My Favorite CEO

My Favorite CEO
95. Percaya diri



flash back off


"Rasya ... besok kan aku datang kehotel kalian, aku janji kita seharian akan bersama-sama, ok" jawab Annisa dengan ujung matanya yang sudah membasah.


"Aku janji akan tepat waktu membawa istriku kehotel tempat kalian menginap!" sela Abimanyu meyakinkan.


"Kami tunggu yaa om, terima kasih" ucap Rara sambil sekali lagi memeluk Annisa, demikian juga dengan Rasya.


"Kami pamit duluan, terima kasih untuk apa yang kalian akan lakukan untuk anak-anak..saya sangat menghargainya!" ucap Rio sambil menjabat tangan Rio dan menangkupkan tangannya otomatis untuk Annisa.


Abimanyu langsung mendekap tubuh Annisa dalam pelukannya, Ia menyadari ada sesuatu yang berat dulu pernah terjadi dalam kehidupan Annisa, dan mungkin cerita mereka salah satunya.


Rio membalikkan badannya lagi untuk melihat Annisa sekali lagi. Dan ketika ia melihat Abimanyu sedang memeluk erat Annisa ditempat umum, Rio menyadari betapa suami Annisa mencintainya, membuat ia tersenyum bahagia untuk Annisa.


"Yaaa ampuun balik duluan giiih sana kalian ke hotel.. sakit nih mata gue lihatnya!" ledek Axsal yang sebenarnya dia ingin memberi waktu pengantin baru itu untuk menenangkan istrinya.


Abimanyu menyerahkan sebuah kartu.


"Apaan sih loe.. baru juga makan diRaminten! dah sana ...!" ucap Axsal sambil melambai-lambaikan tangannya.


"Ayooo sayang ... kita pergi dari sini.." ucap Abimanyu sambil memeluk bahu Annisa yang tangan satunya masih memeluk pinggang Abimanyu.


Mereka menjauh dari keramaian kota menuju pinggiran pantai. Selama diperjalanan Annisa hanya diam, sesekali memandang ke arah Abimanyu, lalu kepemandangan disepanjang jalan yang mereka lalui.


Abimanyu memberi waktu untuk Annisa juga untuk dirinya.


Terkadang .. hati kita tidak siap jika harus menerima dalam suatu waktu peristiwa lalu yang paling berkesan untuk orang yang kita cintai.


Seperti itu juga perasaan kalian bukan?


Karena kita selalu ingin, hanya kenangan bersama kita sajalah yang paling berkesan dihati orang yang kita cintai.


Tapi itu terlalu naif ..


Karena kita sendiri juga pasti memiliki kisah yang kita simpan jauh didalam hati kita untuk semua cerita yang paling berkesan dalam hidup kita bukan?


Kita menyimpannya agar tidak ada yang merasa disakiti. Dan itu adalah bagian dari masa lalu, sementara hal yang kita hadapi saat ini bersamanya adalah masa depan.


"Mas ...." panggil Annisa kemudian


"Hmmmmm..." jawab Abimanyu sambil menangkupkan tangan kirinya ke pipi Annisa.


"Apa sayang ..." tanyanya sambil tetap berkonsentrasi kembali kejalanan yang mereka lalui.


"Aku mau cerita .." jawab Annisa sambil menatap kearah Abimanyu yang sedang menyetir mobilnya.


"Ceritakan ... aku akan mendengarkan!" jawab Abimanyu lagi sambil menangkupkan kembali tangannya dipipi Annisa.


Kemudian Annisa mulai menceritakan secara garis besar tentang Rio, Rania, Rara dan Rasya kepada Abimanyu.


Mendengarkan. Abimanyu melakukan itu.


Memahami sekaligus mengerti akan yang Annisa rasakan, jalani dan ia simpan sendiri selama ini.


Abimanyu menghentikan laju kendaraannya tepat dipinggir pantai. Membiarkan Annisa menyelesaikan ceritanya.


"Maafin Nisa yaaa mas .. " diakhir ceritanya Nisa mengatakan itu sambil menggenggam jemari Abimanyu.


Abi, menarik nafasnya .. kemudian perlahan membuangnya, Ia mencoba menenangkan dirinya setelah mendengarkan penjelasan Annisa tadi.


Lalu ia membuka pintu mobilnya, memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Annisa. Annisa menurut, mengikuti keinginan suaminya. Ia keluar dari mobil dan tidak berani berkata-kata setelahnya.


Begitu Annisa sudah berdiri dihadapannya, Abi sekali lagi memeluk istrinya erat, kemudian mencium keningnya.


"Mereka tidak salah karena telah sangat mencintaimu ... karenanya aku bersyukur bahwa aku pemenang hatimu.." ucap Abimanyu sambil memeluk lagi Annisa.


"Aku akan sangat membahagiakanmu .. hingga kamu akan merasakan tidak ada ruang lagi untuk kesedihan. Aku mencintaimu ..." ucap Abimanyu ditelinga Annisa yang ia peluk.


Annisa terharu dan sangat bahagia mendengarnya.


"Aku lebih mencintaimu mas ..." balas Annisa tersenyum


Mereka menyusuri pasir pantai, saling menggenggamkan jemari. Dengan Abimanyu memeluk Annisa dari belakang, berdua mereka memperhatikan ombak yang bergulung.


Membiarkan kaki mereka dihempas air laut. Menautkan hati dan membuang segala kesedihan.


"Anak-anak kita nanti .. akan lebih mencintaimu daripada cinta Rara dan Rasya padamu ... dan pastinya, karena aku ayahnya .. anak-anak kita juga pasti jauh lebih manis dan lebih ganteng dari mereka!" ucap Abimanyu sambil tersenyum


"Itu sudah pasti .." balas Annisa tersenyum mendengarnya.



Laki-laki yang begitu mencintainya, seseorang yang mampu menghilangkan segala kesedihan dalam hidupnya. Lelaki yang akan membawakan banyak kebahagiaan untuknya dimasa depan.


.


.


.


.


.


.


Hari sudah larut ketika Abimanyu dan Annisa kembali kekamar hotel. Sahabat- sahabat mereka pun sudah kembali ke kota mereka masing-masing, penerbangan jam 19.00 malam tadi.


Setelah membersihkan diri, keduanya merebahkan tubuh mereka diatas tempat tidur yang terasa begitu nyaman.


Hari ini begitu melelahkan secara emosional, membuat keduanya langsung terlelap dalam pelukan.


.


.


.


.


.


Pagi yang indah


Annisa menatap dengan hangat laki-laki yang tertidur disampingnya. Rasa bangga yang membuncah dihatinya karena memiliki suami setampan Abimanyu membuat ia tersenyum.


Detail wajah Abimanyu direkam dalam ingatannya. Sekilas Ia mencium hidung suaminya yang mancung. Lalu tersenyum lagi.


Annisa berdoa didalam hatinya, agar Tuhan benar-benar bermurah hati padanya sekarang, bahwa Ia ingin rasa bahagia dan ketentraman dihatinya ini untuk selamanya.


Annisa turun memperhatikan bibir suaminya, membuat debaran didadanya kembali, sehingga mengingatkan bagaimana bibir itu telah memberi banyak kebahagiaan untuknya.


Bagaimana bisa laki-laki sempurna ini memilih dan mencintainya? batin Annisa


Ia tersenyum lagi ..


Tapi aku akan membuatmu selalu tidak menyesal karena memilihku .. sayang ...


Lalu Annisa mendekatkan dirinya, mencuri cium bibir suaminya yang masih tertidur. Ciu*an pertama berhasil, tetapi begitu ciu*an kedua ternyata Abimanyu langsung menautkan bibirnya lebih dalam membuat Annisa tersenyum dalam ciu*annya.


"Berapa kali kamu sudah mencuri ciuman dari suami yang tertidur hmmmm ..." ucap Abimanyu sambil memeluk pinggang Annisa.


"Dua kali?" jawab Annisa sambil memainkan jarinya dibibir Abimanyu.


"Bohong..." bisik Abimanyu sambil mempermainkan bibirnya yang dipermainkan jari Annisa. Kemudian Abimanyu memberi sentuhan bibirnya di ceruk dibawah telinga Annisa, membawa kepasrahan pada tubuh istrinya yang menyambut keintiman itu, menyatukan mereka pada irama yang mendamba, saling memberi dan terhanyut pada pemujaan pada yang tercinta.


Annisa kembali menunjukan keberanian yang hanya diperuntukan bagi lelaki yang menjadi belahan jiwanya, tidak membiarkan keraguan untuk menyenangkan kekasihnya itu, mengikat Abimanyu pada perasaan mendamba yang hanya pada Annisa, sang pemilik jiwa dan raganya.


Berulangkali Abimanyu memuja istrinya, menyebutkan nama istrinya itu penuh pendambaan .. Membuat Annisa tersenyum bahagia .. membuncah kebanggaannya karena bisa membahagiakan belahan jiwanya itu.


.


.


.


.


.


Sesaat setelahnya berulang kali Abimanyu menyatakan cinta dan terima kasihnya pada sang pemilik jiwa dan raganya. Membawa wajah Annisa dalam dadanya yang bersimbah jejak cinta mereka pagi ini.


Alarm dari handphone Abimanyu berbunyi, mengingatkan satu janji yang sudah dibuat untuk hari ini.


Kemudian dengan bahagia, Abimanyu mengangkat dan membawa istrinya yang melingkarkan tangannya dileher Abimanyu dengan senyum bahagia itu kedalam kamar mandi.


Ia sangat percaya diri hari ini untuk bertemu orang-orang yang juga sangat menyayangi istrinya.