
Dengan berat hati, Abimanyu melepaskan pelukannya. Mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku jasnya.
"Nis.. apapun yang akan terjadi nanti .. aku hanya mengharap setia mu.. "
Ucap Abimanyu sambil menyematkan sebuah Cincin berlian yang sempat dia pesan dan minta dikirimkan dari tempat pembuat perhiasan langganan bunda.
Dokter Annisa menitikan airmata kembali sambil menerima sematan cincin dari Abimanyu, walau ragu.. namun ia tetap meletakan telapak tangannya disebelah pipi Abimanyu.
"Terima kasih.." ucapnya
Lalu Abimanyu mencium ujung pangkal kepala Annisa.
Mengusap dengan sapu tangannya lagi buliran air mata dokter Annisa.
"Kita makan malam dulu yaa... besok kita pulang penerbangan paling pagi. Ucap Abimanyu sambil mengusap sisa airmata dokter Annisa.
"Iya.." jawab dokter Annisa lembut.
Lalu berdua mereka duduk kembali menikmati makan malam yang tertunda.
Makan malam pertama yang menandakan terjalinnya hubungan diantara mereka berdua.
"Aku akan bawa mama untuk kenal kamu.." ucap Abimanyu memecah kebisuan diantara mereka. Mata dokter Annisa membulat terkejut.
"Secepat itu?" tanya Dokter Annisa.
"Iya.. semakin cepat Bunda mengenal kamu semakin baik, sehingga kita bisa dengan segera mengatakan kebenarannya pada mama, aku mencari seorang istri ingat? aku bukan sekedar mencari pacar" jawab Abimanyu menatap mata Annisa.
"Iyaaa.... aku ingat.. calon suami.." balas Annisa tersenyum manis malu-malu.
Lalu Abi tersenyum bahagia... rasanya damai itu menyertai hatinya mendengar kata "calon suami" dari bibir Annisa.
.
.
.
.
.
.
Beberapa saat ketika selesai makan malam.
Dokter Annisa merasakan hembusan angin malam, menatap indahnya langit malam ini. Lalu tersenyum indah menatap jari manisnya yang kini melingkar cincin paling indah yang dia temui dalam hidupnya. Ia sungguh merasakan kebahagiaan yang tak terkira.
Ya.. Allah..
Ridhoilah niat baik kami..
Dan mudahkanlah jalannya..
Amin Amin Amin YRA
"Sangat bahagia.... kamu?" Annisa balik bertanya.
"Aku juga sangat bahagia..." jawab Abimanyu
Menatap penuh cinta pada Annisa, senyum paling indah yang pernah Annisa lihat selama bertemu dengan Abimanyu, malam ini menambah ketampanan wajah laki-laki calon suaminya itu.
Annisa pun tersenyum manis. Abimanyu menyukai senyum itu. Kelak senyum itu hanya akan menjadi miliknya..
"Bi..."
"Mmmm"
"Ceritakan soal Bunda... dari semua artikel yang aku baca dimanapun... hanya tentang Bunda yang paling sulit aku temui.." ucap Annisa.
Abimanyu menggenggam jemari Annisa. Tersenyum lagi pada gadis disampingnya.
"Bunda itu seperti kamu, aku lihat Bunda dalam diri kamu"
"Apa yang ada di diri aku, yang kamu lihat seperti Bunda?" tanya Annisa memanja. Menggetarkan hati Abimanyu.
"Bunda itu perempuan mandiri, penuh perhatian dan kasih sayang ... walau Bunda tidak selalu menerima hal yang sama ... dia enggak perduli, Bunda itu sangat pengertian .. lebih sering menunjukannya lewat perbuatan dari hanya sekedar kata-kata .. itu persis kayak kamu" mata Abimanyu begitu lekat memandang mata Annisa.
"Kalau yang terakhir .. sepertinya juga diturunkan ke kamu ya?" sela Annisa sambil tersenyum.
"Hahhaaaa" Abimanyu tertawa lepas . Tiba-tiba segalanya menjadi ringan ...
"Mulai sekarang, aku akan belajar memahami kamu Bi..." lembut suara Annisa.
"Aku juga .." jawab Abimanyu. Saling menatap penuh arti satu sama lainnya.
"Ayooo....aku antar kamu kekamar! kalau begini terus, imanku lama-lama juga bisa goyah!" ucap Abimanyu kemudian sambil menggenggam jemari Annisa dan membawanya berdiri dan keluar dari ruangan itu, disertai senyum mereka berdua.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak bintang 5, likes and komen kalian yaa.. itu menyemangati Autor. Terima kasih