
"Sebelum itu.. sepertinya banyak hal juga yang harus kamu jujur cerita sama Abi.. bukan begitu sayang?" membelai kedua pipi Annisa sambil menghapus airmatanya.
"Mulai sekarang, akan ada Abi yang akan membela dan melindungi kamu nak. InsyaAllah bunda dan ayah tidak akan berubah fikiran... karena hal apa yang akan lebih buruk daripada mempunyai menantu yang adalah sepupu Nena? Mmmm? untungnya malah kalian tidak sedarah" ucap bunda sambil tersenyum menghibur Annisa.
Abimanyu memberikan segelas air mineral untuk kekasihnya.
"Minum dulu sayang.." ucap Abi sambil menarik bangku ke samping Annisa.
"Yang bunda katakan bahwa masih ada yang harus diceritakan apa Bun?" tanya Abimanyu yang bergantian melihat kearah bunda dan Annisa.
Annisa menarik nafasnya dalam-dalam... kemudian menghembuskannya perlahan...
Sebelumnya bidan Aisyah sudah bercerita hal ini kepada Annisa, bahwa bunda sewaktu pertemuan pertama mereka sudah Aisyah ceritakan perihal surat kuasa pelepasan hak asuh itu.
"Bi.... sebenarnya papa sudah melepas tanggung jawabnya terhadap diri Nisa ... dan itu dalam surat resmi berlandaskan hukum" ucap Annisa.
"Maksudnya?" tanya Abimanyu
"Maksud Nisa... papa sudah tidak ingin ada hubungan apa-apa lagi dengan Nisa sebagai anak... yang akhirnya Nisa mengerti.... itu karena Nisa adalah anak angkat" jawab Nisa sambil memainkan jemarinya lagi karena resah.
Abimanyu mengambil jari - jari itu dari salah satu tangan Annisa dan menggenggamnya. Annisa menunduk melihat ke jemari Abimanyu yang menenangkannya itu.
Ia lalu menangis lagi. Airmatanya sesekali ada yang jatuh membasahi lengan Abimanyu.
"Sejak kapan hal itu?" tanya Abimanyu geram.
"Sudah lama... seingat Nisa, waktu itu Nisa baru saja diterima di Fakultas Kedokteran. Itu karena pasti Bunda dan Abi tahu.. itu ... karena... papa menikah sama bekas teman Nisa di SMA. Dannn... Nisa pernah menentangnya habis-habisan..malah ternyata Nisa juga bukan anak kandung papa..." isak Annisa lagi, yang ditenangkan dengan genggaman jemari Abi dijemarinya.
"Karenanya Abi... Bunda ingatkan. Kamu harus selalu siap konsekuensi dari menikahi Annisa, bahwa keluarga itu suatu hari akan memanfaatkan pernikahan kalian untuk kepentingan mereka, atau mengaku dan melibatkan pernikahan kalian menjadi ladang bisnis bagi keluarga itu. Kamu harus melindungi Annisa, melindungi pernikahanmu dan kamu pegang dan simpan dengan benar surat pelepasan hak asuh itu. Bunda tidak ingin dimasa yang akan datang, apa yang pernah terjadi pada ayah dan bunda, terulang lagi!" ucap bunda yang kemudian menarik nafas panjang dan melepaskannya.
Membicarakan peristiwa lalu .. ternyata masih terasa begitu berat dan menyakitkan bagi Nindy. Namun demi melihat gadis yang dicintai putranya, hal itu dikesampingkan olehnya. Dan bahkan pulang nanti Ia pasti harus mati-matian meyakini Yoga suaminya.
Ia hanya perlu mengiringi semua ini dengan restu dan doanya.
Nindy berdiri meninggalkan mereka, Ia pun menahan airmatanya sendiri demi Abimanyu.
Abi yang sedari tadi tidak tahan melihat airmata calon istrinya, merengkuh Annisa hati-hati kedalam dadanya. Mencoba untuk menenangkan semua hal yang diresahkan dan ditangisi oleh Annisa.
"Biiii.... dengan segala keribetan ini.. apa kamu masih menginginkan aku?" tanya Annisa
"Nis.. sedari kecil, ayah selalu mengajari aku memikirkan segala hal sebelum aku bertindak. Dan kamu tahu.. aku sudah memikirkan banyak hal kemungkinan-kemungkinan yang akan kita lalui didepan nanti. Selama kamu juga menginginkan aku sebagai suamimu, aku akan tetap memilihmu " jawab Abimanyu dari ujung pangkal kepala Annisa yang sekarang ada didadanya.
"Kalau aku dari keluarga miskin ? yang menjual anaknya karena tidak mampu memberikan aku makan dan membesarkan aku? apa kamu, bunda dan ayah mau tetap menerima aku?" tanya Annisa sambil menengadahkan wajahnya. Abi membalas tatapan mata sendu itu dengan tersenyum.."
"Untung diberikan ke orang lain...kalau enggak... kita enggak akan pernah ketemu sayang.." jawab Abimanyu menghibur.
"Gitu .. yaaa..." sahut Annisa masih menatap Abimanyu dan tersenyum.
"Gituuu dong.. kalau kamu tersenyum 1/2 dari persoalan kita sudah selesai" ucap Abimanyu masih membalas tatapan Annisa.
Dimatanya juga dari wajah Annisa yang saat ini sangat dekat itu.. Abi menemukan kebahagiaannya. Sejatinya kebahagiaan yang mampu mengisi seluruh ruang hatinya.
Cinta yang bisa membuatnya melihat pada kesungguhan apa yang diinginkan hatinya.
"I love You...Nisa..."
Annisa membangunkan dirinya dari pelukan Abi, demi mendengar apa yang baru saja Abimanyu ucapkan. Ia tidak percaya bahwa Abi akan segera mengatakan kata-kata itu.
Annisa menatap lekat calon suaminya itu. Rasanya ingin ia dengar sekali lagi kata-kata indah itu. Dan seakan mengerti apa yang diharapkan Annisa.. Abimanyu dengan tersenyum berkata...
"I love You Nisa..."