My Favorite CEO

My Favorite CEO
Rasaku.. Rasamu



Setelah makan malam, Papa mengajak aku duduk diruang tengah, mengeluarkan beberapa album Foto.


" Ini mamanya Yoga "


" Mama memang cantik ... dulu waktu papa Iwan dan mama, kerumah papa Nindy.. rasanya seperti melihat ada Bidadari kalau melihat mama"


Dan Aku memang sangat terkesima dengan kecantikan Mama Yoga sedari kami kecil.


Dalam foto yang papa tunjukan, berbagai pose mama, papa dan Yoga terpampang jelas disana


" Istriku ini... wanita yang kuat dan sabar"


" Papa enggak pernah bisa menggantikan posisi mama dengan wanita manapun didunia ini"


" Itulah sebabnya papa tidak pernah menikah lagi setelah mama pergi.."


" Wanita yang tidak pernah mengeluh berapapun saat itu papa kasih gaji papa untuk keperluan rumah, Mama selalu membuat papa nyaman dirumah, masakannya walaupun sederhana.. selalu ia sajikan dengan cantik dan lezat rasanya dan mamanya Yoga selalu memberikan ketenangan dan semangat ketika papa mau bekerja"


" Sampai ketika papa memberanikan diri mendirikan perusahaan yang sekarang menjadi milik dan tanggung jawab Yoga, Mama mu selalu mendampingi susah dan senangnya papa."


" Tapi mamamu nggak pernah berubah...dia tetap wanita yang selalu bijak menggunakan uang yang suaminya beri, dia tetap memasak sendiri untuk papa dan Yoga, dan harus dengan segala ancaman papa baru bisa mendatangkan bibi untuk bantu-bantu pekerjaan mamamu... Dia belahan hidupku Nin.."


Papa menangis.. aku lekas meraih bahu papa dan mengusap-ngusapnya..


" Papa baru sebentar membahagiakan mamamu.. Dan yang membuat papa sangat kehilangan.. Mamamu pergi bahkan tidak menyusahkan ku sekalipun... "


Tangis papa semakin menjadi..


Rasa kehilangan yang belum pernah papa bicarakan dan ungkapkan selama ini.


Karena saat itu .. Papa harus kuat dan tegar demi Yoga.


Mama masih dalam keadaan tidur saat ditemukan papa sudah tak bernafas lagi.


Tak ada kata perpisahan ... itu yang membuat Papa sangat kehilangan.


Lalu bergantian Yoga yang kali ini memeluk papanya.


" Maafkan Yoga pah, karena kesibukan hari ini.. Yoga melupakan bahwa tanggal 28 Desember ini adalah hari kepergian mama..."


Aku juga lupa. Dan aku sangat menyesal.


" Papa... maafkan, Nindy juga lupa..."


" belum telat nak.. doakan mamamu, karena doa anak yang Sholeh itulah yang diterima ... besok temani papa kemakam Mama mu yaa.."


"iya pah ". jawabku dan Yoga bersamaan.


Malam itu disertai hujan deras, kami kembali kekamar kami masing-masing. Membawa perasaan haru atas rasa kehilangannya Papa.


Entahlah.. malam itu aku pun rasanya sulit untuk memejamkan mata.


Membayangkan kehilangan orang yang amat kita cintai.. selamanya...


Sementara saat ini hanya berjauhan antara Jakarta dan Tasik saja sudah membuat perasaan Nindy suka tidak karuan .


Apalagi buat Nindy, Yoga adalah laki-laki satu-satunya yang Ia cintai dalam hidup ini selain papanya.


Tiba-tiba perasaannya jadi syahdu...


Tok tok tok..


Suara pintu kamar Nindy diketuk seseorang.


Membuyarkan lamunan Nindy. Langsung Nindy berdiri dari tempat tidurnya, dan membuka pintu kamar.


" Aku mencintaimu Anindya Kasih... 1000 kali"


Ucap Yoga menyebut nama panjangnya begitu Nindy membuka pintu kamarnya dan langsung memeluk erat Nindy.


" Nindy juga mencintai a Yoga.. lebih dari 1000 kali"


Ternyata kegelisahan itu dirasakan oleh Yoga juga.


Malam ini setelah mendengar cerita cinta sejatinya papa membuat kami semakin menyadari.. kami telah saling jatuh cinta dan takut kehilangan.


Sambil menatap kekedua mata Yoga.. Nindy merasakan kebenaran yang diucapkan Yoga.


Tak terasa air matanya menggenang. terharu sekaligus tersanjung.


Aku menciumnya.. mencium laki-laki yang kini memenuhi seluruh ruang hatiku.. menyampaikan bahwa dirinya juga sangat berarti bagiku.


\=\=\=\=\=


… Lihatlah luka ini yang sakitnya abadi


Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu


Aku tak akan lupa


Tak akan pernah bisa


Tentang apa yang harus memisahkan kita


… Di saat ku tertatih


Tanpa kau disini


Kau tetap ku nanti


Demi keyakinan ini


… Jika memang dirimulah tulang rusukku


Kau akan kembali


Pada tubuh ini


Ku akan tua dan mati


Dalam pelukmu


Untukmu seluruh nafas ini


… Kita telah lewati


Rasa yang pernah mati


Bukan hal baru


Bila kau tinggalkan aku


Tanpa kita mencari


Jalan untuk kembali


Takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku


… Di saat ku tertatih (saat ku tertatih)


Tanpa kau disini (tanpa kau di sini)


Kau tetap ku nanti


Demi keyakinan ini


… Jika memang kau terlahir


Hanya untukku


Bawalah hatiku dan lekas kembali


Ku nikmati rindu yang datang membunuhku


Untukmu seluruh nafas ini


( Last Child - seluruh nafas ini)