
Daniel tiba di IGD dengan wajah khawatir. Baru saja Daniel akan menghajar anak buahnya, dokter keluar dari ruangan.
"Keluarga nona Jasmine, silahkan ikut saya ke ruangan saya." ucap sang dokter menghampiri Daniel dan melangkah ke ruangannya.
"Saya ayahnya dok. Bagaimana keadaan putri saya?" tanyanya panik.
"Nona Jasmine mengalami syok serta benturan yang menyebabkan pelipisnya terbentur. Tidak berbahaya. Dia juga sudah sadar. Dan satu lagi berita buruk. Nona kehilangan janinnya." Daniel terkejut mendengar ucapan dokter itu.
"Janin?" dokter menganggukkan kepala.
"Maksudmu putri ku hamil?" tanyanya memastikan.
"Benar tuan. Usia janin masih tergolong muda dan rentan." jelas dokter itu.
"Terimakasih dok atas penjelasannya. Bisa saya menemui putri saya?"
"Silahkan tuan." Daniel pun meninggalkan ruangan dokter itu dan menuju ruangan dimana Jasmine di rawat.
Daniel melangkah masuk dan melihat putrinya yang sudah tertidur. Ia pun kembali keluar.
"Sudah kalian temukan pelakunya?" tanya Daniel dengan rahang mengetat. Wajahnya terlihat merah padam.
Para pengawal terdiam. Mereka menundukkan kepala takut. Daniel mengepalkan tinjunya, karena ia tahu jawabannya. Ia menghajar mereka semua dan tak mempedulikan lingkungan sekitar. Hingga petugas keamanan menghentikannya dan membawa dia dan anak buahnya keluar.
Daniel mendesah frustasi. Bahkan ia baru tahu jika Jasmine tengah hamil. Ia benar-benar merasa sangat kesal.
Anak itu pasti anak Rendy. Baguslah, itu lebih baik. Aku tidak Sudi merawat anak itu. Tapi, siapa yang berani mencelakai putriku? Akan ku habisi siapa saja dia!!!
Daniel kembali ke dalam ia duduk di samping putrinya. Setelah itu, dia mulai menghubungi anak buahnya yang mengikuti mobil tadi.
"Bagaimana, sudah kalian temukan?" tanyanya saat terdengar suara halo.
"Mobil itu di temukan bos. Tapi pengemudinya sudah lari."
"Cari tahu siapa pemilik mobil itu, dan seret dia ke hadapanku." ucapnya geram seraya memutus panggilan itu.
Daniel memijit pelipisnya untuk mengurangi stress yang melandanya. Tak lama, Jasmine kembali terbangun.
"Ayah..." lirih Jasmine.
"Kau sudah bangun?" Jasmine mengangguk.
"Kau melihat orang yang menabrak mu?" tanya Daniel dengan tenang. Jasmine menggeleng. Daniel pun mendesah.
•••••••••••
Bram mengantarkan Dewi hingga tiba di
apartemen. "Terimakasih ya pa." ucap Dewi tersenyum manis.
Bram mencium kening putrinya dan memeluknya. "Tidak perlu berterimakasih sayang. Banyak waktu yang hilang di antara kita." bram tersenyum.
"Hmmm... Lain kali, kita bisa habiskan waktu bersama lagi." Bram mengangguk.
"Dewi pamit ya pa." Dewi mengambil tangan Bram dan mencium punggung tangannya.
Bram menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya pada Dewi. Kemudian menjalankan mobilnya menjauh. Setelah Bram tak terlihat lagi, Dewi segera masuk.
Dewi memainkan ponselnya sambil menunggu lift untuk naik ke unit tempat tinggalnya. Lift berbunyi dan terbuka. Dewi menyimpan ponselnya. Saat ia menatap ke depan, Dave ikut menatapnya dan tersenyum.
"Om..." sapa Dewi ramah. Dave mengangguk.
Dewi melangkah masuk dan berdiri bersisian dengan Dave. Melihat Dewi yang hanya diam saja, Dave berinisiatif mengajaknya bicara.
"Kamu baru pulang?" Dewi menatap Dave dan tersenyum.
Tak lama, lift berhenti di lantai yang di tuju Dewi. Dewi pun berpamitan dan keluar dari lift. Di luar dugaan Dewi, Dave ikut turun di lantai yang sama dengannya. Dewi mengernyitkan dahi bingung.
"Om, tinggal di lantai ini juga?" tanya Dewi.
"Tidak." jawab Dave.
"Lalu?" Dewi berhenti. Seketika, ia berpikir bahwa Dave akan mengunjungi Sofia mamanya.
Gadis itu menatap Dave. Dave pun ikut menatapnya dengan menaikkan kedua alisnya dan tersenyum. Setelah beberapa saat, tawa Dave pun pecah.
"Hahaha.... kamu tenang saja. Om itu ingin bertemu salah satu teman lama juga."
"Kebetulan, dia tinggal di lantai ini." jelasnya.
Dewi tersenyum canggung dan diam-diam, dia menghela nafas lega. Entah mengapa, Dewi tidak suka pria itu mendekati mamanya.
Bukan Dewi tak ingin mama ya bahagia. Mamanya memiliki kehidupan sendiri. Dewi tahu, mamanya berhak bahagia setelah selama ini ia fokus merawat dirinya. Tapi, jika boleh memilih, Dewi ingin papa dan mamanya kembali.
"Iya om. Maaf ya, Dewi berburuk sangka." ucap Dewi.
"Tidak apa." Dave menepuk bahu gadis itu.
Setelahnya, Dewi masuk ke unitnya, sementara Dave menuju unit sebelahnya. Dewi segera menghambur ke pelukan sang mama begitu ia melihatnya.
"Sudah pulang sayang?" Dewi mengangguk.
"Kok lesu?" Sofia melepaskan pelukan Dewi dan menatap wajah putrinya.
"Gak apa-apa ma. Dewi cuma capek saja kok." Dewi mengecup pipi Sofia dan segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Sofia segera mempersiapkan makan malam. Saat Dewi baru saja keluar dari kamarnya, pintu apartemennya berbunyi. Dewi melihat siapa yang datang.
Dua sahabatnya terlihat. Setelah itu, Dewi segera membukakan pintu. Ia tersenyum pada keduanya dan mempersilahkan mereka masuk.
Baru saja ia akan menutup pintu, pintu di tahan oleh seseorang. Dewi melihat siapa orang itu. "Kak Brian?" ucapnya terkejut.
Rupanya Brian tengah mengunjungi adik dan mama kesayangannya. "Boleh masuk?" tanya Brian.
"Ah... Iya, masuk kak." Pintu pun terbuka lebar.
Ada Genta tersenyum melihat gadisnya dan Bagas yang tersenyum seraya melambaikan tangannya. Dewi tersenyum melihat mereka.
"Wah ada acara apa ini? Kok tumben, barengan semua datangnya?" tanya Sofia dengan senyum mengembang setelah ketiga pria itu ikut masuk.
"Ma..." ucap Brian dan Genta bersamaan. Mereka bergantian mencium tangan Sofia.
"Ma, Kia bawa lauk juga nih titipan ibu sama bapak." Kiara mengangkat rantang di tangannya.
Sofia dan Kiara pun segera menatanya di meja. Mereka pun berkumpul bersama dan menikmati makan malam bersama. Senda gurau terdengar di ruangan itu.
Sofia merasa bahagia melihat Dewi tertawa. Entah sudah berapa lama tawa cantik itu hilang dari wajah putrinya. Begitupun dengan Brian. Pria itu begitu merindukan suasana hangat seperti ini.
Puspa dan Bagas yang jauh dari orangtuanya pun merasa rindu pada mereka karena kehangatan yang di rasakan nya. Mereka semua menghibur Puspa dan Bagas yang tengah berubah sedih karena mengingat keluarganya.
Berkumpul seperti ini, harus sering mereka lakukan. Merekapun membuat jadwal berkumpul bersama seperti ini lagi setiap bulan.
Usai makan, sebagian para wanita membereskan sisa makanan dan meja serta mencuci piring kotor. Sebagian lagi, menyiapkan camilan dan minuman pendampingnya untuk menemani mereka berbincang.
Para pria, segera mengeluarkan game yang mereka bawa tadi dan memainkannya di ruang keluarga bersama. Tiga gadis itu duduk di sofa dan memperhatikan permainan mereka.
Sesekali, mereka menjahili para pria itu bermain hingga salah satunya kalah. Sofia memandang mereka dengan senyum. Ia mengambil ponselnya dan memotret kebersamaan mereka yang penuh canda tawa.
Kemudian, ia mengunggah foto itu dan memberi sebuah caption: 'Kehangatan ini, perlahan mulai kembali.'