
Bunda dan Ayah harus pulang terlebih dulu, untuk menjamu ayah dan kakak kandung Annisa. Mereka baru saja tiba dan saat ini sedang menuju kerumah orang tua Abi.
"Istirahat sayang ..." ucap Abimanyu sambil mengelus perut Annisa.
"Mas.. makan dulu dong, biar aku juga tenang.." ucap Annisa lembut sambil memainkan pipi suaminya.
"Kamu mau nemenin aku makan nggak?" tanya Abi memanja sambil menopangkan wajahnya diperut Annisa, mendengar suara-suara dari dalam perut istrinya.
"Iyaaaa.. mau, minta tolong Febry untuk belikan ya .." jawab Annisa.
"Iyaa, aku telpon dia ya.." lalu tidak berapa lama Abimanyu melakukan panggilan. Setelah itu Abi kembali mendekat dan kali ini merebahkan kepalanya diatas tempat tidur Annisa, tepat didepan perut Annisa.
"Sayang ... kita belum memberi lengkap nama Twins .." ucap Annisa lembut. Perlahan memainkan rambut Abimanyu, mengusapnya dan memilin rambut lebat suaminya diantara jemarinya, lalu turun ke alis dan pipi suaminya.
"Kita terlalu mengkhawatirkan keadaan mereka, sampai lupa untuk menyiapkan nama .. coba aku lihat nama-nama baik lewat goggle ya .." lalu Abimanyu membangunkan tubuhnya dan mulai mencari lewat gadgetnya.
Basmah Amia Putri Abi (senyum sebagai yang tercinta anak perempuan Abi)
Rama Aziz Putra Abi (pembawa kebahagiaan bayi laki laki yang kuat, tegas, gagah, dan penyanyang anak laki-laki Abi)
"Kamu suka sayang .. nama-nama ini?" tanya Abi.
"Suka .. aku suka mas .. nama-nama penuh cinta" jawab Annisa tersenyum.
"Mereka hadir karena cinta .. cintaku padamu .." jawab Abimanyu kemudian memberikan ciuman hangat dibibir Annisa.
"Juga cintaku padamu.." balas Annisa masih pada bertautnya kedua bibir mereka.
Mereka mengakhirinya dengan saling tersenyum. Jika saja saat ini mereka bukan berada dirumah sakit, mungkin ciuman tadi akan berakhir pada pergumulan tiada akhir yang selalu terjadi jika kedua insan itu sudah menyatu.
"Semoga ... besok semuanya lancar, kamu selamat, anak-anak kita juga selamat dan sehat. Terima kasih sayang ... untuk semua yang sudah kamu lakukan untuk kebahagiaanku.." ucap Abimanyu dan sekali lagi mencium sekilas bibir istrinya.
"Kebahagiaanmu... adalah kebahagiaanku sayang ..." jawab Annisa memanja dan memainkan hidungnya dihidung Abimanyu.
Abi mengambil ciuman dibibir istrinya lagi. Dan dibalas oleh Annisa.
"I love you .. berjanjilah kamu akan baik-baik saja.." ucap Abimanyu lagi.
"Aku tidak bisa berjanji sayang ... tapi doamu nanti adalah jalan kemudahan untukku .. untuk anak-anak kita .." jawab Annisa sambil mengusap pipi Abimanyu, lalu mengusap mata belahan jiwanya.
"Mata ini juga jangan selalu nampak khawatir .. aku jadi resah .. semua kita pasrahkan pada Sang Pemilik ya .. sayang .." ucap Annisa tersenyum menenangkan.
Abimanyu memeluk istrinya.
"Aku sungguh mencintai kamu .. Nisa .." ucap Abimanyu dalam pelukan istrinya.
"Aku juga mencintaimu Abi .. terima kasih .. karena kamu mencintai aku apa adanya .." ucap Annisa juga dalam pelukan suaminya.
Pintu kamar diketuk seseorang. Sesaat mereka melepaskan pelukan yang begitu menentramkan.
"Yaaa.. masuk!" ucap Abimanyu sambil melihat kearah pintu kamar rawat.
Ternyata dokter Ria dan seorang perawat, yang akan melakukan pemeriksaan kepada Annisa.
"Selamat siang dokter Nisa.. Pak Abi" sapa dokter Ria.
"Selamat siang dok, silahkan.." jawab Abimanyu langsung mempersilahkan dokter Ria memeriksa keadaan Annisa.
Dokter Ria memeriksa secara seksama dan sangat hati-hati.
"Keadaan dokter Annisa sangat bagus ya dok, siap untuk melakukan operasi Cesar besok, semoga semua lancar dan tidak terkendala satu apapun juga" ucap dokter Ria selanjutnya.
"Baik dok, terima kasih banyak" jawab Annisa ramah.
"Sampai bertemu besok pagi lagi yaa dok" ucap dokter Ria sekaligus pamit keluar dari ruangan itu, bersamaan dengan masuknya Febry membawa semua pesanan Abimanyu.
"Baik dokter Ria, lakukan yang terbaik untuk istri dan anak-anak saya" ucap Abimanyu.
"Akan kami lakukan pak, saya permisi dulu" balas dokter Ria sambil menangkupkan kedua tangannya berpamitan.
Febry sedang menyiapkan hidangan makan siang pesanan Abimanyu, kemudian menatanya diatas meja makan didepan kitchen set yang ada dikamar perawatan itu.
Abimanyu dan Annisa mendekat kearah Febry dan duduk dimeja makan, Abi ternyata tidak ingin menikmati sendiri steak dagingnya, Ia memotong-motong daging bagian Annisa.
"Makan sayang ... temani aku" ucap Abimanyu sambil menyerahkan piring dengan steak daging yang sudah dipotong-potongnya tadi dihadapan Annisa.
"Iya, terima kasih mas" lalu Annisa menunggu Abimanyu memasukan potongan daging kedalam mulutnya, baru ia melakukan yang sama.
"Kenapa?" tanya Abimanyu yang menyadari sedari tadi Annisa menatapnya.
"Nggak apa-apa ... ingin saja melihat wajah ganteng suamiku ..." Annisa beralasan, tapi tiba-tiba malah ia meneteskan air mata, yang dengan segera berusaha ia tepiskan.
Namun terlambat, Abi melihatnya lebih dulu. Ia memeluk lagi istrinya penuh kasih.
"Menangislah .. sayang ... sekarang kamu punya bahu dan dadaku untuk kamu menangis ... kamu sudah tidak sendiri!" ucap Abimanyu, kemudian Ia terdiam sambil memeluk istrinya. Meresapi benar rasa yang ia sendiri juga rasa ...
Febry tidak mampu melihat pemandangan yang mengharukan itu, setelah dua gelas air mineral yang sudah ia siapkan, ia taruh diatas meja, lelaki itu meninggalkan keduanya dengan hatinya yang juga getir.
.
.
.
.
.
.
.
.
Abimanyu memperhatikan wajah istrinya yang sudah tertidur. Ia melihat, malam ini Annisa terlihat sangat cantik, wajahnya begitu terlihat bersih dan bercahaya. Teduh rasanya melihat wanita yang sangat ia cintai itu.
Hatinya diliputi keresahan, menunggu pagi.
Ia berdoa, memohon agar Tuhan memberikan perlindungan dan keselamatan pada istri dan anak-anaknya. Ia tidak akan sanggup hidup tanpa ketiganya. Airmatanya menetes tidak mampu terbendung lagi.
*Aku tidak bermaksud
MembuatMU .. cemburu
Tapi aku juga sangat mencintainya*.
*Aku titipkan ia pada perlindungan dan cintaMU.
Karena itu lebih pasti.
(Takut kehilangan_Abimanyu*)
Abimanyu teringat, bagaimana tadi sore ayah mertua juga kakak iparnya sangat mengkhawatirkan Annisa.
Mereka seakan diingatkan akan kenangan kepergian istri dan ibu mereka dulu, tidak lama setelah Annisa dilahirkan.
Sore tadi betapa hatinya begitu getir melihat ayah dan anak itu menangis saling memohon untuk dimaafkan. Seakan mereka baru saja merasakan bahagianya telah dipertemukan namun harus bersiap untuk dipisahkan kembali.
Kemudian kakak iparnya yang berpesan, agar Annisa selalu ingat untuk tetap hidup demi anak-anak yang telah ia lahirkan, kemudian memeluk adik yang baru saja ia miliki itu dalam derai airmata.
Hati Abimanyu begitu ngilu dan getir, bahwa sebelumnya ia tidak pernah dirisaukan akan kehilangan Annisa, melainkan oleh salah satu anak mereka.
Namun, pengalaman kehilangan yang dialami mertua dan kakak iparnya membuat Abimanyu menyadari, segalanya bisa terjadi disaat persalinan. Dan itu membuat malamnya semakin gelisah.
Ia merasa, jika ia kehilangan kali ini maka mungkin hidupnya tidak akan pernah kembali.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pembaca setia MFC, jangan lupa yaa tinggalkan kebaikan jari kalian untuk likes dan komen diakhir cerita chapter ini. Dan beri dukungan kalian terus atas ceritaku ini yaa 🙏🙏🙏 terima kasih