My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Khawatir



Sofia memutuskan untuk bicara dengan Brian secara pribadi. Ia ingin memastikan, jika Brian tidak akan menghalangi hubungan Dewi dan Genta.


"Sayang, besok mama harus ke ibukota. Ada sedikit pekerjaan yang harus mama lakukan." ucap Sofia pada Dewi.


Saat ini, Sofia dan Dewi sedang duduk di ruang keluarga menikmati drama korea yang di gemari oleh Dewi. Dewi menatap mamanya menyelidik.


"Benar urusan pekerjaan kan?" Sofia mengangguk.


"Gak nemuin kak Brian kan?" Sofia mengernyitkan dahinya.


"Maksudnya?" Sofia sangat paham dengan kekhawatiran Dewi. Namun ia ingin memastikannya langsung dari mulut Dewi.


"Dewi gak mau mama dan kak Brian jadi bertengkar karena masalah Dewi dan kak Genta." lirih Dewi. Sofia tersenyum dan membelai rambut panjang putri kesayangannya itu.


"Meski sebenarnya, Dewi masih kesal sama kakak karena kakak pukul kak Genta kemarin."


"Kamu tenang saja. Mama akan bicara baik-baik dengan kakakmu dan tidak akan bertengkar dengannya." Dewi mendongak menatap dalam mata sang mama.


"Dewi percaya sama mama." Dewi duduk kembali dan memeluk Sofia. Sebelumnya, Dewi merebahkan kepalanya di atas kaki Sofia.


•••••••••••


Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali, Sofia sudah bersiap-siap akan berangkat ke ibukota. Dewi pun bersiap-siap akan berangkat ke sekolah.


Dewi memeluk Sofia dan mencium punggung tangan Sofia. Kemudian ia mencium pipi kiri dan kanan Sofia. Setelah itu, Dewi berangkat ke sekolah bersama teman-temannya.


Sofia pun memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ibukota. Sofia memasang headset dan menekan nomor seseorang.


"Halo. Aku sudah menuju ke sana. Persiapkan semuanya." ucap Sofia.


"..."


Sofia mematikan sambungan telepon dan mulai fokus dengan jalan di hadapannya.


••••••••••


Jam menunjukkan tepat pukul dua belas saat Genta menerima telepon dari nomor yang tidak di kenalnya. Beberapa kali Genta mendiamkannya. Hingga panggilan ke tiga, Genta baru mengangkatnya.


"Halo." jawab Genta ketika sudah menerima panggilan itu.


"Dengan saudara Genta?" tanya seseorang dari seberang sana.


"Benar. Dengan siap ini?" tanya Genta kembali.


"Maaf mengganggu anda CEO kami ingin bertemu dengan anda. Apa anda bersedia hadir?" Genta menimbang-nimbang dengan mengetukkan jarinya di atas meja.


"Jika saya boleh tahu, kapan dan dimana beliau ingin bertemu saya?"


"Siang ini di Hadinata Corp.. Beliau mengajak anda makan siang bersama." Genta langsung mengiyakan permintaan itu.


Genta menemui Brian dan meminta izin. Ia mengetuk pintu dan segera melangkah setelah Brian menyuruhnya masuk.


"Ada apa?" ucap Brian tanpa menoleh. Melihat bayangan pria di hadapannya ini, ia tahu jika itu adalah Genta. Sepertinya, Brian belum sepenuhnya menerima Genta sebagai kekasih Dewi.


"Hadinata Corp.? Kenapa kau ke sana? Kau sudah lelah berusaha untuk mendapat restuku?" tiba-tiba wajah Brian mengeras.


Dalam hati Genta tersenyum. Kini dia mengerti, bahwa Brian hanya menguji dirinya. Baiklah, pria itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.


"Tidak pak. CEO Hadinata Corp., ingin bertemu saya." tutur Genta. Genta berusaha keras menahan ekspresinya yang sudah ingin tertawa melihat wajah khawatir dari atasannya itu.


"Ku peringatkan padamu. Jika kau berkhianat pada Wijaya Group, tidak hanya kau tidak ku restui, akan ku pastikan kau menghilang dari kehidupan adikku." aura mengintimidasi Brian terlihat jelas. Hingga Genta begitu sulit untuk menelan salivanya sendiri.


"Aku mengerti." Genta menundukkan kepala kemudian segera menuju Hadinata Corp. untuk memenuhi undangan dari CEO Hadinata Corp..


Setelah pintu ruangannya tertutup, Brian memijat pelipisnya. Ia mendesah kasar. Ada rasa khawatir yang begitu menganggu pikiran Brian saat ini.


Pria itu bersumpah, jika sampai Genta benar-benar meninggalkan Wijaya Group dan memilih Hadinata Corp., maka Brian tidak akan segan-segan memisahkan Genta dari Dewi adiknya.


Brian tidak tenang berulang kali ia berjalan mengelilingi ruangannya sendiri. Sebentar duduk, sebentar ia kembali berdiri dan berjalan layaknya sebuah setrikaan.


Bahkan ia tak menyadari, jika waktu makan siang telah usai. Dirinya belum sempat mengisi perutnya. Jika saja perutnya tak meronta minta di isi, mungkin ia tak akan menyadari, jika ia sudah melewatkan jam makan siangnya.


Argh, gara-gara aku mikirin Genta, aku jadi lupa makan. B******k dasar pengawal s****n, berani-beraninya dia membuatku cemas seperti ini. Brian mengumpat dalam hati.


Ia menekan intercomnya dan meminta Jenny memesan makanan untuknya.


"Jen, tolong pesankan aku makan siang." ucap Brian. Ia segera memutus sambungan intercom tanpa menunggu jawaban dari Jenny.


Tak menunggu terlalu lama, makanan yang diminta Brian pun segera di sajikan oleh Jenny. Sesaat, Jenny melirik ke arah bosnya itu. Raut wajah Brian yang berubah-ubah, membuat Jenny merasa heran.


Ia pun tak ikut campur dengan urusan atasannya itu. Ia segera melangkah kembali ke mejanya.


Sementara itu, di perusahaan Hadinata Corp., Genta segera di antarkan oleh sekertaris dari CEO Hadinata Corp. untuk menuju ruangan CEO.Tiba di ruangan, Genta melihat pria paruh baya yang beberapa waktu lalu bertemu dengannya di lobi apartemen Sofia.


"Kita bertemu lagi." sapa pria paruh baya itu. Ia tersenyum ramah pada Genta.


Genta hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia mengalihkan pandangannya pada kursi CEO yang membelakanginya.


Ia mengernyit heran melihat papan nama CEO yang tidak di pasang di meja itu. Misterius, itu adalah hal pertema tang muncul dalam benaknya. Namun, Genta bisa menebak. Jika CEO itu adalah seorang perempuan.


"Maaf apa anda ingin bertemu saya?" pandangan Genta, masih mengarah pada wanita di kursi CEO itu.


"Anda benar. Nyonya ingin bertemu dengan anda." Genta menatap pria paruh baya itu.


Satu pertanyaan muncul dalam benaknya. Mengapa wanita ini diam saja, dan membiarkan pria itu yang menjawab?


"Maaf pak Prasetyo dan Nyonya, tapi bolehkah saya tahu tujuan anda menemui saya? Sejujurnya, saya tidak mengenal anda." ucap Genta.


"Tapi kami mengenal dan mengetahui kemampuan anda. Nyonya ingin menawarkan posisi CEO untuk anda. Tidak perlu khawatir, jika anda menerima tawaran kami, tidak hanya fasilitas seperti tempat tinggal dan mobil yang akan anda terima, tetapi, gaji anda pun di berikan dengan nilai yang cukup fantastis." Prasetyo, mencoba menawarkan sesuatu yang bisa membuat Genta tergiur untuk menerimanya.


Genta tertawa sinis. Ia tak habis pikir dengan perusahaan besar seperti ini yang begitu ingin merekrutnya. Ia merasa, masih banyak orang di luar sana yang jauh lebih hebat dari dirinya.


"Boleh saya tahu alasannya?" tanya Genta.


"Seharusnya, anda tidak perlu sebuah alasan untuk menerima tawaran kami. Karena semua yang kami berikan, adalah yang terbaik."