
Pagi ini Yoga akan bertemu dengan pengacaranya.
Nindy dengan senyum manisnya memperhatikan suaminya yang semakin lama semakin nampak tampan dimatanya.
"Ganteng banget sih hon.."
Goda Nindy pada suaminya.
"Siapa dulu.. istrinya"
Jawab Yoga sambil mencium pipi Nindy.
Nindy tersipu malu.
Nindy membuat simpul pada dasi Yoga lalu membenarkan letak kerah baju Yoga.
"Selesai... kita sarapan dulu yaa.."
Sebentar lagi mereka keluar kamar, pintu sudah diketuk dari luar.
Yoga yang membuka pintu kamar.
"Bapak, ada banyak orang diluar rumah"
"Ok"
Lalu dengan cepat Yoga menelpon Ferdy
"Mereka sudah didepan rumah saya."
"Baik pak, saya akan melakukan yang terbaik. Saya sudah bersama pak CK pengacara Bapak"
"Ada apa sayang?"
"Sebentar akan aa jelaskan hon, kamu tapi diam dulu didalam kamar, aa akan temui dulu tamu diluar yaa.."
"Tolong jaga ibu didalam kamar bi, papa saya dimana?"
"Tuan besar sedang menerima orang-orang itu diluar rumah pak"
"Ok"
Yoga keluar dan menutup pintu kamarnya.
Orang-orang yang dikatakan bibi tadi, sudah masuk kerumah Yoga, mereka sudah melakukan penggeledahan.
Papa yang melihat Yoga menghampiri putranya dan menenangkan Yoga,
"Kalau kita dijalan yang benar, apa yang mesti kita takutkan. Ini hanya pengadilan manusia, sementara pengadilan sesungguhnya adalah pengadilan Tuhan. Ingat itu anakku. Papa percaya kamu !"
Yoga memeluk ayahnya terharu, Papa yang selalu berada paling depan dalam keadaan apapun dirinya.
Yang selalu menjadi sosok ayah yang dapat Yoga andalkan.
"Pak Yoga, mohon maaf.. semua yang ada disini terpaksa harus kami geledah, dan kami mohon kerjasama Bapak untuk ikut ke Kantor kami."
"Istri saya baru saja diketahui mengandung anak pertama kami, saya mohon.. beri waktu pada saya untuk menjelaskan kepada istri saya, agar situasi ini tidak membahayakan istri dan calon anak saya."
"Silahkan pak, tapi mohon maaf..salah satu petugas kami harus mendampingi Bapak"
Yoga menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar mencoba bersabar.
"Baiklah"
Lalu Yoga melangkah kembali masuk ke kamarnya, pintu kamar Ia sengaja buka lebar-lebar agar salah satu petugas Instansi pemberantas korupsi itu dapat leluasa melihat apa yang dilakukan oleh Yoga.
Nindy mendudukkan tubuhnya ketika melihat Yoga masuk lagi kekamar. Yoga mendekat kearah istrinya.
Yoga berlutut didepan Nindy yang duduk ditepi tempat tidur.
"Ada apa ini sayang? itu siapa?"
Tanya Nindy.
"Sayang... kamu percaya aa?"
Tanya Yoga pada Nindy.
"Iya.. Nindy selalu percaya sama Aa"
"Orang itu adalah salah seorang petugas dari pemberantas korupsi."
"Apa hubungannya dengan aa?"
Tanya Nindy kebingungan.. rasa takut mulai menjalar, ketika Nindy mendengar sebutan pemberantas korupsi.
"Ada yang melaporkan tentang tindakan penyalahgunaan anggaran yang menyebabkan kerugian negara, yang dituduhkan pada salah satu perusahaan aa, walau aa meyakini itu tidak benar. Tetapi prosesnya aa tetap harus membuktikan dijalur hukum. Dan mereka saat ini ingin memeriksa aa sebagai pemilik perusahaan."
"Berapa lama?"
"Aa nggak tahu sayang"
Lalu Yoga merengkuh Nindy dalam pelukannya.
"Maaf Pak Yoga, kamar ini pun harus kami geledah"
Salah satu petugas lain yang sudah ada diambang pintu kamar Yoga berbicara.
"Silahkan.."
Jawab Yoga.
Nindy ikut berdiri dalam dekapan Yoga. Air mata tanpa suaranya menderas hingga basah dibaju Yoga.
Yoga membawa Istrinya ke sofa sudut kamar mereka. Mendudukan Istrinya disana dan berlutut lagi didepan Nindy sambil memegang jemari Nindy.
Orang-orang itu mengobrak abrik seluruh isi lemari dikamar mereka. Yoga mengalihkan perhatian Nindy.
"Sayang.. lihat Aa"
Lalu Nindy melihat kearah suaminya. Yoga tak tahan melihat air mata yang terus mengalir diwajah Nindy. Hatinya sudah amat terluka membuat wanita yang dicintainya dalam keadaan seperti ini.
"Aa mau...Nindy kuat, demi baby kita yang ada diperut kamu sekarang. Aa akan buktikan kebenarannya. Doakan aa yaaa.. agar masalah ini lekas bisa aa selesaikan. Janji sayang... katakan selama aa nggak ada, kalian berdua akan baik-baik saja."
Nindy hanya terdiam menangis tanpa suara, menatap wajah suaminya.
"Janji ... sayang.. katakan.."
Ucap Yoga lagi dengan nada tangis tertahan ditenggorokannya, hatinya sudah hancur melihat Nindy.
"Iyaa.. Sa... yang... kami akan baik-ba... ik saja, Ak...ku janji"
Ucap Nindy terbata-bata menahan jerit tangisnya.
Yoga memeluk lagi istrinya... sangat erat.. Nindy membalas pelukan itu dengan sangat erat pula..
"I love you Nindy.. so much.."
"I love you too Yoga.."
"Kalau kamu mau pulang kerumah mama, aa izinkan, supaya ada yang jagain kamu sama baby kita."
"Enggak... Aku akan menunggu aa disini, semua hal tentang kamu ada disini.. aku dan bayi kita nggak bisa jauh dari itu semua.."
Yoga akhirnya menangis.. mendengar apa yang dikatakan Nindy. Hancur hatinya telah membuat kesedihan lain pada wanita yang akan menjadi Ibu dari anaknya yang sedang dikandung Nindy.
Sementara tanpa persoalan lain pun, Nindy sudah kepayahan dengan mual dan muntahnya.
"Dikamar ini tidak ada yang bisa dijadikan barang bukti. Mari pak Yoga sudah waktunya kita pergi"
Yoga melepaskan pelukannya, ingin melangkah meninggalkan Nindy. Namun Nindy langsung menautkan jarinya ke jari Yoga.
"Aku akan antar aa pergi"
♥️♥️♥️♥️
Cintaku diuji...
Kesetiaan ku diuji..
Semua yang indah yang telah kumiliki
Semua ... diuji..
Kau Kira aku akan Goyah?
Kukatakan TIDAK !
Aku akan bertahan dengan Cinta.
Aku akan Kuat karena ada dirinya dihatiku.
Seperti syair yang pernah aku nyanyikan dipernikahan kita
.
.
.
And now I do believe
That even in a storm
We'll find some light
Knowing you're beside me
I'm all right