My Favorite CEO

My Favorite CEO
92. Memori 4



Minggu pagi


Annisa memencet bel rumah itu.


Tidak berapa lama Rara berlari keluar membukakan pintu pagar untuk Annisa.


"Hiiii! aku ganggu nggak?" ucap Annisa begitu dilihatnya gadis mungil dihadapannya.


"Enggak dok, aku sama Rasya juga lagi nonton TV aja!" jawab Rara.


"Mau nggak aku ajak bikin album dan video untuk kedatangan mama kalian nanti dirumah?" tanya Annisa


"Waaa... ide bagus dok, ayooo maau!" jawab Rara sambil memeluk Annisa. Annisa membalas pelukannya dengan bahagia, lalu masuk beriringan ke dalam rumah gadis tersebut.


"Rasya! lihat siapa yang datang!" ucap Rara ketika melihat adiknya masih belum beralih dari televisi.


"Haaaiiii tetangga!" seru Rasya sambil berlari memeluk Annisa.


Annisa tersenyum mendengar sebutan itu. Karena ia pun sering memanggil Rasya dengan sebutan "tetangga"


"Haaaai bocah cilik! kamu memakai sebutanku!" balas Annisa sambil menguyel-uyel rambut anak lelaki kecil itu. Lalu mereka tertawa bersama.


Akhirnya beberapa saat kemudian, Annisa, Rara dan Rasya sudah mengambil begitu banyak gambar bahagia


"Ayooo Ra ... senyum lebih lebar ... seperti Rasya tuuuh !" teriak Annisa ketika siap mengabadikan kedua kakak beradik itu.



Bibi hanya bisa geleng-geleng kepala, karena begitu banyak kaos, celana, dress dan segala pernah pernik berserakan. Namun wanita setengah baya itu tersenyum melihat kegembiraan yang selalu dibawa Annisa untuk Rara dan Rasya.


"Eeehhh... kita tiduran di rumput ini yuuk, aku juga mau punya foto kalian!" ucap Annisa sambil merebahkan tubuhnya di rerumputan halaman rumah, diikuti oleh Rasya Yang menutup sebelah matanya dengan memberikan dua jarinya, sementara Rara menguncupkan bibirnya layak seseorang yang mencium dari jauh, sementara tangan Annisa menekan tombol pada kameranya dan dia pun ikut membuka mulutnya ceria dan klik dua gambar sudah diabadikan olehnya.


"Sedang apa kalian!" tiba-tiba suara yang berwibawa itu membuyarkan aksi mereka.


"Papa!" teriak Rasya yang langsung bangun dan memeluk Papanya. Disusul oleh Rara.


"Kenapa kalian tidur-tiduran diatas rumput hmmm?" tanya Rio pada kedua anaknya.


"Xixiiii itu pah, dokter Annisa sedang membuat foto dan video buat nanti menyambut kepulangan mama kerumah lagi!" jawab Rara sambil melambaikan tangannya pada dokter Annisa untuk mendekat.


Lalu Annisa mendekat sambil menyerahkan kameranya kepada Rio.


Rio sambil menatap kearah Annisa, lalu mengambil kamera tersebut, memperhatikan semua gambar anak-anaknya juga video yang mereka buat.


Hatinya menjadi sangat tidak karuan melihat itu. Lalu menatap kembali ke wajah Annisa.


"Bolehkah kamu juga mengambil gambar dan video aku dan anak-anakku Nis?" ucap Rio mencoba memanggil panggilan tidak formil pada Annisa. Membuat Annisa tertegun.


"Dokter Nisa .. kok malah bengong!" ucap Rara menyadarkan lamunan Annisa.


"OOO... ya.. yaa.. boleh .. bahkan itu bagus! apakah pak Rio mau berganti pakaian dulu agar tampak lebih ceria!" jawab Annisa kemudian sambil tersenyum.


"Ok. tunggu sebentar .. aku akan bersiap dulu!" jawab Rio sambil mengecup kening Rasya dan Rara lalu beranjak untuk naik kekamarnya.


Kemudian Bibi menyiapkan minuman sirup dan beberapa cemilan untuk mereka nikmati. Sambil menikmati semua yang bibi siapkan, mereka bertiga terlihat tertawa-tawa melihat beberapa gambar yang tadi sudah terabadikan.


Rio mendengar tawa anak-anaknya dari dalam kamar, lalu Ia keluar kamar dan memperhatikan dari atas bagaimana Annisa membuat anak-anaknya bahagia, terutama Rara yang sejenak bisa melupakan sakit mamanya, kalau Rasya dia memang belum bisa banyak mengerti tentang sakit yang sedang diderita mamanya.


Langkahnya sedikit memburu untuk lekas kelantai 1 lagi. Dan membuat Annisa juga anak-anaknya melempar pandangan kearahnya.


"Ayooo! papa sudah siap!" ucapnya terdengar riang. Kemudian Rasya dan Rara langsung menghambur kepelukan papanya.


"Kita ambil gambar dipianonya mama pah!" bujuk Rara. Lalu Rio menganggukan kepalanya dan berjalan mengikuti anak-anaknya, sementara Annisa menjaga jarak berjalan dibelakang Rio.


Lalu Rio membuka penutup pada tuts piano istrinya, mengambil posisi seolah sedang menekan tuts piano itu yang diikuti oleh Rasya, Sementara Rara memegang bingkai Foto mamanya yang begitu terlihat cantik dan bahagia, lalu Annisa mengambil beberapa gambar secara spontanitas.


Kemudian Rio meminta Annisa mengambil gambar mereka bertiga dari belakang sambil menatap keluar halaman yang terdapat kolam renang disana. Sementara tirai fitrase yang melambai-lambai pagi itu menjadi bagian gambar yang menjadi begitu pas .. namun seperti membawa kesedihan. Hati Annisa menjadi begitu merasakan perasaan ketiganya ...


"Sudah ..." ucap Annisa memberitahu dengan nada seperti tercekat karena ingin menangis. Rio menangkap suara getir itu lalu memalingkan wajahnya pada Annisa. Annisa yang tahu itu langsung memalingkan wajahnya kearah lain sambil mengalihkan untuk mereka seolah sedang berbincang-bincang dipinggir kolam renang.


Dan terakhir adalah video yang dibuat Rio untuk istrinya. Gambar itu berlatar taman bunga dihalaman mereka yang ternyata ditanam sendiri oleh istrinya.


Kata-kata Cinta Rio pada istri sekaligus mama dari anak-anaknya membuat airmata Annisa dibuat begitu saja mengalir. Berkali-kali ia menyeka airmata itu.


Setelah Rio, Rara dan Rasya selesai memberikan kalimat semangat untuk manya divideo itu. Annisa langsung mohon diri.


"Kenapa buru-buru Bu dokter?" tanya Rasya yang sedikit kecewa.


"Hiii.. jagoan... aku harus buru-buru mengantarkan kamera ini ketemanku yang pintar mengedit dan membuat video, supaya begitu mama kalian pulang, semuanya bisa menjadi surprise buat mama!" jawab Annisa mencoba ceria.


"OOO begitu .. baiklah, tapi sering-seringlah Bu dokter bermain kerumah Rasya ya!" jawab Rasya.


"InsyaAllah .. kalau aku tidak sibuk dirumah sakit. Pasti aku akan main lagi ! ok !" jawab Annisa sambil mengacak-ngacak pangkal kepala Rasya.


"Ok!" jawab kompak Rara dan Rasya sambil memeluk Annisa.


"Kalau begitu kalian juga harus bersiap-siap, mama sudah kangen ingin melihat kalian!" ucap Rio kemudian sambil meminta bibi untuk membantu anak-anaknya bersiap-siap untuk kerumah sakit.


"Baiklah ... saya pamit pak Rio .." ucap Annisa.


"Terima kasih untuk hari ini Nis, panggil saja saya Rio jangan terlalu formil, anak-anak juga sudah menganggapmu teman baik mereka!" ucap Rio sambil mengantarkan Annisa keluar rumahnya.


Annisa rikuh dengan situasi ini.


"Terima kasih juga sudah memperkenankan saya mengambil gambar dan video anak-annaak... pak Rio" ucap Annisa yang masih belum bisa mengakrabkan diri.


Rio tersenyum menanggapinya. Lalu hanya memberikan anggukan kepalanya. Annisa sudah keluar dari pagar rumah Rio, melangkah cepat untuk masuk kedalam rumahnya sendiri.


Rio melangkah masuk kembali kedalam rumahnya dengan wajah menunduk.


"Papa ..." panggil Rara mengejutkan Rio.


"Ya sayang ..." jawabnya sambil memeluk bahu putrinya.


"Papa sedih ?" tanya Rara kemudian, membuat Rio memalingkan wajahnya pada putrinya itu. Lalu mengajak Rara untuk duduk di sofa ruang tamu bersebelahan dengan dirinya.


"Ya ... nak, papa sedih ... bagaimanapun melihat orang yang kita cintai sedang berjuang untuk tetap bertahan demi papa, demi Rara .. demi Rasya.. itu menyakitkan sayang..." ucap Rio sambil mengusap airmata dipipi putrinya.


"Tapiii .. tadi kata dokter Nisa, kita harus bahagia diwaktu yang masih diberikan Tuhan untuk kita bersama mama .. jangan ada sedih katanya, karena mama juga pasti ingin meninggalkan segala yang indah dan bahagia untuk kita papa" ucap Rara yang langsung wajah gadis itu di bawa oleh Rio kedalam dekapannya.


"Iyaaa.. benar Ra, apa yg dikatakan dokter Annisa .. ayo kita buat mama selalu bahagia ... jangan ada kesedihan .. OK!" jawab Rio