My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Genta Kembali



Bertahun-tahun berlalu. Setelah beberapa kali Dewi berlibur ke ibu kota, kali ini Genta ingin kembali ke tempat tinggal orang tuanya. Selain karena rasa rindu yang teramat sangat pada keluarganya, ia pun merindukan suasana kampung itu. Apalagi, udara bersih yang masih bisa ia nikmati.


Genta sudah mengambil cuti selama satu Minggu untuk kembali ke kampungnya. Manager tempatnya bekerja pun sudah memberikan izin padanya. Selagi ia libur semester, ia ingin melepas rindunya di rumah orang tuanya.


Genta sudah memberi kabar pada keluarganya. Ia tersenyum menatap langit-langit kamarnya. Membayangkan bertemu semua orang yang di cintainya. Hingga tak sadar, ia pun terlelap.


Esok harinya, Genta bangun dengan tubuh segar. Ia menjalani sisa hari kerjanya dengan semangat. Manager tempatnya bekerja, begitu menyukai kinerjanya. Karena hal itu, membuat beliau memberikan izin pada Genta untuk mengambil cuti.


"Gen, nanti keruangan saya ya." ucap atasannya itu pada Genta ketika ia sedang membereskan meja.


"Baik pak." Genta kembali mengelap meja itu dan membawa piring serta gelas kotor ke dapur. Setelahnya, ia melangkah menuju ruangan manager cafe itu.


Tok... tok... tok...


"Masuk." terdengar suara dari dalam. Genta membuka pintu itu dan masuk ke dalam.


"Bapak ada perlu dengan saya?" tanya Genta ketika ia berdiri di hadapan managernya.


"Duduk gen." pinta managernya seraya menunjukkan bangku di seberang meja kerjanya. Genta pun duduk di tempat yang sudah di tunjukkan managernya itu.


Setelah berbasa-basi sedikit, managernya itu langsung berbicara pada intinya.


"Ini, ada sedikit bonus tambahan untuk kamu. Pergunakan dengan baik ya." pria paruh baya itu menyodorkan amplop berwana putih yang terlihat sedikit tebal itu ke hadapan Genta.


Genta terkejut dan menatap managernya itu sekilas sebelum berbicara. "Maaf pak, tapi bonus dari cafe pun sudah cukup banyak pak." tolaknya seraya mendorong kembali amplop itu pada managernya.


"Tidak baik menolak rejeki. Saya sangat menyukai kinerja kamu. Bos besar juga. Jadi, ia menyuruh saya memberi bonus tambahan untuk kamu. Tapi tolong, jangan beritahu yang lain ya." Genta mengernyit heran.


Kenapa begitu? Apa harus ku terima? ucapnya dalam hati. Ada keraguan dalam dirinya saat ia akan menerima bonus itu.


"Jangan ragu. Ambil lah." pintanya lagi.


Dengan sangat terpaksa, Genta mengambil amplop itu dan memasukkannya ke saku celananya.


"Terimakasih pak. Semoga pekerjaan saya semakin baik." ucapnya. Entah kenapa, ucapan itu terlontar begitu saja dari bibirnya.


"Kalau begitu, saya permisi pak. Saya akan kembali bekerja lagi." setelah managernya mengangguk, Genta keluar dari ruangan itu.


Sepeninggal Genta, managernya tersenyum.


••••••••••••••••


Akhirnya, hari yang di nanti Genta pun tiba. Sejak kemarin, ia sudah mengemas beberapa pakaian ke dalam tas ranselnya untuk ia bawa pulang.


Tepat pukul delapan pagi, Genta menunggu bus yang akan membawa dirinya. Bus berangkat tepat waktu. Dalam perjalanan, senyum Genta terus mengembang.


Tak sabar rasanya ingin bertemu orang-orang yang di kasihinya. Matanya pun tak ingin terpejam barang sebentar, karena begitu rindunya ia pada mereka.


Ibu, bapak, Genta kangen banget. batinnya terus mengucapkan kalimat itu.


Hingga pukul dua siang, ia tiba di jalan menuju rumahnya. Genta tidak perlu ikut turun ke terminal, karena jalur ke sana, melewati jalan ke arah rumah orang tuanya.


Dengan wajah yang di penuhi senyum, Genta berjalan dengan langkah lebar. Tanpa ia sadari, ada beberapa orang yang mengikutinya.


Saat Genta tengah berjalan, dari arah sampingnya ada yang memanggil dirinya.


"Kak Gen...." teriak seorang gadis seraya melambaikan tangannya. Sontak, Genta menoleh ke arah suara tersebut.


Seketika, senyumnya semakin cerah. Adiknya Kiara serta teman-temannya baru saja akan pulang ke rumah.


Kiara berlari dan memeluk Genta dengan sayang. Dewi menatap penuh cinta, sementara Puspa ikut berjalan bersama Dewi tanpa melihat ekspresi yang di tunjukkan Dewi.


Semua itu, tak lepas dari pandangan orang yang mengikuti Genta. Terlihat, ada rasa cemburu yang tunjukkan gadis itu.


"Dasar bocah kecil keganjenan." gadis itu menghentakkan kakinya.


"Sabar dulu dong cin, kita liat dulu, siapa cewek itu. Jangan emosi. Oke." ya, mereka adalah Cindy dan Hana. Entah mengapa, Cindy ingin mengikuti Genta. Ia mengajak Hana.


Untungnya, jauh sebelum libur kuliah, Cindy meminta mamanya membeli rumah di daerah ini untuk berlibur. Dan Cindy, juga sempat mencari tahu tempat tinggal orang tua Genta.


Setelah Dewi dan Puspa berada di dekat Genta dan Kiara, mereka melanjutkan perjalanan. Puspa pun menyapa kakak sahabatnya itu. Begitupun Dewi.


"Hai kak Gen." sapa Puspa. Genta tersenyum ramah.


"Kirain kakak gak ingat pulang." ejek Dewi. Genta terkekeh.


"Jangan gitu dong wi." Kiara justru menjawab ucapan Dewi dengan wajah cemberut. Membuat Dewi terkekeh.


Setelahnya, Kiara mendekati Puspa dan menggandeng tangan sahabatnya itu seraya berbisik di telinga Dewi. Kemudian, Kiara dan Puspa, berjalan di depan mereka sedikit lebih jauh.


"Silahkan pacaran dulu kakak ipar. Nanti kalau sudah di rumah, pasti di monopoli bapak sama ibu." bisiknya. Dewi mendelik menatap Kiara. Kiara mengedipkan matanya.


Genta menunggu langkah Dewi mendekat. Sementara Kiara dan Puspa sudah terlihat bercanda ria dan tertawa.


Genta tersenyum ketika langkahnya sudah sejajar dengan Dewi.


"Apa kabar?" tanya Dewi tanpa memandang pada Genta. Sejujurnya jantung Dewi terus berdegup dengan cepat.


"Aku kangen sama kamu." Ungkap Genta. Dewi mengulum senyum dan menunduk.


Sementara jauh di belakang mereka, Cindy terlihat begitu kesal. Hana terus menggandeng dan mengusap lengan sahabatnya itu dengan lembut.


"Sabar...." bisik Hana.


Mereka berjalan beriringan dan membicarakan banyak hal. Hingga tak terasa, mereka tiba di dekat taman dan akhirnya berpisah.


Genta pun melangkah pasti bersama Kiara untuk pulang. Sementara Dewi dan Puspa juga menuju rumah mereka.


Hana dan Cindy, tidak tahu alamat pasti yang di berikan mama Cindy pada mereka.


"Tahu gitu tadi kita tanya sama mereka deh Cin." gerutu Hana. Pasalnya, cuaca sangat panas.


"Sudah deh gak usah bawel. Kalau nanya mereka, yang ada ketahuan dong gue ngikutin Genta." Cindy terbawa emosi.


"Ya ampun, gara-gara jatuh cinta otak Lo jadi korslet ya. Lo kan bisa pura-pura gak sengaja ketemu dia?" Hana menanggapi dengan emosi juga.


Cindy terdiam. Merasa ucapan Hana ada benarnya.


"Ah iya. B***hnya gue..." Cindy menepuk dahinya berkali-kali.


••••••••••••••••


Hai hai hai readers ku tersayang.....


Terimakasih ya yang sudah setia menunggu ceritaku. Di tunggu up selanjutnya ya.


Terkadang, otakku buntu mencari cerita....🤭🤭🤭🤭 yang sabar ya zeyengkuh....


Love u all.... thank you buat jempol dari kalian. terimakasih juga yang sudah memberi dukungan. terimakasih yang sudah tap ❤️nya, terimakasih juga buat yang sudah memberi rate untuk ceritaku ini. Bagi yang berpuasa, selamat menjalankan ibadah puasa.....😘☺️☺️☺️🤗🤗