
Waktu terus berlalu. Brian tengah di sibukkan dengan tumpukkan pekerjaan. Bagas masuk dan membantu menyelesaikan tumpukan pekerjaan itu.
Jenny mengetuk pintu dan masuk. "Pak Brian, di bawah ada seorang wanita bernama Patricia ingin bertemu." ucap Jenny.
Brian membeku. Nama itu kembali datang ke dalam pendengarannya. Nama yang tak ingin lagi di ingatnya karena sebuah penghianatan.
"Suruh dia masuk." Jenny segera keluar dan menutup pintu.
Brian menghembuskan nafas kasar. Ia merutuki dirinya sendiri. Mengapa mulut dan pikirannya mengatakan berlainan. Logikanya menolak kehadiran Patricia, namun hatinya mengharapkan kedatangan Patricia.
Ah b***hnya. Kenapa gue suruh dia masuk?...
"Gas, suruh Genta ke sini." pinta Brian.
"Iya pak." Bagas segera melaksanakan tugas bosnya itu dan menghubungi Genta.
Tak lama, pintu ruangan Brian terbuka. Menampilkan wajah cantik yang di rindukan Brian selama bertahun-tahun. Wajah yang sempat merajai hatinya.
Bagas yang melihatnya pun ikut terpesona dengan kecantikan wanita itu. Jenny yang masih ada di dalam menatap kesal pada Bagas. Pasalnya, mereka sudah menjalin kasih beberapa Minggu terakhir.
"Hai Brian." suara lembut itu mengalun merdu di telinga Brian.
Brian seakan lupa pada apa yang terjadi dan menghampiri Patricia. Ia memeluknya dan me***** bibir tipis gadis itu. Menyalurkan kerinduan terpendam dalam sudut hatinya.
Patricia membeku sesaat. Kemudian, ia mengalungkan tangannya di pundak Brian. Membalas c***** itu. Bagas dan Jenny membelalakkan mata dan menutup mulut mereka dengan telapak tangan.
Brian menahan tengkuk Patricia dan menc***nya semakin dalam. Hingga Genta masuk dan berdeham. Membuat Patricia menyembunyikan wajahnya di d*** bidang Brian.
Brian salah tingkah. Bagas dan Jenny memalingkan wajah mereka.
"Kira-kira dong bos. Lihat tuh Bagas sama Jenny sampai meneteskan air liur melihat tontonan gratis di depan mereka." ucap Genta.
"Maaf." lirih Patricia.
"Aku yang minta maaf. Tidak seharusnya aku melakukan itu padamu. Hubungan kita sudah berakhir tiga tahun lalu." Patricia menatap wajah Brian.
"Kalau begitu saya keluar dulu pak." ucap Bagas merapihkan pekerjaannya dan membawanya keluar.
"Saya juga pak." Jenny cepat-cepat berlalu dari ruangan itu bersama Bagas.
"Apa saya harus keluar juga pak?" tanya Genta.
"Tidak usah."
"Silahkan duduk Cia." ucap Brian pada Patricia.
Genta melihat jelas wajah gadis itu. Gadis yang terus mengikuti Brian sejak beberapa waktu lalu. Genta menajamkan telinga dan matanya untuk mengamati gadis itu. Ia harus tahu apa niat gadis itu mengikuti Brian selama ini.
Genta tak menyangka jika gadis itu memiliki hubungan istimewa dengan Brian. Bahkan sudah berakhir sejak tiga tahun yang lalu. Jadi, untuk apa gadis ini mengikuti Brian? Itulah yang ingin di ketahui Genta.
"Apa kabar Brian?" tanya Patricia memecah keheningan yang sudah terjadi beberapa menit setelah mereka duduk.
"Baik." jawabnya singkat. Brian tak menatap Patricia.
"Terimakasih karena kau menyambut ku dengan hangat." Patricia tersenyum manis pada Brian.
"Itu ketidak sengajaan. Jangan salah paham." Patricia tersenyum canggung.
Genta mengerutkan dahinya mendengar pernyataan Brian pada gadis bernama Patricia itu. Apanya yang tidak sengaja? C***an mu saja penuh kerinduan seperti itu bos. batin Genta.
"Aku ingin minta maaf padamu dengan benar. Selama ini kita belum menyelesaikan masalah perasaan kita dengan benar." Patricia berhenti dan melihat ekspresi yang di keluarkan Brian.
Brian mengontrol dirinya sekuat tenaga. Ia tidak ingin kembali melakukan hal b**** seperti tadi. Brian menatap Patricia dengan datar.
"Aku tahu aku sudah melukaimu. Meski yang sebenarnya tidaklah sama dengan yang kau lihat." ucapnya ambigu.
"Tidak sama?" Brian tersenyum sinis pada Patricia.
"Tapi kau mengakuinya bukan pada akhirnya?" sindir Brian.
Patricia hanya diam. Ada kilat kekecewaan di dalam matanya. Ini semua karena kau Jasmine. Akan ku buat kau menderita seumur hidupmu. Lihat saja nanti.
"Intinya, aku sungguh menyesal hubungan kita berakhir tidak baik. Semoga kau bahagia Brian." ucap Patricia tulus. Brian merasa pedih jauh di sudut hatinya itu.
Patricia pun bangkit dan ingin segera pergi dari ruangan yang membuatnya sesak itu. Pria yang di cintainya, sudah tak lagi percaya padanya.
Brian ingin menghentikannya, namun ia urungkan. Genta mendekati Brian dan menepuk pundaknya. Ia pun keluar dari ruangan Brian.
"Nona.." panggil Genta pada Patricia.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya ketika sudah berdiri di samping Patricia. Patricia mengangguk.
Mereka berjalan menuju rooftop gedung Wijaya Group. Selama di lift, hanya ada keheningan di antara mereka.
"Ada apa?" tanya Patricia saat mereka tiba di tujuannya.
"Kenapa nona mengikuti Brian diam-diam selama ini?" Patricia terkejut saat Genta bertanya padanya.
"Ku kira tidak ada yang tahu, rupanya kau cukup jeli." Patricia terkekeh.
"Tidak ada. Aku hanya merindukannya. Tapi, selama ini aku takut menemuinya. Baru hari ini aku memberanikan diri menemui Brian." tutur Patricia.
Genta hanya mengangguk. Tidak, ada hal lain yang kau sembunyikan. Meski aku juga melihat rasa rindu dalam matamu nona.
"Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?" tanya Patricia.
"Tidak ada." ucap Genta.
"Maaf jika pertanyaan saya menyinggung perasaan anda." ucap Genta tulus.
"Tidak apa. Kalau begitu, saya permisi dulu. Masih ada urusan." pamit Patricia pada Genta.
Patricia segera berlalu. Tak lama setelah Patricia menghilang, ponsel Genta berbunyi.
"Bagaimana gas?" tanya nya.
"Sepertinya dia tidak menggunakan mobil itu. Aku sudah mencarinya ke semua area parkir."
"Ya sudah. Coba lihat CCTV."
Genta pun segera berlalu meninggalkan rooftop.
Apa aku salah? pikir Genta.
Genta segera menuju ruang pengendali CCTV untuk melihat kamera pengawas itu. Di sana Bagas tengah menatap banyaknya layar yang di tampilkan itu. Genta ikut menatapnya.
Patricia terlihat berjalan menyusuri lorong tanpa ada keraguan. Mungkinkah ini hanya firasatnya saja yang berbicara, jika Brian akan berada dalam masalah?
Di ruangannya, Brian menelungkup kan kepalanya di antara kedua tangannya. Hatinya terasa perih dan sakit saat Patricia keluar tadi seakan tak rela kehilangan gadis itu lagi.
Brian termenung, kembali memory nya menyusuri kisah masa lalunya bersama Patricia tiga tahun lalu. Ia tenggelam dalam bayang kenangan masa lalu.
Hingga malam menjelang, Brian tak bisa lagi memfokuskan pikirannya pada pekerjaan. Ia pun memutuskan kembali ke rumah lebih awal.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai gengs..... Bagaimana kabar kalian. Mohon maaf jika aku terlambat up. Karena sedang tidak fokus. Jujur saja, nulis part ini tuh mataku selalu hampir terpejam.
Jangan lupa komen ya gengs kalau ada jalan cerita yang tak nyambung. Mudah-mudahan, saat waktuku liang bisa ku perbaiki. Thank you gengs....