My Favorite CEO

My Favorite CEO
22. Memilih bahagia



Dipagi berhujan.


Seperti janjiku, ingin menjemputmu. Aku sudah hampir dekat dari rumahmu, ketika kulihat ada mobil lain yang sudah terparkir didepan pagar rumahmu. Dan aku tahu itu mobil yang sama ketika dipemakaman.


Ada yang terasa diusik didalam hatiku.


Tapi jika bukan saat ini aku membuktikannya, tak akan pernah bisa aku membaca hatinya lebih memilih pada siapa.


Kuhentikan mobilku didepan mobil itu, aku keluar dengan payung besar masuk kedalam pekarangan rumahmu.


"Assallamualaikum.." sapaku.


"Waalaikumsalam Wr. Wb, masuk Bi.." jawabnya.


"Sarapan dulu yu, baru kita berangkat" ucapnya lagi.


"Sudah Ta, aku sudah sarapan tadi dari rumah. itu mobil Tristan? dimana dia?" ucapku tidak bisa tidak menanyakannya langsung.


"Ii.. iya Bi, itu mobilnya Tristan. Diiaa...suka inisiatif sendiri gitu kalau hujan pagi hari, enggak ngomong lagi langsung jemput aku dirumah. Kamu marah ya?" tanya Tita


"Enggak .. lah, kan dia cuma teman kamu. Wajar aja aku rasa. Sekarang dia dimana?" Tanya Abimanyu lagi.


"Sedang sarapan.. sama Mama Papa" Jawab Tita lagi dengan perasaan tidak enak. Abimanyu menahan segala gemuruh didalam dadanya. Dia akan kuat demi jawaban atas pertanyaan yang ia tidak ingin ada keraguan didalamnya. Abimanyu tersenyum kembali.


"Oooo.. kamu sudah sarapan? biar aku tunggu disini, a..tau.. kamu mau dengan siapa kekampusnya?" tanya Abimanyu mencoba terdengar biasa saja.


"A..aku tetap sama kamu berangkatnyalah 'Yang.. kita kan sudah terlebih dulu janjian, sebentar aku panggil mama papa yaa.. bilang kalau kamu sudah datang" balas Tita lagi dengan perasaan yang sudah bercampur aduk. Entahlah.. dia juga bingung, jika tidak memperlakukan Tristan dengan baik, pada kenyataannya selama ini betapa dia sangat tertolong dengan kehadiran Tristan dan juga bantuannya selama ini. Lagipula mereka memang kenyataannya hanya sebatas teman.


"Iya" jawab Abimanyu lembut.


Kemudian Mama dan Papa Tita keluar menemui Abimanyu. Abi mencium hormat kedua punggung tangan orang tua Tita.


"Nak Abi sudah sarapan?" tanya Ayah Tita.


"Alhamdulillah sudah om tadi dirumah" jawab Abimanyu.


"Diminum teh hangatnya niih nak..pagi-pagi sudah hujan .. dingin-dingin enak minum teh" sapa mamanya Tita.


"Terima kasih tan, jadi ngerepotin.." balas Abi.


"Waah...apalagi saya niih Tan, lebih dari merepotkan kalau begitu, karena suka ikut sarapan disini!" sela Tristan yang juga keluar dari dalam rumah.


"Hahaaa kalau kamu emang ngerepotin!" jawab Mama Tita. Hati Abimanyu sebenarnya terusik, ternyata Tristan juga sudah sangat akrab dengan kedua orang tua Tita. Mungkin dengan latar belakang profesi mereka yang sama, sehingga Tristan dengan sangat mudah masuk kedalam keakraban bersama kedua orang tua Tita.


"Apa kabar Tris?" sapa Abimanyu menghentikan teh yang sedang diminumnya, sambil mengulurkan tangannya memecahkan keresahan hatinya.


"Baik Bi. sorry... gue kebiasaan jemput Tita kalau pagi-pagi mau kekampus hujan lebat kayak gini. Gue lupa loe sekarang lagi ada disini!" jawab Tristan.


"Nggak apa-apalah, malah gue harusnya terima kasih, loe sudah berinisiatif seperti itu jadi meringankan buat Tita!" balas Abimanyu tulus.


"Gimana keadaan ayahmu nak Abi?" tanya Ayahnya Tita.


"Masih berat buat Ayah om, tapi Bunda terus mendampingi..mudah-mudahan ayah lekas bisa membaik perasaannya" jawab Abi.


"Iya, pasti berat. Salam buat Ayah dan Bundamu yaa.. sekarang berangkatlah! takut macet, Tita ujian soalnya!" ucap Ayah Tita lagi.


"Baik om" jawab Abimanyu sambil berdiri untuk berpamitan dengan kedua orang tua Tita. Tita pun mencium punggung tangan kedua orang tuanya, disusul oleh Tristan.


Sesampainya dikampus, hujan masih sangat lebat. Abimanyu keluar terlebih dahulu, berusaha memayungi Tita, sehingga bagian punggung lengannya yang lain basah oleh air hujan. Abimanyu terus melindungi Tita agar tidak terkena air hujan, sampai akhirnya mereka masuk kedalam koridor kampus Tita.


"Hi..itu siapa yang mayungin Tita? yaa Allah.. keren bangeeet tuh cowok!" ucap salah seorang cewek yang berkerumun dikoridor.


"Kakaknya Tita kali! tuh.. si Tristan dibelakang mereka!" sela yang lainnya.


"Ituuuu kayak Abimanyu, putranya pengusaha penerbangan Indonesia deeh! eeh iyaa bener itu dia! gilaaa Tita mainnannya sama anak konglomerat!" sela cewek yang lainnya.


"Masa sih? tajir melintir doong?"


"Bangeeet!"


"Pacarnya Tita gitu? trus si Tristan?"


"Tristan, cadangannya kali! yang gue tahu tuh anak pengusaha lagi sekolah di Inggris!"


"Gilaaaa... gue kalau jadi Tita, bingung deeeh milih yang mana!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Akhirnya, Tita dan Abimanyu sudah didepan pintu ruang ujian.


"Selesai ujian, kabari aku lagi aja yaa Ta, nanti ku jemput. Hari ini aku cuma mau mampir sebentar ke galerinya Axsal!" ucap Abimanyu.


"Iyaa.. selesai aku ujian, pasti aku kabari kamu lagi. Terima kasih yaa 'yang untuk pagi ini" ucap Tita.


"Sama-sama.. ujian yang benar, yang diingat jawaban materinya jangan aku!" canda Abimanyu.


"Hahhaaaaa dua-duanya difikirin masih muat kok memori otak Tita!" balas Tita dengan senyum manisnya. Abi mengusap kepala gadis itu karena gemas.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Mas Abi ya?" tanya salah seorang mahasiswi.


"Iya.. saya" jawab Abimanyu.


"Boleh foto bareng nggak mas?" tanyanya lagi.


Lalu Abi melihat kearah Tita.


"Mbanya tanya dulu sama pacar saya, boleh nggak kita foto bareng?" jawab Abimanyu sambil menunjuk ke arah Tita.


Lalu Tita dengan wajah yang dibuat cemberut berkata


"Boleh! tapi nggak boleh berdua! sekalian aja kalian rame-rame fotonya!"


Yang langsung diikuti dengan para mahasiswi yang berkerumun mendekati Abimanyu. Namun dengan sigap lengan Abi sudah menarik Tita dan mendekap punggung tangan gadis itu mendekat kearahnya lebih dulu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Gadis... aku ingin kau menyadari


bagiku.. kau lebih penting dari segalanya.


.


.


.


.


.


.


.


Aku lebih memilih bahagia..


Menyingkirkan segala perasaan gundah..


Itu juga jika kau mau..


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa terus kirimkan like dan komen kalian yaa.. Karena itu yang lebih membahagiakan dan menyemangati Author untuk terus menulis.


Aku juga sangat bersyukur bahwa yang membaca tulisan recehku ini bertambah. Semoga kalian terus menyukai tulisanku. Tetap semangat puasanya yaa bagi yang menjalani. Tetap sehat yaa bagi kalian semua 🙏