
Keesokkan harinya, Genta tidak mengawal Brian seperti biasa. Pria itu hanya menyuruh salah satu anak buahnya saja yang mengawal Brian. Rasa kesalnya masih membara jika melihat wajah Brian.
Genta memutuskan menemui Sofia, calon mertuanya. Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, seharusnya saat ini Sofia tengah berada di Hadinata Corp..
Ia meraih kunci mobil yang di bawanya semalam, dari atas nakas samping tempat tidurnya. Semenjak pagi, Genta sebenarnya sudah rapih. Namun, ia tak jadi keluar dari kamarnya kala mengingat kejadian malam tadi.
Tiba di ruang makan, pria itu melihat adiknya belum berangkat kuliah. Ia mengernyitkan dahinya bingung.
"Kamu gak kuliah dek?" tanyanya seraya mendudukkan diri di samping adiknya itu.
"Aku libur." jawab Kiara santai seraya mengunyah sarapannya.
"Kakak kok tumben masih di rumah jam segini?" tanya Kiara.
Belum sempat Genta menjawab pertanyaan Kiara, pertanyaan serupa terlontar dari kedua orangtuanya. Genta tersenyum kaku.
"Genta ada urusan pak, Bu." jawabnya.
Ibu, bapak dan adiknya hanya menganggukkan kepala mengerti.
Usai sarapan, Genta berpamitan dan meninggalkan rumahnya. Ia melajukan mobil yang di kendarai nya menuju Hadinata Corp.. Setelah melewati kemacetan yang terkenal di ibukota, Genta pun tiba di Hadinata Corp. satu jam kemudian.
Ia menghampiri meja resepsionis. Tujuannya, ingin mengetahui secara pasti, apakah Sofia berada di ruangannya, atau tengah meeting dan lain sebagainya.
"Maaf mba, Ibu Sofia ada?" tanyanya sopan.
"Anda sudah membuat janji?" tanya resepsionis itu.
Genta mendengus kesal. Ditanya, malah tanya balik. pikirnya.
"Belum." jawabnya.
"Maaf, kami tidak bisa memberikan izin jika belum ada janji." Genta menatap kesal pada wanita di hadapannya.
Wanita itu menundukkan pandangannya. Genta baru akan melangkah pergi saat ada tepukan di pundaknya dari belakang. Ia menoleh dan mendapati Prasetyo di hadapannya. Senyum pun terukir di wajahnya. Ia mencium tangan pria itu. Bagaimanapun juga, Prasetyo adalah sahabat dari calon mertuanya dan juga orang yang lebih tua darinya.
"Kau ini, seperti dengan siapa saja." protes Pras.
"Bagaimanapun, om kan teman mama." jawab Genta.
"Terserahlah. Ayo, kau ingin bertemu Sofia kan?" Genta menganggukkan kepala.
Baru saja mereka melangkah, Pras berbalik dan menatap wanita yang bertugas di meja resepsionis itu. Wanita itu kembali menundukkan pandangannya. Ia tahu, kali ini ia sudah melakukan kesalahan.
"Pertahankan kinerjamu. Oh iya, untuk pria ini, biarkan dia bertemu dengan CEO jika beliau ada di tempat. Mengerti." wanita itu mengangguk cepat.
"Baik pak." ucapnya.
Ada rasa tak percaya saat mendengar pujian itu. Pras di kenal jarang memberikan pujian pada karyawannya. Wanita itu mengelus d**a lega. Untung saja, temannya sedang ke toilet tadi, jika tidak sudah bisa di pastikan dirinya di tertawai oleh temannya itu.
Tiba di ruangan Sofia, Genta tersenyum melihat calon mertuanya itu sudah menunggunya. Sofia balas tersenyum dan mempersilahkan Genta masuk dan duduk.
"Pras, masuklah." ucap Sofia. Pras yang semula ingin kembali ke ruangannya, mengurungkan niatnya dan ikut duduk di sana.
Sebelumnya, Pras sudah meminta sekertaris Sofia untuk membuatkan minum. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Hingga sekertaris meninggalkan ruangan itu dan menutup pintu, Sofia memulai pembicaraan lebih dulu.
Genta menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Pras merutuki ucapan Sofia yang tanpa basa-basi itu dalam hatinya. Sofia masih menunggu Genta bicara. Satu menit kemudian.
"Bisakah pernikahan ku dan Dewi di langsungkan lebih cepat dari rencana awal ma?" bukan Sofia yang terkejut, justru sebaliknya, Pras lah yang terkejut hingga mengangkat kedua alisnya.
Wah, anak muda sekarang tidak sabaran. pikirnya.
"Kau punya alasan?" tanya Sofia santai.
Sofia tahu, ini akan terjadi. Apalagi saat putrinya pulang semalam. Ia langsung mencecar Dewi dengan banyak pertanyaan saat melihat Genta yang berusaha keras menahan amarah. Ia curiga ada ysesuau yang terjadi pada mereka.
Hingga Dewi mengatakan melihat Rianti bersama seorang pria paruh baya bertengkar di tempat umum. Bahkan, pria itu membisikkan sesuatu yang tidak Dewi ketahui. Tapi setelah itu, Genta terlihat marah dan menarik Dewi pergi dari sana.
Sofia secara langsung menyuruh seseorang untuk menyelidiki Rianti. Belum ada titik terang mengenai pembicaraan antara Rianti dengan pria itu. Tapi Sofia tahu, Genta mengetahuinya.
"Ya ma. Aku tidak ingin, nyonya Rianti mempertaruhkan Dewi untuk membayar hutang saudarinya yang sudah mati." terlihat, kemarahan Genta kembali berkobar saat membicarakan Rianti.
"Setahuku, Rianti tidak akan melakukan hal itu." ucapnya setelah kembali dari rasa terkejut. Ia bahkan sempat mengepalkan tangannya saat mendengar penuturan Genta.
Pras semakin terkejut. "Wah.... Mantan madu Lo itu benar-benar di luar dugaan." ucapnya.
"Tapi itulah yang di minta pria tua itu pada nyonya Rianti." imbuh Genta.
"Baik. Aku beri kau waktu untuk menyiapkan berkas dalam tiga hari. Untuk resepsi, kita bisa adakan setelah situasi kondusif." ucap Sofia.
Dalam hati, Sofia merasakan amarah yang menggebu-gebu saat putrinya di seret dalam masalah yang tidak seharusnya di laluinya.
Sepeninggal Genta, Sofia meminta Pras mencari tahu pria itu dan membawanya beserta Rianti ke hadapan Sofia secepatnya.
Kau sentuh putriku sedikit saja, jangan salahkan aku jika aku menghabisi mu. Kau sudah menguji batas kesabaran ku Rianti. Darimana pria itu mengenal putriku? Apa aku mengenalnya?
Sofia tenggelam dalam pikirannya. Ada rasa tidak terima dalam hatinya. Ia kembali berpikir, benarkah jalan yang di ambilnya untuk mempercepat pernikahan putrinya? Kenapa ia merasa tidak semudah itu masalah yang kini di hadapinya?
Haruskah dia melibatkan Brian dan Kinanti dalam masalah ini? Ah, sudahlah. Biarkan dua anak itu mengetahuinya sendiri dan menilai ibu mereka sendiri. Bagaimanapun, itu bukan urusannya. Urusannya adalah menyelamatkan putrinya dan memastikan Dewi bahagia dengan laki-laki pilihannya.
Tak butuh waktu lama bagi Pras menemukan pria yang di cari Sofia. Matanya membola dengan sempurna saat melihat gambaran yang tertangkap CCTV di jalan semalam.
Bagi Pras, bukan kah pria itu terlalu b***h jika secara terang-terangn menunjukkan diri seperti ini. Sofia pasti akan tercengan saat mengetahui kenyataan ini.
Pras tidak memiliki wewenang untuk menutupi masalah ini. Apalagi, ini menyangkut anak dari sahabatnya. Pras bahkan tak percaya, pria ini benar-benar menguji kesabaran Sofia setelah puluhan tahun di lepaskan oleh ayah Sofia dulu.
Pras pun segera menuju ruangan Sofi dan memberikan rekaman CCTV yang sudah di salinnya ke dalam flashdisk.
💐💐💐💐💐💐
Hai genks.... Kangennya aku sama kalian..... I Miss u genks....
Meskipun kesehatanku belum terlalu pulih, aku menyempatkan menulis untuk mengobati kerinduan pada kalian. Terimakasih untuk doa² yang mengalir dari kalian.🙏
Jujur, badanku masih terasa linu. terutama bagian tangan dan kaki. Ada hawa panas yang terasa di dalam badan. Tapi, kepala sudah tidak terlalu berdenyut seperti kemarin. Ya, lumayanlah untuk mengetik cerita. Lebih konsen. Meski terganggu dengan rasa linu yang suka tiba² datang.
Ada yang tanya aku vaksin apa kemarin. Kemarin saat ku tanya, petugas medis bilang sinovac. Mungkin benar, kondisi tubuh kurang vit di dalam. Jadi, saat di vaksin seperti sekarang hasilnya. sakitttt.....😢
Sekali lagi, terimakasih buat dukungan dan doa kalian genks🙏... Yuk sama² jaga kesehatan.👌