My Favorite CEO

My Favorite CEO
77. Pulang



Tubuh Abimanyu melemah, bahkan untuk sampai keatas tempat tidur dipenginapannya, Febry dan ayah Yoga harus menggotongnya bersamaan.


Tanda hitam pada lingkar matanya, menandakan kelelahan yang sangat. Abi bergumam dalam tidurnya ... "Kembalilah sayang ..."


Bunda menatap wajah Abi yang terpejam dengan kesedihan yang mendalam. Ia tidak pernah membayangkan kehidupan cinta putranya akan menjadi begitu rumit. Bunda menghela nafas panjang, Ia sudah tidak mampu menahan airmatanya ...


Bunda mengusap kepala Abimanyu penuh perhatian, Ia begitu memahami kekhawatiran putranya. Dibersihkannya wajah putranya yang sudah sangat kelelahan dengan handuk hangat.


Ayah memperhatikan bunda dengan kekhawatiran yang sama. Dia begitu tersiksa melihat wanita yang mendampingi hidupnya selama ini menangis terus akhir-akhir ini. Seakan-akan Ayah Yoga diingatkan kembali kesedihan yang meliputi hati pujaan hatinya itu ketika mengandung Abimanyu.


Yoga beranjak dari duduknya, memberi pelukan dari belakang untuk Nindy yang sedang membersihkan Abimanyu.


"Tidak apa sayang ... sakit hari ini adalah untuk kebahagiaan didepan nanti ... percayalah itu" ucap Yoga.


Tangis yang tertahan daritadi akhirnya lolos juga dari mulut Nindy, Ia begitu menyayangi putranya dan pelukan Yoga membuatnya menyerahkan segala kesedihan pada lelaki yang selama ini adalah tempatnya bersandar, menemukan ketenangan dan kasih sayang.


Yoga semakin merapatkan tubuhnya, memeluk dengan benar satu-satunya wanita yang sangat Ia cintai. Diam mencium ujung pangkal kepala Nindy, Yoga memejamkan matanya.


.


.


.


.


.


.


Semalaman Abimanyu tidak terbangun dari tidur lelahnya, karena takut kehilangan cairan, bunda meminta perawat Titi untuk memberi infus cairan pada Abimanyu.


Waktu sudah menunjukan waktu ashar, namun Abimanyu belum juga terbangun dari tidurnya, berkali-kali bunda dan ayah membangunkannya, namun hanya gumaman kerinduannya yang terucap tanpa sadar.


.


.


.


.


Diujung Dermaga.


Febry melihat perahu yang membawa Kei Langkat membawa pulang Annisa.


Wajah Febry begitu menampakan kelegaan dan rasa syukur. Dia benar-benar menunggu sampai perahu yang membawa Kei Langkat dan Annisa bersandar.


Bidan Aisyah begitu bahagia melihat dokter Annisa dalam keadaan baik-baik saja. Airmatanya menetes begitu saja. Kebersamaan mereka selama ini membuat keterikatan yang sangat kuat diantara mereka layaknya seorang adik dan kakak. Sehingga rasa kekhawatiran kehilangan Annisa begitu terasa didalam hati Aisyah.


Febry memberikan sapu tangannya. Menyadari gadis yang disampingnya juga pasti merasakan kelegaan dan keharuan yang sama. Aisyah menerima uluran sapu tangan dari Febry, dan mengusap airmatanya.


Perahu telah disandarkan, Febry membantu Annisa keluar dari perahu.


"Terima kasih Febry ..." ucap Annisa, lalu dengan segera beralih pada Aisyah, memeluk gadis itu dengan kelegaan. Aisyah menangis sejadi-jadinya.


"Jangan menangis Ais.. aku sudah pulang .." ucap Annisa menenangkan. Annisa memang juga sedikit kebingungan dengan reaksi Aisyah, karena ia hanya merasa baru saja sehari meninggalkan Aisyah.


"Dokter tahu? berapa lama dokter pergi? dokter tahu nggak?" ucap Aisyah dalam tangisnya.


"Aku baru meninggalkan kamu satu hari nona cantik!" jawab Annisa biasa saja.


Kei Langkat masih diam.


"Sebaiknya .. sekarang kita antarkan dokter Annisa untuk menemui pak Abi." ucap Febry, membuat Annisa juga baru tersadar, calon suaminya itu tidak menjemputnya. Aisyah melepaskan pelukannya.


"O iyaa .. mas Abi masih sibuk diproyek yaa Feb? ayoo kita temui dia disana!" ucap Annisa.


"Kita akan menemui Pak Abi dipenginapan Bu, beliau saat ini ada dipenginapan bersama kedua orang tuanya" jawab Febry.


"Ayolah .. kalau begitu, Nisa harus menemui ayah dan bunda juga!" jawab Annisa ringan, seolah-olah tidak ada satu apapun yang terjadi pada dirinya.


"Dokter pakai pakaian siapa? kuning seperti itu!" ucap Aisyah memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh Annisa. Lalu Kei Langkat memberi isyarat pada Aisyah untuk diam dan tidak terlalu banyak membuat Annisa bingung. Karena sesungguhnya Annisa juga tidak merasa bahwa dirinya telah berada hilang di kota tak kasat mata itu.


Kemudian Aisyah menuruti isyarat Kei Langkat.


Sejam perjalanan, akhirnya tiba mereka semua dipenginapan Abimanyu. Febry mengantarkan Annisa dan Kei Langkat ke sweet room tempat Abimanyu beristirahat.


Ketika pintu kamar dibuka, Ayah yang begitu kaget melihat Annisa ada dihadapannya langsung memeluk calon menantunya itu penuh kelegaan.


Annisa tidak menyangka akan mendapat pelukan dari calon mertuanya.


"Nisaaa!! panggil bunda setengah berteriak melihat calon istri putranya yang hilang dan akhirnya kembali.


"Bundaaaa... " jawab Annisa, lalu Bundapun menghambur memeluk Annisa dan menangis. Annisa benar-benar dibingungkan oleh keadaan ini.


"Mas Abiiii ...." ucapnya lirih demi melihat orang terkasihnya terbaring tanpa daya dengan infusan dibalik punggung calon mertuanya.


Lalu Bunda melepas pelukannya dan memeluk bahu Annisa membimbingnya mendekati Abimanyu.


"Mas Abi kenapa ini ? ada apa Bun?" tanya Annisa menangis demi melihat Abimanyu tidak berdaya.


Lalu Kei Langkat, dikamar itu menjelaskan pada Annisa sesungguhnya apa yang terjadi. Hingga Annisa sendiri merinding mendengarkan penjelasan Kei Langkat, karena sesungguhnya dia juga tidak menyadari selama itu dirinya menghilang dan berada dikota tak kasat mata itu.


Lalu Annisa mendekat, membelai rambut dan wajah calon suaminya yang masih tertidur pulas.


"Sayaaaaang .... bangun ... aku pulang ... ini aku pulang ... " ucap Annisa membangunkan Abimanyu.


"Kembali .. sayang ..." gumam Abimanyu masih tidak sadarkan diri.


"Aku sudah pulang ... sayang ... ayooo buka mata kamu ... lihat aku ... mas ..." pinta Annisa sambil mengusap pipi Abimanyu. Lalu mengusap-usap lengan Abimanyu.


"Ayooo mas, buka matanya... lihat! ini aku sudah pulang mas!" ucap Annisa keras menegaskan kehadirannya pada Abimanyu sambil terus menggoyang-goyangkan lengan Abi.


Terhentak karena panggilan itu, Abimanyu membuka kedua matanya. Membeku pada wajah gadis yang teramat dirindukannya. Abi merasa seperti mimpi.


Lalu Annisa tahu apa yang dirasakan Abi, ia meraih telapak tangan Abimanyu, lalu menyentuhkan telapak tangan itu pada pipinya.


"Ini aku mas ... bukan mimpi ... aku pulang.." ucap Annisa.


.


.


.


.


.


"Sebut namaku sayang ... katakan ..." ucap Annisa lagi ketika jemari Abimanyu memainkan bibirnya.