My Favorite CEO

My Favorite CEO
7. Gugup



Abimanyu sudah mengambil posisi duduk yang berhadapan dengan ayahnya. Sementara Nindy, bunda yang amat dia cintai duduk disamping ayahnya, dan wanita yang amat dipuja oleh putranya itu pun tidak dapat menyembunyikan kekhawatiran dari wajahnya.


Yoga menatap tepat dikedua mata putranya, Abimanyu pun demikian, tapi ini bukan tatapan menantang seorang anak pada ayahnya. Ini lebih dari tatapan seseorang yang memberikan perhatian penuh pada lawan bicaranya.


Tatapan Yoga pada putranya, membawa sejuta kenangan ketika putranya itu masih ada didalam kandungan istrinya, hingga ketika keadaan keduanya yang membuat dirinya khawatir akan kehilangan salah satu dari mereka atau bahkan bisa jadi kehilangan keduanya, orang-orang yang amat berharga dan paling ia cintai didunia ini.


Saat ini bagi Yoga, betapa waktu sudah sangat cepat berlalu, masa kanak-kanak putranya itu terasa sangat singkat hingga tiba-tiba saat ini bayi mungil itu sudah tumbuh menjadi anak remaja. Remaja yang sudah mampu menyuarakan pendapatnya. Remaja yang sudah memiliki pandangan dan pemikiran sendiri didalam dirinya.


"Nak.. Bundamu ini adalah istriku, wanita yang kepribadian dan semua yang ada dirinya aku cintai, aku hargai dan harus aku lindungi. Sama seperti Abi, ayah juga tidak ingin Bundamu, wanita yang aku cintai ini terluka. Aku disini orang yang paling takut kehilangan kalian berdua, kalian adalah harta aku yang sesungguhnya."


Lalu Yoga merubah posisi duduknya menjadi menyamping menghadap ke arah Nindy. Kedua mata Abimanyu mengikuti gerakan ayahnya.


Yoga mengambil tangan Nindy dan membawanya dalam genggaman tangannya.


"Sayang.. aku tidak pernah ingin menyakiti atau pun melukai hatimu, tapi.. jika selama ini ada sikapku dalam berinteraksi dengan semua rekan bisnisku, ada yang membuatmu terluka.. aku sungguh minta maaf .. selama ini .. interaksi aku itu hanya semata-mata menjaga kesopanan dan hubungan baik saja sesama pebisnis. Tidak pernah lebih dari itu. Kamu masih satu-satunya wanita yang aku sangat cintai dan sangat aku ingini... Kamu mau memaafkan aku?"


Kedua mata Nindy tidak pernah berpaling sedikitpun dari memandang Yoga. Nindy memberikan senyumnya yang paling indah.


"Nin percaya dan yakin sama Aa, Nin coba memahami kondisinya Aa selama ini, dan maafkan Nin juga yaa A... Kalau Nin juga masih suka terlalu terbawa perasaan yang kadang, perubahan itu Abimanyu tangkap sebagai tindakan yang menyakiti aku. Nin maaf in Aa.. Aa juga maafin Nin?"


Tanya Nindya sambil menangkup pipi suaminya.


Yoga memeluk istrinya erat.


"Maafin Aa sayang.. Nin nggak salah, Aa yang harus bisa membatasi cara berinteraksi Aa dengan lawan jenis. Maafin Aa sayang.."


"Iyaaa... Nin maafin aa.."


Jawab Nindya sambil melepaskan pelukan Yoga dan menatap suaminya penuh kelembutan. Yoga kemudian mencium kening Nindy.


Abimanyu merasa lega dan senang dengan apa yang dia dengar dan dia lihat saat ini. Karena memang sesungguhnya dia hanya ingin ayahnya bisa membatasi diri ketika berinteraksi dengan sesama teman pebisnisnya, untuk tidak cipika cipiki dengan perempuan lain selain bundanya, tidak menarik kursi untuk mempersilahkan perempuan lain untuk duduk selain untuk bundanya dan banyak hal manis lainnya yang Ayahnya selalu tunjukan. Dia hanya ingin semua itu diberikan cuma untuk Bundanya.


Abimanyu kemudian mendekatkan dirinya, memeluk kedua orang tua yang amat dia sayangi.


"Terima kasih Ayah.. dan maafin Abi kalau sudah menyinggung perasaan ayah." Ucapnya.


Yoga memeluk putranya.


"Terima kasih sudah mengingatkan ayah nak."


Nindy mengusap punggung putranya sambil tersenyum memandang dua laki-laki yang melengkapi hidupnya.


"Oo iya anak muda! ayah mau kasih tahu .. yang membuat jantung kamu itu bergemuruh namanya Cinta! Kamu mencintai gadis itu !"


Ucap Yoga sambil menunjuk kedada putranya.


"Cinta.. apaan sih Yah!" Balas Abimanyu sambil menjauh dari Yoga dan malah bersembunyi dipunggung bundanya.


Nindy tertawa melihat itu.


"Siapa sayang ... nama anak gadis yang kemarin itu?" Goda Yoga lagi.


"Tita.. sayang namanya" jawab Nindy yang disambut dengan bekapan tangan Abi dimulut Nindy dan dia memeluk habis tubuh ibunya yang mungil dari belakang.


"Bunda apaan siih.."


Yoga dan Nindy tertawa melihat kegugupan putra mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku tak akan mau mengganti..


Semua hal yang kudapati saat ini.


Hatiku teduh.. dan aku bahagia.


(Yoga)


.


.


.


.


.


Aku ucapin terima kasih buat kalian yang masih setia membaca tulisan recehku ini. Setia menanti aku Up dan selalu memberikan komentar yang sangat enak untuk dibaca.. Maafkan karena aku lama sekali up nya. WFH itu lebih ribet dari kerja dikantor jadi mohon maaf yaa aku baru bisa up sedikit hari ini.