
Malam itu Abi terbaring diatas sofa empuk tidak jauh dari ranjang Handa. Dia sengaja belum mengabari ayah dan bundanya terlebih pada orang tua Handa. Dia masih menunggu pagi agar semua orang tua itu keadaannya sudah cukup istirahat dulu untuk selanjutnya pasti hanya ingin menjaga Handa dirumah sakit.
Keberadaan Abimanyu dan Handa sejak malam tadi sudah menjadi pembicaraan seantero rumah sakit. Hingga sampai beritanya pun ketelinga Tita.
Pagi itu Tita pergi kerumah sakit bahkan sebelum Tristan menjemputnya. Dia membawa sendiri mobilnya ke rumah sakit. Tita ingin mengetahui kebenarannya langsung.
Kenapa Bi? kenapa kamu bawa dia kerumah sakit ku? apa ini cara kamu membalas semua yang aku lakukan padamu?
Suara Batin Tita terus menerus mengatakan hal itu.
Sampai ketika Tita memarkirkan mobilnya, kemudian tergesa-gesa masuk kedalam rumah sakit.
"Dokter Tita!' panggil salah seorang perawat.
Tita menoleh kearah sumber suara.
"Dok... mereka ada dikamar VVIP!" ucap perawat itu lagi.
Tita mengusap bahu perawat yang memberi informasi tersebut sambil berkata
"Terima kasih yaa.."
Tita mencoba menghubungi Abimanyu sebelum lift yang membawanya keruang rawat VVIP berhenti.
Abimanyu baru saja mencuci wajahnya ketika ponselnya berdering. Pagi tadi setelah sholat subuh, dia sudah mengabarkan keadaan Handa pada ayahnya dan juga pada om Ade ayah Handa. Keduanya menjawab akan segera datang ke rumah sakit.
"Ya.. Hallo Ta..?"
"Bi... boleh aku lihat Arimbi?" tanya Tita.
"Silahkan Ta, nggak ada yang melarang kamu!" jawab Abimanyu.
Abi keluar dari kamar mandi
"Hiii kamu sudah bangun?" tanya Abimanyu melihat Handa yang sudah membuka matanya.
"Biii....tambah sakit kakiku.." rintih Handa
Abi langsung memencet bel ruangan. Tak berapa lama datang perawat.
"Iyaa pak, ada yang bisa dibantu?"
"Mba .. tolong Handa kesakitan lagi" jawab Abimanyu. Kemudian perawat segera melihat lutut Handa, dan yang pada saat ini terlihat terjadi pembengkakan.
"Sebentar saya akan konsultasikan ke dokter yaa mba, semalam sebenarnya sudah kami beri obat anti peradangannya. Sebentar saya kasih kabar ke dokter dulu kondisinya mba Handa yaa.."
"Tolong segera yaa mba, terima kasih" ucap Abimanyu.
Perawat tadi keluar dari ruangan dan berpapasan dengan dr.Tita.
" Dok.." ucapnya sambil menunduk sedikit memberi salam pada Tita.
"Pagi Lin" balas Tita sambil terus masuk mendekat ke ranjang Arimbi.
Abimanyu saat itu sedang membantu Handa untuk minum. Pemandangan itu membuat hati Tita mengerenyit kesakitan.
Ketika Abi sudah meletakan kembali gelas bekas minum Handa, Abi membalikan badan dan Tita ada berdiri disana memperhatikan mereka berdua.
Arimbi memejamkan matanya menahan sakit yang tidak terhingga dilututnya. Pandangan Abimanyu hanya sekilas melihat kearah Tita, kemudian dia beralih kembali kearah Handa. Menyeka peluh dikening Handa karena menahan sakit.
Seperti yang dijanjikan, dokter segera datang dan menyapa Tita yang ada disana, kemudian melihat kondisi Handa.
"Kita lakukan penarikan cairan yang ada di lutut dulu yaa pak, mba Handa.. ini yang menyebabkan pembengkakannya. Setelah cairannya dikeluarkan itu bisa mengurangi rasa sakit. Selanjutnya jam 07.00 nanti difisioterapi .. sebentar saya persiapkan dulu jarumnya ya" ucap dokter
"Terima kasih dok" balas Abimanyu.
"Sakit sekali Han?" tanya Abimanyu lembut, sambil masih menyeka buliran keringat dikening Handa, membuat hati Tita semakin sakit dibuatnya.
Rasanya sudah ingin menangis...
Abimanyu bahkan tidak lagi menoleh kearahnya. Dia hanya terus mengusap keringat Handa dan menggenggam jemari gadis itu, ikut merasakan ketika Handa menahan sakitnya.
"Sabar yaa Han.. sebentar dokter akan menghilangkan rasa sakitnya" ucap Abimanyu menenangkan. Dia begitu iba melihat Handa menahan sakit tanpa keluar satu kata rintihan pun dari bibirnya.
Airmata Tita sudah hampir jatuh menyaksikan itu semua.
Bi... aku juga terluka.. ternyata kamu yang dulu kaku dan dingin ternyata telah berubah.. semua kelembutanmu bukan lagi hanya untukku..
Suara Batin Tita.
Tita memalingkan wajahnya yang hampir saja meneteskan air mata, ketika dokter dan perawat masuk kembali untuk melakukan tindakan.
Abi masih menggenggam jemari Handa ketika jarum untuk mengeluarkan cairan dari lutut Handa ditancapkan. Sedikit demi sedikit Handa meregangkan genggamannya. Sepertinya rasa sakit yang tadi menderanya berangsur-angsur berkurang. Keringat dingin dikeningnya pun sudah tidak ada.
"Merasa baikan Han?" tanya Abi.
"Iyaaa.. Bi sudah enggak nyeri lagi.." jawab Handa.
"Suster.. nanti sebelum di fisioterapi, saya minta tolong dibantu untuk bersih-bersih dulu yaa.." ucap Handa lagi.
"Baik mba Handa, saya siapkan baju ganti dan waslapnya sebentar lagi yaa.." jawab sang perawat.
Tita tak melepaskan pandangannya kearah Abimanyu. Didalam hatinya sangat ingin laki-laki itu menatap kearahnya sebentar saja. Tapi sepertinya harapan itu tidak akan terjadi, karena Abi begitu memperhatikan keadaan Arimbi.
.
.
.
.
.
.
Didepan kamar VVIP
Tita saat ini duduk berdampingan dengan Abimanyu. Didalam kamar Arimbi sedang dibantu untuk dibersihkan semua badannya.
"Ta.. seperti tempo hari kamu menginginkan kejelasan dari aku... hari ini aku akan katakan.."
.
.
.
.
.
.
.
.
Jika Cinta memang seharusnya saling memiliki
Percayalah ... sesulit apapun jalannya
Dia pasti akan dipertemukan kembali...