
Pergantian hari yang sangat dinanti oleh Abimanyu, membayangkan dirinya akan bertemu dengan Tita hari ini membuat wajahnya terlihat lebih berseri-seri.
Nindy yang memperhatikan perubahan itu tersenyum-senyum sendiri. Bahagia putranya sekarang bisa menikmati masa mudanya. Mencintai siapa yang dicintainya, merasakan kasih sayang yang lain dari yang sudah Abimanyu dapatkan darinya juga dari ayahnya. Merasakan debaran yang indah didadanya bagai deburan ombak dilautan, merindukan yang belum bisa tergapai sebagai sebuah harapan yang akan diwujudkan menjadi kenyataan.
Entah itu hanya untuk sementara atau selamanya.. biarkan saja.. hadirnya rasa itu sendiri sudah menjadi anugerah pengalaman terindah dalam proses kehidupan Abimanyu. Dan melihat kebahagiaan putranya adalah hakikatnya kebahagiaan seorang ibu didunia ini bukan?
Hal yang sama juga dilihat oleh Yoga, dia tersenyum sendiri menyadari putranya sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Bagaimanapun Yoga sangat bersyukur, Abimanyu tumbuh menjadi anak yang tidak banyak masalah dan menyulitkan dirinya sebagai orang tua. Yoga sangat menyadari, bahwa sifat dan kepribadian Abimanyu lebih cenderung mirip dengan istrinya. Sederhana.
Sehingga dengan kesederhanaannya, Abimanyu tidak pernah seenaknya menggunakan semua fasilitas bahkan uang yang Yoga berikan padanya. Bahkan untuk sekolahnyapun Abimanyu malah memilih SMA Negeri Favorit se DKI Jakarta dengan hasil kerja keras belajarnya sendiri, ketimbang memilih sekolah internasional unggulan atau sekolah keluar negeri yang sering kali Yoga pilihkan untuk putranya itu.
Padahal bukan hal yang sulit buat Abimanyu untuk sekedar gaya-gayaan atau aji mumpung dengan kekayaan orang tuanya. Andil istrinya dalam pembentukan karakter Abimanyu sangat dirasakan oleh Yoga, dan ia sangat bersyukur akan hal itu.
Ketentraman dan kenyamanan yang tercipta didalam rumah tangganya inilah yang mampu membuat Yoga tenang bertarung menghadapi roda perbisnisan yang keras dan tidak stabil diluar sana.
Ia masih seorang laki-laki normal, seiring dengan bertambahnya kesuksesan, tak jarang godaan datang justru dari perempuan-perempuan yang rela mempertaruhkan martabat dan kehormatannya demi kenyamanan dan keberlimpahan harta semata. Bahkan mereka tidak keberatan jika keberadaan mereka pun hanya dimanfaatkan untuk memenuhi hasrat birahinya semata.
Namun mengingat cinta, kebaikan, pengorbanan dan kesederhanaan Nindy dulu ketika akan menjadi istrinya hingga sekarang, membuat Yoga mampu menahan dirinya dari nafsu sesaat yang justru akan menjerumuskan Ia dalam kesengsaraan yang panjang.
Sampai disini, semua sudah sempurna...
Dan Yoga tidak ingin menghancurkannya.
Terlalu banyak yang harus ia syukuri.
"Basketan dulu sama ayah, Bi!" ajak Yoga pada putranya.
"Ayo yah.. buat pemanasan!" jawab Abimanyu.
Kemudian Ayah dan anak itu sudah asik bermain basket, yang terkadang diselingi tawa mereka berdua. Bahkan tak jarang kontak fisik mereka memperebutkan bola menjadi ajang Yoga untuk merasakan kembali masa-masa kecil Abi dimana putranya itu masih suka dipeluk atau diusap-usap kepalanya.
Beberapa saat kemudian
"Bapak, mohon maaf diluar ada teman-teman den Abi"
"Oo persilahkan mereka masuk, sesuai prosedur yaa..suruh cuci tangan dan masuk ke bilik steril dulu" ucap Yoga
"Siap Bapak perintah dilaksanakan!"
beberapa saat kemudian beberapa teman Abimanyu mulai memasuki halaman rumah.
"Izin om .. tante.. " izin mereka sambil menangkupkan kedua tangan mereka pada kedua orang tua Abimanyu karena tidak bisa bersalaman.
"Silahkan-silahkan ingat jaga jarak yaa!" ucap Yoga
"InsyaAllah om, kalau nggak khilaf" jawab Axsal
disambut senyuman Yoga dan Nindy, dan serentulan ke kepala Axsal dari teman-temannya.
Abimanyu tetap menunggu di lapangan basket, lebih memperhatikan kearah Tita yang pagi ini menggunakan trainning abu-abu dan rambut yang dikuncir kuda.
"Weeeiis dah duluan niih olah raganya! udah rame tuuuh keringet!" ucap Aryo
"Iya.. tadi bokap ngajakin! langsung pada pemanasan aja!" jawab Abimanyu.
"ok bro!"
Kemudian mereka semua sudah asik pemanasan sambil diselingi senda gurau khas kelau mereka sudah pada kumpul.
Dan Abi lebih senang memperhatikan Tita yang berkali-kali tertawa lepas karena lelucon dan tingkah Axsal.
"Ayo Mel.. loe katanya mau ngajarin kita senam Maumere!" kata Bima
"Oo iyaa bener, kita senam Maumere dulu trus baru deh basketan! ayo Mel dimulai aja!" lanjut Aryo
"Iya..yaa.. gue pasang dulu musiknya.. ayoo loe semua pada baris" jawab Mely.
"Sini Bi.. disamping aku" ajak Tita, yang disambut langkah Abi mendekat kearah Tita tapi langsung diserobot Axsal.
"Heheee yee... gue duluan yang nyampe..! hiii Tita.. manis bangeet siih, Abang Axsal aja yaa yang disamping Tita.." goda Axsal
"Jia..Jia.. siapa cepet dia dapet Bi!" balas Axsal.
"Coba tanya lagi sama Tita, tadi dia ngajak siapa?!"
"Adduuuh kenapa sih kalian gitu aja berebutan! sini! Axsal didepan aja bareng gue loe kan bisa senam Maumere, loe kan sering nungguin emak loe latihan senam Maumere dikelurahan..ayo loe didepan!" ucap Mely sambil terus menarik tangan Axsal menjauh dari Tita.
Tita tersenyum-senyum melihat tingkah keduanya, akhirnya Abi bisa juga berdiri dekat disamping Tita. Dia kemudian mencuri pandang sedikit kearah Tita. Melihat gadis itu tersenyum dari samping.
Sementara dari atas balkon kamar Yoga dan Nindy
"Anak itu... gimana mau dapetin si Tita! lambat beneeer gerakannya!" ucap Yoga.
"hahhaa kok jadi aa siih yang gregetan" balas Nindy.
"Gimana nggak gregetan, kurang gesit..payah! main basket bisa dia gesit, begitu deket Tita kayak kura-kura!" ucap Yoga sambil memeluk Nindy
"Iyaa..trus..ini mau ngapain..." balas Nindy yang keheranan karena Yoga malah mulai mengusap-ngusap punggungnya dan membuka resleting pakaiannya.
"Enggak seruuu main sama Abimanyu... lebih seru main sama momynya.." ucap Yoga yang sudah mendorong perlahan tubuh Nindy untuk masuk kedalam kamar mereka. Sambil menutup sliding door dengan tangan yang lain dan menarik hordengnya agar tertutup.
Resleting pakaian Nindy sudah terbuka sempurna, perlahan Yoga membuka pakaian istrinya itu hingga terjatuh kelantai. Menyusuri tubuh istrinya dengan tangannya yang mengusap kesana kemari memberi sensasi bergetar ditubuh Nindy. Mata Nindy menyendu.. menikmati sentuhan dan tatapan Yoga yang juga menyendu.
"Momy olah raga sama Dady aja yaa ditempat tidur" ucap Yoga lembut menggoda.
Nindy tersipu malu dan sudah terhanyut oleh gerakan tubuh Yoga diatas tubuhnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gadis.. jangan terlalu banyak tersenyum
Kamu jelek kalau sedang bahagia..
Karena aku hanya ingin senyum dan bahagiamu itu karena aku.
(Abimanyu. sepertinya aku cemburu)
.
.
.
.
.
.
Tetap optimis yaa teman-teman bahwa keadaan ini akan cepat berlalu. Positif thinking dan tebarkan saja kebahagiaan agar kita turut bahagia.