My Favorite CEO

My Favorite CEO
112. Perempuan B*j*ngan




Abimanyu sudah tidak bisa melepaskan pandangannya dari kedua darah dagingnya. Kedua malaikat kecilnya itu belum banyak jam bangunnya, sehingga ia sudah tidak sabar untuk bisa membawa Twins bermain.


Namun yang sangat diperhatikan Abimanyu adalah keadaan Basmah, ia sangat menghindari malaikat kecilnya itu menangis, selain karena kulit tubuhnya akan berubah agak membiru, suara tangisan Basmah yang lemah justru membuat hatinya meringis pilu.


"Mas ... ayoo istirahat, besok kamu harus terbang subuh loh" ucap Annisa mengingatkan suaminya.


Annisa dan Twins sudah hampir empat belas hari sudah berada dirumah Nenek dan Kakeknya, keduanya tidak membolehkan Annisa mengurus Twins sendiri dirumah yang baru juga dibeli Abimanyu sebagai hadiah untuk Annisa, rumah mewah itu padahal tidak terlalu jauh dari rumah kedua orang tuanya.


Namun Bunda Nindy mengkhawatirkan kesehatan Annisa, takut menantu kesayangannya kurang istirahat sehingga dapat mengganggu produksi ASI buat twins. Sehingga kedua orang tua itu menyarankan twins untuk tinggal sementara dulu dirumah mereka, sampai bunda Nindy merasa Annisa sudah siap dilepas untuk mengurus Twins seorang diri.


Annisa dan Abimanyu menurut saja dengan kedua orang tuanya, terutama Annisa, karena ini adalah pengalaman pertamanya mengurus bayi.


"Rasanya males banget deeeh hon" jawab Abimanyu sambil bringsut kesisi Annisa sambil meletakan tangannya diatas perut Annisa dan wajahnya persis disisi bawah b*ah dada istrinya.


Annisa membelai rambut Abimanyu, sebenarnya dia juga enggan ditinggalkan oleh suaminya, tapi tidak mungkin lagi Abimanyu meninggalkan begitu banyak pekerjaan yang harus Ia awasi dan pertanggungjawabkan.


"Mas... jangan jadi males dong aah... itukan perusahaanmu, tanggungjawabmu, cita-citamu, adanya twins harusnya malah nambah semangat dong ah!" ucap Annisa yang kemudian mencubiti gemas pipi suaminya.


"Enggak ada kalian disana, bikin aku males. Mana bisa aku lama-lama jauh dari kalian!" jawab Abimanyu yang terdengar seperti rengekan ditelinga Annisa.


"Mas kan bisa pulang kapan aja! ayo semangat ah!" balas Annisa sambil mencium pipi suaminya.


"Masih sakit nggak sayang .. jahitan ini?" tanya Abimanyu sambil mengusap lembut bekas jahitan Cesar yang ada diperut Annisa. Ia sudah begitu menginginkan wanitanya.


"Sudah tidak terlalu sakit, kenapa?" tanya Annisa sambil membalas tatapan mata Abimanyu.


"Menurut banyak orang, sakitnya akan lebih lama rasanya? aku jadi takut kamu kesakitan kalau mau sayang ..." jawab Abimanyu dengan tatapan ingin yang sangat difahami oleh Annisa.


Annisa berinisiatif untuk menepis segala kekhawatiran Abimanyu dengan terlebih dulu menautkan b**irnya. Memberikan gerakan lembut menggoda di b**ir Abimanyu.


Gerakannya yang lembut perlahan menjadi begitu mendamba karena c*u*anya berbalas. Annisa kemudian menelusuri leher suaminya dengan l*d*hnya membuat Abimanyu mengerang, mendominasi tubuh suaminya, Abimanyu menyukai apa yang dilakukan Annisa, jemarinya sudah membelai punggung Annisa, dan menjadi liar ketika p*t*ngnya dipermainkan lidah Annisa.


Wanitanya sudah melepaskan semua pakaian yang melekat ditubuhnya.


Abimanyu merintihkan nama Annisa, membuat yang disebut tersenyum dan semakin meliarkan penjelajahan li*ah dan bibirnya ditubuh kekar suaminya.


"Niiisss..." suara Abimanyu mendamba dan menggeliat ketika wanitanya sudah pada pangkal tubuhnya yang begitu menginginkan. Annisa masih terus menggodanya memberikan belaian yang semakin membuat Abi menggila. Menginginkan wanitanya melebihi apapun, berulang kali menyebut nama Nisa, mengerang pada pendambaan yang sebenarnya ia ingin lakukan dengan cara yang sempurna agar wanitanya juga turut hanyut pada percintaan mereka.


Nisa menyadari keinginan suaminya untuk pelepasan, dan disanalah ia memenuhi kepuasan Abimanyu yang berulang kali mendesah dan menyebut namanya, sampai akhirnya tubuh Abimanyu mengelenyar dalam kepuasan.


Tubuhnya terpuaskan, batinnya dipenuhi cinta, ia menangkup wajah Nisa, memberinya ciuman lembut dibibir istrinya yang terasa seperti madu.


"Terima kasih .. sayang.." ucapnya mendayu, Annisa tersenyum dan kemudian ikut tertidur didada suaminya yang telanjang.


.


.


.


.


.


.


Waktu menunjukan pukul 02.00 pagi ketika Rama menangis membangunkan Annisa dari tidurnya.


"Pelan-pelan sayang .." bisik Annisa sambil mengusap pipi bayinya. Rama seperti mengerti, kemudian ia pun kembali menghisap ASInya perlahan.


"Anak pintar .." lembut suara Annisa mengatakannya. Ia tersenyum lembut menatap putranya.


Sedang Ia menyusui, Handphone Abimanyu yang tergeletak di meja depan sofa, beberapa kali menyala tanda menerima pesan. Annisa begitu penasaran, siapa dini hari seperti ini sudah mengirimkan pesan pada suaminya.


Hisapan Rama pada ASInya sudah melemah, tanda putranya itu mulai tertidur kembali, perlahan Annisa menidurkan Rama kembali disisi Basmah.


Annisa mengambil handphone Abi setelahnya, membuka dan mencoba melihat pesan siapa yang masuk.


"Nomor tidak dikenal?" batin Annisa karena hanya tertera nomor kontaknya saja, lebih penasaran Annisa membuka pesan itu dan membuatnya terhenyak dan terduduk disofa dengan tangan gemetar melihat apa yang dikirimkan orang tersebut, Annisa sedang menghapus gambar-gambar tidak senonoh yang terkirim ke handphone suaminya dalam deraian airmata, namun tiba-tiba Basmah menangis, ia terlonjak kaget dan lekas menaruh handphone suaminya itu dan meraih Basmah dalam dekapannya.


"Ade .. tahu sayang kalau ibu lagi sedih ya? Ade juga haus?" bisik Annisa masih sambil beruraian airmata. Hatinya gelisah dan seakan tidak bisa menunda kekhawatirannya sampai suaminya bangun.


Sambil menyusui Basmah, Annisa perlahan membangunkan Abimanyu.


"Mas ... mas ..." ucap Annisa sambil menggoyang-goyangkan kaki suaminya. Airmatanya masih terus saja mengalir.


Abimanyu terbangun dengan kaget, apalagi yang berada dalam gendongan istrinya adalah Basmah.


"Ada apa dengan Basmah sayang?" ucap Abimanyu yang langsung terduduk mendekat kearah wanita yang paling dicintainya itu dan melihat putri kecilnya khawatir.


"Bukan Basmah .." jawab Annisa masih sambil menangis.


"Kenapa kamu menangis kalau bukan karena Basmah? ini baru jam setengah tiga pagi sayang.. ada apa?" ucap Abi khawatir sambil mengusap air mata dan kepala Annisa.


"Buka pesan WA kamu... bisakah kamu berbuat sesuatu untuk itu?" jawab Annisa masih menangis dan membuat ia tidak bisa konsentrasi menyusui putrinya.


Abimanyu langsung bangun dan mengambil handphonenya, membuka pesan yang dimaksud oleh Annisa.


"Perempuan b*j**gan!" teriak Abi penuh kekesalan melihat pesan apa yang sudah dikirim Tita, teriakan Abi membangunkan kembali Rama dan Basmah, hingga keduanya menangis bersamaan.


Abi langsung menghapus dan memblokir nomor yang mengirimkan foto-foto Tita dengan pose tidak senonoh. Langsung melempar handphonenya kesembarang tempat dan bergegas kearah box bayi tempat Rama menangis.


"Cup..cup..cup..cup...cup.. anak bapak... jangan menangis, maaf yaa.. suara bapak ngagetin kakak ya?" ucap Abimanyu sambil menenangkan putranya dalam dadanya. Mengayun-ayun Rama agar berhenti menangis, Hal sama yang sedang dilakukan Annisa terhadap Basmah.


"Sayang ... Basmah bagaimana?" tanya Abi khawatir dan menyesal karena tadi harus berteriak. Sambil mengusap airmata Annisa.


"Agak biru sedikit seperti biasa kalau dia menangis" jawab Annisa penuh kesedihan.


Abimanyu merengkuh kepala Annisa kemudian mencium kening istrinya dan berlama-lama disana. Ia menyesal Annisa harus melihat apa yang dikirim Tita, sekaligus ingin menenangkan hati istrinya.


"Jangan terpengaruh dengan apa yang kamu lihat tadi! seperti kamu lihat, dia kesulitan menghubungi nomorku karena sudah terblokir! jangan terpancing dengan apa yang dia lakukan ya! dia akan tertawa puas karena sudah berhasil mempermainkan kita kalau kamu kayak gini!" ucap Abimanyu lagi, kemudian mengangkat wajah Annisa untuk melihat kearahnya. Tentu saja mata Annisa masih mengisyaratkan kesedihan dan kekhawatirannya.


"Hanya kamu yang ada dihatiku dan cuma kamu yang mampu membangkitkan gairahku, bukan wanita lain! kamu harus mempercayaiku!" ucap Abimanyu tegas, dan karena kedua malaikat kecilnya sudah tenang dan tertidur kembali, Abimanyu menidurkan Rama ditempat tidurnya, kemudian perlahan mengambil Basmah dalam gendongan Annisa, dan menidurkan putrinya kembali disamping kakaknya.


Abimanyu merengkuh bahu Annisa, membawanya kedalam pelukannya. Mencium pangkal kepala istrinya berkali-kali. Perlahan ia merenggangkan pelukannya, mengangkat dagu istrinya untuk melihat kearahnya.


"Dia sudah putus asa untuk coba menggangguku! pada akhirnya tergadai juga harga dirinya agar aku mau mengikuti permainannya, tapi kamu harus tahu aku tidak pernah akan menggubrisnya! cuma kamu satu-satunya wanita yang aku inginkan!" tegas Abimanyu kemudian ******* b**ir Annisa untuk menghilangkan segala keraguan dihati istrinya.


Annisa membalas bi*ir suaminya dengan hasrat yang tidak terbaca oleh Abimanyu. Apakah kemarahan atau murni menyatakan kepemilikan wanita yang amat dicintainya ini atas dirinya, Annisa meliar, membuat Abimanyu menghentikan l*matanya kemudian hanya memeluk istrinya itu dengan erat.


"Aku hanya menginginkan keliaranmu, jika itu kamu lakukan dengan hatimu.. bukan karena kemarahanmu.. kamu wanita baik-baik, bukan seperti dia!"


Annisa menangis didada suaminya, ia rapuh jika itu mengenai suami dan anak-anaknya. Ia takut kehilangan kembali ....