
Yoga nampak tertidur lelap, hingga Ia sendiri baru disadarkan dengan suara Nindy yang kembali muntah-muntah dikamar mandi.
Dia menarik celana pendek dari dalam lemari pakaian, dan langsung menemui Nindy dikamar mandi.
"Hon.."
Mengusap punggung Nindy dengan sayang, Mengusap keringat dingin yang membasahi kening Nindy.
Memakaikan kimono mandi pada istrinya yang tadi masih telanjang.
Setelah mualnya mereda, Nindy kembali memeluk Yoga.
Air mata Yoga mengalir kembali, rasanya ingin dia saja yang menggantikan Nindy mengalami ini semua.
Fikirannya sudah tak mampu membayangkan Nindy akan melalui ini semua tanpa ada dirinya disisi Nindy. Membuat dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Kita kekamar lagi sayang ?"
Nindy mengangguk lemah. Yoga menggendong lagi Nindy dan menurunkan Nindy diatas tempat tidurnya. Menuangkan teh Hijau dari termos kecil dan perlahan-lahan Nindy meminum teh itu.
Yoga mengambilkan pakaian tidur untuk istrinya, menggantikan kimono mandi istrinya dengan pakaian tidur itu.
Memberikan usapan menenangkan diperut Istrinya. Yoga mencium kening Nindy, dan berlama-lama disitu.
Nindy mengusap kedua pipi Yoga
"Nin.. nggak apa-apa sayang.. beneran.. Nin bahagia, tadikan dokter bilang, mual-mual ini justru akan menguatkan Baby kita. Demi Dia.. Nin pasti mampu melewati fase ini"
"Maafin aa sayang.."
"Nggak ada yang mesti dimaafin aa.. sekarang aa istirahat lagi.. ini masih malam."
"Iya.."
Yoga pun kembali memeluk Nindy dalam tidurnya. Ia berharap harum tubuhnya bisa menenangkan Nindy kembali. Dan itu sungguh terjadi, karena setelahnya Nindy kembali tertidur.
\=\=\=\=\=\=\=
Suara Adzan yang menyeruak memasuki dinding kamar, membangunkan Nindy pagi itu.
Nindy membuka matanya.. menatap wajah bahagia laki-laki yang tertidur disampingnya. Menyusuri bulu halus yang merangkai diatas mata milik suaminya, turun kehidung mancung Yoga lalu berakhir dibibir suaminya.
Yoga mencium jari Nindy yang menyusuri bibirnya, ternyata Yoga sudah sedari tadi terbangun ketika Nindy menyusuri alisnya.
Namun ia membiarkan Nindy menyusuri wajahnya.. melekangkan ingatan inci demi inci bagian tubuhnya.
"Aa sudah dari tadi bangun yaa.. sebenarnya.."
Suara Nindy memanja, suara yang selalu membuat hati Yoga tergetar. Suara yang hanya boleh Ia yang mendengarkan.
"Iyaa.."
Jawab Yoga dengan suara terdalamnya pelan.
"Baby kita.. nanti wajahnya kayak dadynya atau momynya yaa.."
Jari Nindy kembali menyusuri wajah suaminya.
Yoga merangkul pinggang Nindy
"Kalau dia baby girl, aku mau.. wajahnya seperti momynya... punya mata seteduh mata momynya... punya bibir.. seindah bibir momynya, tapi kalau dia baby boy, dia harus seperti dadynya"
Timpal Nindy
"Hahhaaaa.... o yaa... aku begitu membahagiakan?"
Goda Yoga.
"Membahagiakan dan sedikit menjengkelkan"
Jawab Nindy.
"Tapiii.. itu dulu... sekarang enggak lagi."
Lanjut Nindy.
"Haahhaaa... dady kapok deeeh... enggak akan ngulangin kesalahan kayak dulu lagi. Apa mi... namanya?"
"Nggak peka.."
Jawab Nindy sambil mengusap dada Yoga
"Iya... itu.."
Yoga ******* bibir Nindy, memberikan lebih dari inginnya... pagi ini. Membawa tubuh Nindy pada kehangat tubuhnya. Membuat Nindy tersenyum bahagia lagi dan lagi...
Tubuh Yoga dan Nindy sudah bersimbah peluh.. mereka saling tersenyum.
"Aku bahagia...kamu bahagia sayang."
"Nindy bahagia ... sangat bahagia... terima kasih sayang... kamu sudah sangat membahagiakan.."
Aku hanya ingin seperti ini Tuhan...
Melihat Dia tersenyum...
Dan Bahagia....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku mohon dimaafkan untuk keterlambatan episode-episode yang kemarin yaa.., Autor sudah berusaha, tapi Riview dari fihak Mangatoon adalah mutlak untuk setiap karya yang dikirimkan... Soo kalau kalian belum meninggalkan jejak like di episode-episode yang sudah kalian baca... balik lagi yuu keatas.. tolong dikasih jejak like kalian yaa... terima kasih🙏