
Abimanyu memeluk bahu Annisa, menemani rasanya ... melepaskan ...
Menatap punggung Bramantyo yang hilang dari pandangan mata.
"Kamu wanita kecil yang kuat sayang ..." Ucap Abimanyu sambil mencium ujung pangkal kepala Annisa.
"Bi ... aku sudah banyak kehilangan ..." lirih suara Annisa, kemudian Annisa merubah posisinya menjadi berhadapan dengan Abimanyu.
"Aku berharap ... kamu .. tidak pernah meninggalkan aku juga ..." ucap Annisa lagi sambil memandang wajah calon suaminya. Melihat dikedua mata Abimanyu yang juga menatapnya lembut.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Nisa ... kecuali maut yang menjemput" jawab Abimanyu tegas dan menenangkan hati Annisa.
Keduanya saling menatap lama, mencoba saling memahami tanpa kata-kata. Dihati mereka sudah saling mendoakan untuk kebaikan bersama.
Tuhan ...
Kaulah yang menakdirkan cinta ini
Menghadirkan indahnya
Hingga rasa itu tak bisa kubendung lagi.
Atas namamu ...
Mampukan aku ..
Menjadi seperti apa yang ia inginkan ...
(Abimanyu_ kamu bahagiaku)
.
.
.
.
.
.
.
.
Disebuah galery jewelry
Annisa menebarkan arah pandang kesekitarnya, begitu banyak model perhiasan yang terpampang disana, padahal dari luar galery itu hanya nampak seperti rumah biasa saja.
Seorang pramuniaga menyambut mereka ramah, lalu mempersilahkan Annisa dan Abimanyu duduk sementara dia akan membawakan contoh model perhiasan mereka sebagai rekomendasi yang sering dipesan calon pasangan pengantin.
Cukup lama Annisa mempertimbangkan yang akan dipilihnya. Semua ada keunikan masing-masing, atas persetujuan dari Abi juga akhirnya mereka memutuskan dua buah pasang cincin untuk acara lamaran dan setelah akad nikah nanti.
Sepasang cincin melambangkan hati ini dipilih Annisa dan Abimanyu sebagai penanda bahwa hati mereka telah termiliki satu sama lainnya, cincin yang akan memperlihatkan utuh hati mereka ketika kedua cincin itu saling bertautan, seperti mereka yang juga baru merasa utuh ketika bersama. Melambangkan bahwa mereka saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, saling melengkapi satu dengan yang lainnya.
Dan Cincin ini, yang akan kedua orang tua mereka sematkan nanti diacara lamaran resmi.
Cincin kedua ini, dipilih Annisa dan Abimanyu. Menggambarkan dua kepribadian mereka yang berbeda, yang mengikat dan melebur menjadi satu. Dua alur yang berbeda pada cincin tersebut menggambarkan perbedaan yang bukan memisahkan ... namun perbedaan yang membuat mereka mampu saling memahami, saling menghargai dan yang selalu menyatukan mereka.
Abimanyu begitu tersentuh hatinya, karena Annisa melambangkan segalanya penuh makna. Kekasihnya itu selalu memberi nilai pada segala hal yang memaknai hidupnya.
Abi merasa segalanya menjadi begitu spesial bersama Annisa.
Kelembutan itu yang membuat Abi tersenyum kagum pada wanita dihadapannya yang masih menunduk memilih beberapa perhiasan yang diminta Abi sebagai pelengkap.
"Sayang ...." panggil Abimanyu. Yang dipanggil mendongakkan wajahnya, melihat kearah Abi.
klik
Satu gambar Annisa diambil dan disimpan oleh Abi.
"Iih bilang doong kalau mau foto in aku, biar siap-siap" ucap Annisa
"Yang spontan lebih manis!" jawab Abimanyu tersenyum.
"Masa ? apa iya lebih manis ?" ucap Annisa lagi sambil mematut-matutkan mimik wajah lucunya yang membuat Abi tersenyum lebar dan gemas.
"Jangan mancing-mancing yaa ... lihat lagi itu .. mana yang kamu suka" jawab Abimanyu sambil memencet hidung Annisa.
*Dears love
Aku bisa melupakan segalanya
Karena mencintaimu.
(Abimanyu_ kamu bahagiaku*)