. Lain halnya dengan Brian yang hanya mengamati tanpa berniat ikut dalam pembicaraan itu.
Sejak ia mengetahui semua kisah Sofia dan Dewi, ia merasa tidak ingin mendekati dirinya pada Dewi dan Sofia. Sesekali, Dewi melirik pada Brian. Terlihat jelas rasa bersalah dalam pancaran mata Brian.
Di saat pandangan mata Dewi dan Brian bertemu, buru-buru Brian menundukkan kepala arau membuang pandangannya. Dewi tidak bereaksi ataupun menegurnya.
Kehadiran Bram, bahkan seperti tidak ada di tengah mereka. Mereka tenggelam dalam dunia mereka sendiri.
Jam makan siang pun berakhir, mereka segera berpisah. Dewi dan teman-temannya kembali ke apartemen, sementara Brian dan Genta kembali kekantor.
••••••
Sore ini, di hotel Wijaya yang ada di ibukota, akan di langsungkan pertunangannya dan Genta. Sebenarnya, Sofia lebih memilih di sebuah restoran dan dengan keluarga inti saja. Namun, Bram memaksa untuk di adakan di hotel miliknya yang termegah di ibukota. Termasuk, diadakan besar-besaran.
Bram terlihat antusias menyiapkan acara pertunangan sang putri. Baginya, perhatian kecil ini tidak cukup untuk menebus kesalahannya di masa lalu. Masih banyak yang harus di lakukan Bram pada putrinya itu.
Dewi tidak mengerti harus bersikap seperti apa. Di satu sisi ia merasa senang dengan bentuk perhatian dari papanya. Namun di sisi lain, ia merasa tidak enak dan canggung. Hingga Sofia dan Genta meyakinkannya untuk menerima kebaikan Bram.
Genta pun sebenarnya merasa tidak enak dan terpaksa. Selain ia tak mengeluarkan dana sepeserpun, ia semakin tidak enak karena Bram sangat memaksanya. Bram sampai mengancamnya tidak usah menikah dengan Dewi. Genta pun memilih menuruti kemauan calon ayah iparnya itu.
Sore hari pun tiba, para tamu undangan sudah memadati ballroom hotel Wijaya. Hingga acara pun di mulai. Dewi dan Genta memasuki ruangan itu dan mengikuti semua rangkaian acara. Hingga acara tukar cincin berlangsung.
Tepuk tangan bergema di ruangan itu. Brian yang berdiri di sudut tersenyum melihatnya. Jasmine menghampirinya. Gadis itu hadir, karena termasuk tamu undangan.
"Kau, tidak berniat menikah?" ucapnya saat berada di samping Brian.
"Aku belum siap." Jasmine menatap Brian tak percaya.
"Apa karena Cia?" rahang Brian mengeras mendengar nama itu.
"Jangan sebut-sebut nama itu lagi." dalam hati, Jasmine tersenyum senang.
"Oke, sorry. Sebagai permintaan maaf dan sebagai temanmu, aku ingin bersulang." Jasmine memberikan gelas berisi wine pada Brian.
"Sorry aku tak meminum, minuman beralkohol." Jasmine membelalakkan matanya.
"What.... Seorang CEO sepertimu tak pernah mencoba minuman ini?" Brian hanya memandang tanpa minat.
"Cobalah, kau akan tahu nikmatnya." mata Brian memicing menatap Jasmine.
"Enyah kau dari hadapanku, jika kau terus memaksaku." geramnya.
"Oke-oke, aku salah." Jasmine memanggil pelayan lainnya.
"Kalau begitu, soda. Jangan katakan kau tidak meminum minuman bersoda juga." Brian ragu.
"Oh ayolah. Aku tulus ingin mengembalikan pertemanan kita dulu. Tidak ada maksud lain." tiba-tiba, salah satu pengawal mendekati Brian dan Jasmine.
"Maaf nona, tolong jangan memaksakan kehendak anda.
Genta memang mengutus anak buahnya untuk terus memantau Jasmine dan acara. Karena tidak mungkin baginya melakukan tugas, di saat dirinyalah yang tengah mengadakan acara.
"Aku tidak meracuni bos mu. Silahkan saja kau yang minum." tantang Jasmine.
Pengawal itu ragu. Namun, tak urung di cobanya juga. Memang tidak ada masalah. Brian pun menerima minuman bersoda itu.
Namun, disaat mereka lengah, gelas minuman Brian segera di beri sebungkus bubuk tanpa aroma dan warna. Bubuk itu pun cepat larut. Gadis itu, cukup lihai melakukannya tanpa ketahuan. Hingga hal itu tak membuatnya curiga.
Bram melambaikan tangannya memanggil Brian. Brian pun meninggalkan Jasmine sendiri dan menghampiri Bram yang memanggilnya.
Sial... umpatnya dalam hati.