
Bunda memperhatikan sejenak kesibukan Dokter Annisa selama melayani pasien di Puskesmas. Menatap sendu pada putranya yang mampu membuka hatinya kembali. Dan karena ia ibunya, Nindy sangat mengerti pasti itu adalah kekuatan paling besar yang mampu menggoyahkan hati Abimanyu.
Bunda memperhatikan sebentar dari pintu yang terbuka, ruangan dimana dokter Annisa masih memeriksa pasiennya. Melihat garis lembut dari wajah gadis itu, yang sedang berbicara memberikan konsultasi pada pasiennya.
Airmata bunda menggenang dipelupuk matanya.
Apakah... gadis itu juga menangis tadi, karena langsung mengingat dosa keluarganya ketika melihatku? bahkan ketika itu dia dan Abi belum sama-sama dilahirkan?
Abi... nak... mengapa garis tanganmu harus seperti ini?
Batin Nindy.
"Bi... boleh antarkan bunda pulang? nanti sore..ajak Nisa ke penginapan kita yaa" pinta bunda.
"Baik Bun, sebentar Abi pamit dulu ke Nisa" jawab Abimanyu.
Kemudian Abi menulis sebuah pesan
Bunda dan Aku pamit pulang dulu kepenginapan yaa Sayang, sore nanti aku jemput kamu. Bunda ingin mengajak bertemu_ Abimanyu.
Dokter Annisa mendengar suara pesan masuk dihandphonenya, lalu membuka pesan itu.
Iya sayang, aku keluar sebentar_Annisa
Kemudian dokter Annisa pamit keluar sebentar kepada pasiennya, kemudian menemui bunda.
"Maaf yaa Bun, Nisa belum bisa menemani dan menjamu bunda seperti seharusnya" ucap Annisa sambil mencium punggung tangan Bunda.
"Bunda masih lama disini nak.. kita masih banyak waktu untuk saling mengenal" balas bunda sambil menyapu pipi Annisa lembut, menatap mata gadis itu yang menyimpan banyak kerinduan sosok seorang ibu.
Tak terasa airmatanya begitu saja menetes .. pun demikian dengan airmata bunda.
Abimanyu tidak memahami apa yang terjadi, dua wanita dihadapannya seolah mengerti satu sama lain walau tanpa kata-kata.
Bunda dengan rasanya .. memeluk Annisa ..
"Bunda tunggu nanti sore yaa.." ucap bunda ketika masih memeluk Annisa. Annisa membalasnya dengan anggukan.
Lalu Bunda melepas pelukannya, kemudian berpamitan, diikuti oleh Abimanyu yang berpamitan dan melangkah keluar dari Puskesmas.
"Bun..." panggil Abimanyu pada bunda ketika mereka sudah didalam mobil.
"Iyaa nak.." jawab bunda.
"Kenapa bunda nangis tadi ?" tanya Abimanyu lagi
"Nggak apa-apa.. bunda cuma kasian aja kok kurus banget sih Annisa!" jawab bunda mengalihkan pembicaraan.
"Iyaa.. Abi juga rasa ke kurusan yaa Nisa bun" tanggapan Abimanyu yang tahu benar kalau bundanya sedang berbohong.
Abimanyu menangkupkan telapak tangannya ke pipi bunda. Entahlah.. Ia hanya merasa ingin saja menenangkan hati Bundanya. Apapun yang berkecamuk didalam hati bunda saat ini pasti berhubungan dengan dirinya. Bahkan Abi berharap, Bundanya sudah tersentuh dengan apa yang dilihatnya hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
Disore harinya.
Abimanyu baru saja keluar dari mobilnya dan akan melangkah mendekati rumah yang disewa Dokter Annisa, Titi dan Aisyah, namun dilihatnya Dokter Annisa sudah keluar menemuinya.
Abimanyu terkesima menatap kearah Annisa.
Gadis itu tersenyum melihat kearah Abimanyu.
Dibalut Classy pearles beaded aline warna kulit membentuk sabuk dibagian pinggangnya yang kurus membuat Annisa sore itu seperti pengantin wanita yang cantik dimata Abimanyu.
"Hari ini .. kamu pakai make up?" tanya Abimanyu salah tingkah.
"Kenapa? terlalu menor yaa? kalau gitu..tunggu yaa aku hapus dulu!" ucap Annisa, dan sebelum tubuhnya berbalik benar, Abimanyu sudah menahan lengannya.
"Jangan!" suara Abimanyu sedikit keras hingga mengejutkan Annisa lagi. Gadis itu menatap wajah Abimanyu.
"Benar suka?" tanya Annisa lagi sambil menggenggam jemari Abimanyu.
"Iyaaa.." jawab Abimanyu sambil melihat kearah genggaman jemari Annisa, dia salah tingkah.
"Kamu memang terlalu kurus.. lihat.. betapa jauh perbedaannya dengan jari-jari tanganku!" ucap Abimanyu mengalihkan pembicaraan.
Dokter Annisa tersenyum mendengarkannya.
"Cincin ini jadi sangat terlihat minimalis dijarimu. Seharusnya aku memilih lingkaran yang lebih tebal ukurannya" ucap Abimanyu masih meracau, karena salah tingkah.
"Yaaa... aku rasa itu bisa jadi dipertimbangkan untuk cincin pernikahan kita.." balas Annisa sambil tersenyum jahil masih memperhatikan Abimanyu.
Secara tiba-tiba Abimanyu langsung mengalihkan wajahnya kearah Annisa.
"Xixxiii... Amin..." balas Annisa sambil nyengir memamerkan gigi-giginya yang rapih.
Abimanyu pun tersenyum lebar.. bahagia.
"Amin.." ucapnya juga, kemudian mulai melangkah membimbing Annisa menuju mobilnya.
.
.
.
.
.
.
Didalam mobil, berulang kali Abimanyu mencuri-curi pandang lagi kearah Annisa. Gadis itu selalu saja mengagetkannya dengan hal-hal yang tidak terduga.. dan itu selalu membuat hatinya bergetar.
Annisa merasa bahwa Ia diperhatikan Abimanyu, tapi ... hatinya yang menderu gugup akan pertemuan sore ini dengan ibu dari calon suaminya, membuat dia semakin gelisah disamping calon suaminya.
"Kamu ganti parfum Nis?" tanya Abimanyu. Annisa menolehkan wajahnya kearah wajah Abimanyu.
"Iya.. aku punya beberapa wangi yang berbeda. Kamu suka yang mana?" jawab Annisa.
"Aku.. suka dua-duanya.. nyaman diciumnya" ucap Abimanyu.
"Syukurlah.. Hari ini.. kamu juga merapihkan rambutmu sayang?" ucap Annisa lembut, membuat Abimanyu menyukai cara Annisa memanggil kata "sayang" padanya.
Abi tersenyum
"Sedikit, supaya terlihat lebih fresh" jawab Abi.
"Aku suka.." balas Annisa .. tahu apa yang ditunggu oleh Abimanyu.
Abimanyu tersanjung hingga dia tersenyum sambil memalingkan wajahnya ke kaca mobil disampingnya.
Seperti dugaan Annisa, bahwa mereka sore itu pasti akan terbang lagi. Dan Mobil Abimanyu sudah meninggalkan penginapannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku ingin katakan...
Kau sore ini terlihat seperti bidadari..
Aku suka ...