
Pa Budi membuka terlebih dulu pintu mobil untuk Yoga, dan memayunginya.
Kemudian Yoga membuka pintu mobil untuk Nindy, memeluk bahunya dan mereka sepayung berdua.
Memasuki tempat peristirahatan sambil melihat-lihat Resto yang mana yang akan mereka masuki.
Yoga masih menggenggam jemari Nindy.
" Sayaaang...". Ucap Nindy
" Hmmmm " jawab Yoga sambil memalingkan
Wajahnya melihat kearah Nindy.
" Aku sayang kamu... Semoga Allah memberikan keselamatan untuk kita berdua.."
" Amin.. "
\=\=\=\=\=\=
Tepat jam 16.00 sore, hujan sudah berhenti ketika Yoga dan Nindy sampai dihalaman rumah orangtua Nindy.
" Mmm... Kangen...kangeeen... Pemandangan ini..". Teriak Nindy.
" Kamu ! Yang dikangenin tanamanmu, kamu nggak kangen mama apa? ". Sela Mama
" Mamaaaaaa...."
Dipeluknya mama dengan erat, diciumi semua bagian wajah mamanya.
Dia sudah menjadi seperti anak kecil lagi disini.. Batin Yoga.
" Maaah.. ". Sapa Yoga lalu mengambil tangan calon mertuanya dan memberi ciuman hormat.
" Apa kabar papamu nak?". Tanya Mama
" Alhamdulillah sehat ma... Papa sudah merasa kehilangan masakan Nindy pas kita pamit mau pulang ke Tasik"
Jawab Yoga
" Hahhaaa... Iya.. mama juga sudah kangen sama pudding, sama kue-kue buatan Nindy"
" Sama anaknya enggak ?". Sela Nindy
" Sama anaknya apalagi Doong"
Jawab mama sambil memainkan hidung Nindy dengan jemarinya.
" Ayoo.. masuk.. kalian istirahat dulu ". Kata mama lagi.
Seperti biasa Yoga disiapkan dikamar tamu yang bersebelahan dengan kamar tamu untuk pak Budi.
Pak Budi sudah membawa masuk tas Yoga kedalam kamar.
" Yoga istirahat dulu ya mah.. Nin..". Pamitnya
" Iyaa " balas mama dan Nindy
Setelah Yoga masuk kekamar, Nindy menggelayuti tangan mamanya
" Papa masih di Pabrik yaa mah?"
" Iyaa.. kamu istirahat dulu gih.."
" Enggak aah mah, Nin mau buat Surabi Bandung.. sama bolu marmer, yaa mah.. Mama kan kangen cemilan buatan Nindy.. trus jadi nanti kalau Yoga bangun juga sudah ada cemilan."
" Ayoo kalau gitu mama bantuin.. mama ingin dengar cerita kamu juga selama dirumah Yoga"
Suara nada panggilan masuk di handphone Nindy. Dan sudah sangat senang karena yang berada dipanggilan itu adalah Lita.
" Nin.. sudah sampai rumah?". Tanya Lita
" Sudah ta, kerumahlah.. aku tunggu". Jawab Nindy
" Ok, semua sudah kami siapkan juga langsung angkut dan coba dirumah yaa "
" Iya.. ok ta.. aku tunggu "
Setelahnya Nindy sudah menggunakan celemeknya dan berkutat didapur ditemani oleh mama membuat surabi Bandung dengan kuah kinca (santan dan gula merah) dan bolu marmer yang akan terasa enak dimakan setelah hari berhujan.
Pukul 17.10
Lita, Pipit dan beberapa staf bridal sudah sampai dirumah Nindy. Mereka menurunkan semua pakaian pengantin yang akan dikenakan Nindy dan Yoga, kain untuk mama, papa juga papa Iwan dan contoh souvenir yang telah diberi kotak hasil daur ulang yang diberi bunga ditutupnya. Sampai kepada buku panduan acara pernikahan pun sudah mereka siapkan.
Mereka diterima diruang tengah oleh mama dan Nindy.
" Kita coba langsung dulu aja Nin pakaian pengantin kamu ". Kata Lita.
" Iya.. ayo kekamarku ". Jawab Nindy
Langkah Nindy kekamar diikuti oleh Lita, dan 2 orang staf dari bridal, sementara Pipit membenahi apa yang akan mereka laporkan pada Nindy, mama juga Yoga sore ini.
" Baru pulang dari Pabrik pah?" Tanya Yoga
" Iya nak, kalian sampai jam berapa tadi?".
" Jam 4 tadi pah."
Papa dan Yoga duduk di bangku ruang tengah, Mama menyiapkan air minum dan kue-kue yang tadi sudah dibuat Nindy.
Beberapa saat kemudian Nindy keluar sudah dengan kebaya yang akan dikenakan untuk acara akad Nikah.
Mata Yoga menangkap keanggunan calon istrinya yang baru keluar dari kamarnya, sehingga menghentikan pembicaraan yang sedang dilakukan bersama calon mertuanya.
" Ini yang akan dikenakan Nindy diacara Akad Nikah, bagaimana ma, pah, yoga? Cocok nggak?" Tanya Lita
Mama dan papa mengarahkan pandangan ke Yoga. Dan mereka tersenyum melihat Mata Yoga begitu terkagum-kagum melihat ke arah Nindy.
Dengan balutan kebaya tradisional Sunda berwarna putih bertaburkan Payet mutiara dengan motif bunga-bunga 4 dimensi, berpadukan kain Sekar jagat yang didominasi warna merah diantara warna-warna lain, yang adalah pesanan Yoga menambah kecantikan Nindy.
" Ga... Apakah sudah sesuai yang dikenakan Nindy? Ga.. ! "
Tegur Mama karena melihat Yoga tak juga berkata apa-apa.
" Iya mah .. suka.. maksud Yoga... Kamu sudah cocok dengan yang ini..sayang... Kamu cantik"
Jawab Yoga terbata-bata.
" Belum di-make up in, sudah bikin terkesima yaa Ga, apalagi besok pas sudah dandan komplit yaa xixxiii ".
Jawab Mama lagi.
" Sebentar ... Aku foto dulu ! "
Kata Yoga. Lalu dia mengambil handphonenya dan mengambil foto Nindy.
" Ok. Deal yang ini ! Selanjutnya kebaya untuk resepsi... Tunggu yaa.. ". Kata Lita lagi, lalu Nindy masuk lagi ke kamarnya.
Yoga masih asik melihat gambar Nindy dari handphonenya.
" Dimakan kuenya Ga, itu Nindy yang buat tadi "
Kata Mama lagi
" Iya mah "
Yoga mencicipi bolu marmer yang dibuat Nindy dan tersenyum puas.
Sepertinya dia menyukai bolu marmer Nindy atau... Dia tersenyum karena masih membayangkan anak gadisku tadi...? Batin papa. Yang ikut tersenyum dengan tingkah calon menantunya.
Kemudian.. Nindy keluar lagi menggunakan kebaya berwarna paduan antara silver dan abu-abu muda dengan balutan kain batik tulis Sukapura yang hampir punah karena berkurangnya pengrajin dengan motif ini didaerah asal motif batik ini berasal yaitu desa Sukapura - Sukaraja Tasikmalaya.
Warnanya yang tegas membuat kulit Nindy yang putih menjadi kontras dengan kebayanya.
" Aku juga sangat suka dengan yang ini."
Ucap Yoga tanpa ditanya sambil mengambil lagi foto Nindy.
" Dua.. deal. Dan satu lagi untuk diacara resepsi dengan konsep dipakaian terakhir ini kalian yang akan turun menjumpai para tamu.. tunggu yaa". Kata Lita lagi.
Sampai akhirnya Nindy keluar dengan balutan gaun pengantin internasional, terbuka sedikit didaerah bahunya,membuat aksen tubuh mungil Nindy terbuka dari leher sampai bahunya.
Gaun yang ini cukup membuat Yoga lama memberikan pendapatnya karena dia sangat tidak ingin kecantikan tubuh calon istrinya dinikmati oleh banyak tamu nantinya.
" Kenapa Ga? Nggak suka yang terlalu terbuka begini ya?". Tanya Lita
" Iya.. jadi bisa dilihat mata laki-laki lain.. !"
Mama dan papa tersenyum mendengar alasan Yoga.
"Susah nggak kalau diganti dengan gaun lainnya lagi? Aku sebenarnya suka dengan gaun ini.. tapi.. itu tadi.. sangat terbuka, aku nggak mau tubuh Nindy dinikmati mata laki-laki lain !"
Nindy memperlihatkan tatapan mata sayangnya demi mendengar yang dikatakan Yoga.
Lalu mereka masuk lagi kekamar Nindy mengganti gaun yang lain yang sesuai dengan keinginan Yoga.
Ketika Nindy keluar dengan gaun lain
" Ok.. yang ini saja... aku suka.. "
\=\=\=\=\=
"Aku sebenarnya suka dengan gaun ini.. tapi.. itu tadi.. sangat terbuka, aku nggak mau tubuh Nindy dinikmati mata laki-laki lain !"
" Ok.. yang ini saja... aku suka.. "