My Favorite CEO

My Favorite CEO
56. Aku tak perlu dikasihani (Masa Lalu 3)



Tribal print Tassel Trim Detail kimono dengan celana kulot serta jilbab warna Dongker. Penampilan yang membuat nyaman dipandang mata.


Dia masih berdiri membelakangiku diujung dermaga. Menatap laut yang akan berangkat senja. Deru ombak seperti bunyi deru dalam dadaku. Rasanya ingin kurengkuh tubuh kurus itu dalam pelukan.


Aku menarik nafas panjang. Ini... sungguh tidak akan mudah Nissa...


Tapi melihat dirimu mengubur diri disini, menenggelamkan diri menebus dosa yang tidak satupun kamu lakukan... membuat aku tersiksa.


Sementara kami semua mencari jalan bahagia sendiri...


Angin sudah cukup kencang, outer kimononya melambai-lambai...


"Dokter Annisa..." kusebut namanya. Dia berbalik mengarah padaku.


"Pak Abi..." jawabnya.


"Kita tidak bisa bicara disini, berkenankah dokter Nissa ikut saya?" tanyaku melihat keraguan diwajahnya. Beberapa saat dia berfikir, lalu seperti mengirimkan sebuah pesan pada seseorang lewat handphonenya.


"Baik.. saya tahu Bapak orang baik-baik, jadi tidak ada yang perlu saya khawatirkan bukan pak Abi?" ucapnya menjawab pertanyaanku.


"Saya menjamin itu semua dok" balasku menegaskan bahwa aku adalah laki-laki yang bisa dipercaya.


Lalu dia melangkah mendekat kearahku. Kami melangkah perlahan bersama-sama... dalam diam.


Febry sudah bersiap membukakan pintu mobil untuk dokter Annisa, begitu semua sudah berada didalam, mobilpun melaju.


"Kita akan kemana pak Abi?" pertanyaan pertama setelah mereka sudah beberapa lama berada dimobil dan seolah tidak berhenti dikota L, karena penginapanku baru saja kami lewati.


"Ke kota provinsi, saya sudah memesan tempat yang lebih pantas untuk membicarakan hal penting yang ingin saya sampaikan" jawabku sambil melihat kearahnya, dan ia kembali menundukkan wajahnya ketika mata kami bertemu.


Sesampainya di pangkalan udara, pesawat pribadi Abimanyu sudah siap menunggu. Beberapa orang penting di pangkalan udara itu menyambut kembali kedatanganan Abimanyu.


Ia menjabat tangan orang-orang itu sambil mengucapkan terima kasih karena telah memberikan kemudahan dan jam izin terbang untuk pesawat pribadinya, tanpa memperkenalkan Dokter Annisa, bahkan sepertinya tubuh Abi menyembunyikan tubuh dokter Annisa yang kurus itu dari balik tubuhnya.


Mereka berjalan berdampingan hingga dimulut tangga pesawat.


"Naiklah" ucap Abimanyu mempersilahkan dokter Annisa naik terlebih dahulu. Lalu dokter Annisa mengikuti perintah itu.


Berdua mereka duduk berdampingan, tidak ada seorangpun yang memulai pembicaraan. Terlebih dokter Annisa, dia sangat takut kalau memulai pembicaraan. Karena beberapa kali berkomunikasi dengan lelaki yang saat ini ada disampingnya, selalu ia salah bicara.


Abimanyu memperhatikan diamnya dokter Annisa selama berada disampingnya. Sesekali melihat kearah dokter Annisa yang membolak balikan majalah yang tersedia dipesawatnya. Tak ada satu pun berita yang ia baca, tapi memegang majalah, sepertinya mengalihkan kegugupannya.


Pesawat sudah mendarat kembali.


Abimanyu yang kali ini turun terlebih dahulu sambil memperhatikan langkah dokter Annisa sesekali menuruni beberapa anak tangga.


Dibawahnya sudah ada mobil yang menunggu, dan akhirnya membawa mereka kesebuah hotel bintang empat yang sangat terkenal dikota itu.


Febry membuka pintu untuk dokter Annisa, sementara petugas hotel membukakan pintu untuk Abimanyu. Setelah Abi berada disisi Dokter Annisa baru mereka berdua melangkah masuk kedalam hotel dan diarahkan menuju sebuah ruangan dengan view pemandangan yang indah, dari ketinggian yang bisa mereka lihat. Lampu-lampu indah sudah menerangi pepohonan, pinggiran kolam renang juga beberapa tempat yang membuatnya menjadi begitu romantis.


Para pelayan mulai menyajikan beberapa hidangan makanan dan minuman yang sudah dipesan. Lalu meninggalkan mereka hanya berdua.


Angin malam sepoy-sepoy menyeruak kedalam ruangan yang pintu kacanya sudah dengan sengaja dibuka lebar-lebar.


"Minumlah dok.." ucap Abimanyu.


"Boleh saya hanya memanggil nama panggilan saja dok?" tanya Abimanyu.


"Silahkan pak, saya tidak berkeberatan" ucap Dokter Annisa.


"Nis... saya sebelum ini, pernah merasakan sakitnya dikhianati oleh seseorang yang sejak di bangku SMA saya cintai. Pengalaman itu membuat saya tidak berniat lagi memulai suatu hubungan hanya dengan istilahnya pacaran. Saya ingin langsung mengikatnya pada sebuah pernikahan. Dan itu, saya rasakan ketika saya beberapakali bertemu dengan kamu" Abimanyu terdiam sesaat. Memperhatikan wajah dokter Annisa yang duduk dihadapannya.


Dokter Annisa meremas kedua jemari tangannya yang saling bertautan dibawah meja. Segala rasa berkecamuk didalam hatinya saat ini. Tak ada hujan tak ada badai, tiba-tiba ada lelaki yang mengatakan ingin menikahi dirinya. Airmata mengembang dipelupuk matanya... ia tak dapat menggambarkan apakah itu air mata bahagia ataukah airmata kesedihan.


"Dan maaf..jika saya sudah lancang mencari tahu semua latar belakang keluargamu.."


"Dan apakah hal itu tidak menyurutkan niatmu Bi?" sela dokter Annisa. Kali ini keberaniannya menuntut Ia memandang wajah Abimanyu, mencari kebenaran dan tekad dimata laki-laki itu.


"Karenanya, aku butuh persetujuan juga kekuatan kamu untuk langkah selanjutnya, terus terang hal yang aku lihat disini... bagaimana kamu melepas belenggu terhadap aib keluargamu itulah yang membuat aku ingin kita berjuang bersama-sama untuk pernikahan ini"


"Bi... buat apa kamu bersusah payah untuk semua ini? kamu bisa memiliki wanita cantik dan lebih sederajat denganmu... dengan keluargamu! buat apa ini semua? aku tidak patut dikasihani! dan aku tidak ingin! bagaimanapun.. apa yang aku jalani sekarang adalah hal yang memang aku senangi.. dan yang membuat hidup diri ini!" timpal dokter Annisa. Airmatanya yang jatuh dengan segera ia seka.


"Selama ini aku baik-baik saja tanpa seseorang pun dalam hidupku! jangan pernah kamu mengasihani aku!" sedikit seperti orang yang berteriak karena kesal, dokter Annisa menundukkan wajahnya menangis dan berkali-kali menyeka air mata yang jatuh dipipinya.


Abimanyu menarik nafasnya dalam-dalam...


Ia tahu semua ini tidak akan mudah sejak awal...


Tapi hatinya tetap ingin melakukan ini semua.


"Niss... aku melakukannya karena aku ingin. Bukan karena mengasihani kamu! kalau aku tidak inginkan kamu.. buat apa aku mengatakan semua ini ke kamu!"


"Dan .. kamu tahu Bi, itu bahkan tidak mungkin sejak awal. Pamanku, Sepupuku ! adalah orang yang hampir bahkan membuat kamu tidak akan pernah ada didunia ini! belum lagi ayahmu dan perusahaannya hampir dibuat hancur! kamu juga pasti tahu kan! karenanya Ayahku terus mendendam dan selalu menjadi lawan bisnis yang dibenci oleh Ayahmu! kurang apa lagi yang akan membuat kamu mengurungkan niatmu!"


"Kamu! itu alasannya! semua ini karena kamu!" jawab Abimanyu tegas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih untuk pembaca MFC yang bersabar dan setia menunggu Autor Up. Malam ini akan ada 2 Episode yg akan kalian nikmati yaa..


Mohon maaf karena baru bisa up Senin malam.


Tapi jangan lupa likes, komen, dan bintang 5 kalian yaa tksh