
Hampir saja Rio membangunkan dengan kasar wanita asing itu, untungnya bibi menangkap lebih dulu tangan majikannya. Lalu dengan gerakan bibir tanpa suara, wanita paruh baya itu meminta Rio untuk keluar terlebih dulu dari kamar Rasya.
Ternyata bibi mendengar suara mobil majikannya yang masuk ke pekarangan, lalu ia segera bangun, tapi ternyata gerakan majikannya itu lebih cepat dari dirinya sehingga ia menemukan majikannya sudah dikamar putranya.
Setelah diluar kamar, bibi berkata
"Pak .. itu dokter Annisa, dia yang baru saja tinggal disebelah rumah bapak. Tadi malam mba Rara memanggil dr.Annisa karena semalam Mas Rasya panasnya turun naik pak, bibi dan mba Rara jadi takut"
"Sekarang Rasya bagaimana bi?" tanya Rio khawatir. Dia sudah beberapa hari meninggalkan anak-anaknya hanya bersama pengasuh mereka semenjak istrinya harus dibiopsi dan mendapatkan perawatan.
"Alhamdulillah pak, mas Rasya sudah jauh membaik" jawab bibi.
Rio kembali melihat kedalam kamar Rasya dari celah pintu kamar yang terbuka. Hatinya tidak karuan. Ia hanya bisa menarik nafas panjang dan menutup perlahan pintu kamar putranya lagi.
"Bi.. seperti biasa, bangunkan saya jam 07.00 pagi yaa, supaya saya tidak telat kekantor" pinta Rio sambil menaiki tangga rumahnya menuju kamarnya yang terletak dilantai 2"
"Baik Pak" jawab Bibi mengikuti majikannya sambil membawakan segelas susu hangat.
.
.
.
Sekitar pukul 06.30 pagi, Annisa terbangun karena sebuah kecupan.
"Haaaiiii tetangga!" sapanya demi melihat ternyata Rasya yang sudah mengecupnya.
Anak laki-laki itu tertawa
"Kenapa masih memanggil aku tetangga? aku Rasya .. Bu dokter!" protes anak itu sambil memberengut.
"Hiiii aku tahu kamu Rasya, kan memang kamu tetangga aku!" balas Annisa sambil memencet hidung anak laki-laki itu.
Lalu Annisa mengukur suhu Rasya, memegang dahi, leher, dan tangan Rasya.
"Alhamdulillah... suhu kamu sudah stabil. Banyak istirahat dulu hari ini yaa, nggak usah sekolah dulu!" ucap Annisa.
"Terima kasih..dokter Annisa sudah mau merawat aku" ucap Rasya lagi sambil memegang lengan Annisa.
Disebelahnya Rara menggeliat, kemudian perlahan membuka matanya. Tersenyum pada Annisa kemudian bertanya keadaan Rasya.
"Adikmu sudah membaik, tapi hari ini harus istirahat dulu saja dirumah, jangan sekolah dulu" ucap Annisa sambil membelai rambut Rasya.
"Baiklah ... jadi pagi ini aku aja yang siap-siap dulu kesekolah!" jawab Rara yang kemudian beranjak dari tempat tidur.
"Ayooo aku buatkan kalian sarapan!" ucap Annisa.
Digandengnya tangan Rasya dan Rara keluar dari kamar, kemudian Rara menunjukan arah dapur.
Didapur bibi sedang memanggang roti.
"Bi ... izinkan saya membuatkan cream soup untuk anak-anak yaa .." ucap Annisa.
"OOO baik Bu dokter, silahkan... jadi merepotkan.." jawab Bibi.
"Tidak merepotkan, naah Rara.. kamu siap-siap mandi deh, nanti begitu cream soupnya sudah jadi kita sarapan sama-sama yaa..." ucap Annisa sambil mendudukan Rasya dikursi meja makan.
.
.
.
Cream soup telah siap untuk disantap. Ketika Annisa sedang menuangkan ke mangkuk-mangkuk kecil, dan Rio sudah berada dimeja makan dengan pakaian yang siap untuk kekantor.
"Papa!" teriak Rasya yang senang melihat orang tuanya kemudian berlari menuju pelukan sang ayah.
Rio memeluk dan mencium putranya.
"Apa kamu menjadi anak yang baik selama papa menemani mama dirumah sakit?" tanya Rio
"Sudah pasti Kapten!" jawab Rasya sambil memberi hormat pada sang ayah. Lalu Rio tertawa melihat tingkah putranya.
"Maaaf... pak, saya sudah lancang memasak didapur ini" ucap Annisa yang terkejut ternyata ayah dari Rasya dan Rara sudah kembali.
"Enggak masalah dok, saya yang sangat berterima kasih. Karena dokter sudah mau menjaga dan merawat anak-anak saya. Terima kasih sekali lagi" balas Rio sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Ayooo... sebelum kesiangan lebih baik kita segera sarapan!" Ucap Rio lalu memanggil Putrinya Rara untuk bersama-sama menyantap sarapan yang sudah dibuat.
Annisa begitu rikuh dengan situasi ini. Terlalu terasa intim. Membuat suasana hatinya menjadi tidak enak.
"Auts..panas!" teriak Rasya tiba-tiba membuat Annisa yang disebelahnya bereaksi untuk segera memberi air minum.
"Hati-hati sayang..!" ucap Rio khawatir sambil mengusap punggung putranya.
"Cuma sedikit kok pah kena yang panasnya, Rasya cuma kaget!" jawab anak kecil itu.
"Sebaiknya aku yang suapi kamu yaa ... " ucap Annisa kemudian sambil meniup pelan cream soup yang kemudian setelah dingin disuapkan kedalam mulut Rasya.
Rio terkesima akan pemandangan yang ia lihat. Lalu dengan segera menundukan pandangannya.
.
.
.
Satu hari setelah perkenalan dengan Rio, keesokan sorenya Annisa malah bertemu pria itu dirumah sakit.
Ia melihat Rio sedang gelisah ditengah taman rumah sakit. Annisa saat itu sedang menuju ruang perawatan. Ia melihat laki-laki itu menyeka airmatanya, lalu menundukan wajahnya. Annisa menghentikan langkahnya sesaat, memperhatikan ..
"Nis! kenapa Masih disini! ayo!" ajak Pras teman sesama koas.
"Hmmmm.. ayoo.." sahut Annisa kemudian berlalu.
"Kamu sedang memperhatikan laki-laki tadi yang ditaman?" tanya Pras lagi yang melihat wajah Annisa yang penuh tanda tanya.
"Kamu kenal laki-laki itu?" tanya balik Annisa.
"Dia pak Rio, istrinya terdiagnosis CA Mamae grade 3B" jawab Pras yang menyebabkan langkah kaki Annisa terhenti.
Ternyata sudah sejauh itu... batin Annisa
"Kenapa Nis?" tanya Pras demi melihat Annisa menghentikan langkahnya. Lalu Annisa menatap pada temannya itu.
"Mereka masih punya 2 anak kecil Pras .. mereka tetanggaku!" jawab Annisa sedih.. terbayang olehnya wajah Rara dan Rasya.
.
.
.
Sehabis dari mesjid rumah sakit, Rio melihat Annisa yang akan keluar rumah sakit.
Gadis itu sepertinya akan pulang. Batin Rio
Annisa yang tidak sengaja berpapasan dengan Rio menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Rio membalasnya. Namun keduanya tidak saling menghentikan langkah. Annisa pun langsung menaiki Taxi yang sudah menunggunya.
Didalam taxi, Annisa teringat kembali pada Rara dan Rasya ... membayangkan apa yang akan mereka hadapi didepan nanti. Annisa menarik nafas panjang menatap keluar jendela Taxi.
*Didunia ini .. setiap orang pasti diuji.
Ujian itu pasti Tuhan berikan sesuai dengan kemampuan yang dapat mereka pikul.
Betapa hebat Rara dan Rasya .. sekecil itu bahkan Tuhan merasa .. mereka akan sanggup melalui cobaan ini. Batin* Annisa.
Tak terasa air matanya mengalir ..
Aku akan mengajak Rasya dan Rara membuat video yang akan memberi semangat untuk mamanya. Dan menjadikan itu kenangan yang paling indah untuk mereka. Batin Annisa sambil menyeka airmatanya. Pemikiran itu, tiba-tiba membuat Annisa menjadi bersemangat dan ingin segera bertemu dengan Rara dan Rasya.
Masa sedih itu pasti menyakitkan.
Namun .. jika masa yang tersisa itu masih bisa kita isi dengan tawa dan bahagia ..
Bukankah seharusnya .. waktu yang singkat itu yang harus kita hargai ?