My Favorite CEO

My Favorite CEO
Operasi



Yoga tetap bertahan dirumah sakit, kali ini ditemani oleh papa Fachri.


Menunggu waktu pagi .. terasa begitu panjang kali ini dirasakan oleh Yoga.


Selama beberapa jam menjelang persiapan operasi, keadaan Nindy selalu diawasi dan dipantau oleh perawat dan dokter.


Sampai ketika Dokter yang bertanggung jawab menangani pembedahan Nindy merasa waktunya sudah tepat dilakukannya operasi.


Baru saja Yoga dan Papa selesai sholat Subuh, dua perawat datang kekamar Nindy.


" Bapak, dr. Anwar ingin melakukan operasinya saat ini juga, karena kondisi mba Nindy stabil"


" Baik sus.. " jawab Yoga dan Papa.


Lalu perawat yang pertama membuka pintu kamar Nindy lebar-lebar, sementara yang satu mendorong keluar ranjang dimana Nindy masih terbaring.


Yoga mensejajari langkah perawat mendorong ranjang Nindy menuju ruang operasi yang tidak jauh dari kamar Nindy tadi.


"Tunggu sebentar !"


Pinta Yoga ketika Nindy sudah ingin dimasukan keruangan operasi.


Yoga meminta papa menggerakkan tangan Nindy diusap ketubuhnya bertayamum. Lalu membisikan ditelinga Nindy yang sudah berwudhu Dua kalimat syahadat.


Papa dan Yoga melihat butiran air mata disudut mata Nindy.


Seolah mereka diberi isyarat bahwa Nindy tau dan merasakan apa yang mereka lakukan pada dirinya.


" Bertahanlah sayang... "


Bisik Yoga lirih dalam hatinya.


Diluar ruang operasi sudah berkumpul Mama, Papa Iwan, Lita dan Pipit yang terus menjaga dan menguatkan mama.


Sedang mereka masih menunggu dalam doa, Ferdi datang.


" Pak Yoga.."


" Fer..." suara Yoga melemah


" Ada berita penting yang ingin saya sampaikan pada Bapak"


Terang Ferdi.


Lalu Yoga mengikuti langkah Ferdi yang menjauh dari keluarga yang sedang menunggu Nindy.


" Pak, polisi menemukan pelaku yang membuat keadaan Bu Nindy seperti ini"


Yoga menerima berita itu dengan senang sekaligus geram


" Siapa?"


tanyanya


" Nena pak "


" Perempuan Iblis!!"


Tangan Yoga menonjok tembok tempatnya bersandar.


Ferdi mengkhawatirkan tangan bosnya menjadi patah. Namun dia tidak berani untuk melihat.


" teruskan..."


Perintah Yoga


" Polisi untungnya menemukan handphone Bu Nindy yang jatuh dibawah kursi ditempat kejadian pak, masih dalam keadaan merekam, sehingga dari sana Polisi menemukan percakapan antara Nena dan Bu Nindy sebelum terjadinya pemukulan yang dilakukan Nena, juga percakapan ketika Bu Nindy diketemukan daaaan...."


" dan apa !"


" apa?"


" saya sudah merekam ulang apa yang ingin disampaikan Bu Nindy ke bapak, karena maaf pak Handphone Bu Nindy masih dijadikan alat bukti, jadi tidak bisa diambil"


Lalu Ferdi menyerahkan Handphonenya yang sudah dalam keadaan kapan pun Yoga siap mendengar kata-kata Nindy terakhir sebelum kecelakaan yang menimpanya, Yoga tinggal memencet tombol on nya.


Yoga menarik nafasnya..


" a.. Nindy benar-benar minta maaf.. kalau tayangan gambar Rosa tadi sudah melukai perasaan aa. Nindy hanya ingin aa tetap mengenang segala kebaikan Rosa seperti juga kelak jika Nindy tiada.. aa juga selalu mengingat kebaikan Nindy... Maafin Nindy yaa a... "


Yoga terus mengulang-ngulang rekaman itu....


Dia sudah sangat merindukan suara merdu mendayu itu...


Hatinya seakan tercabik-cabik mendengarnya.


Ia menunduk menangis ... mengeluarkan segala kesedihannya yang semakin menjadi-jadi setelah rekaman itu yang juga telah menemukan siapa pelaku yang telah melakukan hal paling keji itu terhadap wanita yang paling ia cintai.


Beberapa saat kemudian...


" Pastikan Fer, Nena tidak lolos dari ini semua. Dan jangan biarkan si Bachtiar mampu mengkondisikan segalanya dengan kekuasaannya. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan !!! saya tidak akan pernah memaafkan keluarga itu !!"


" Baik pak. saya mengerti"


Lalu Ferdy meninggalkan Rumah Sakit.


2 Jam berlalu


Dokter Bedah sudah keluar dan menerangkan kondisi Nindy.


" Saya sebenarnya cukup heran dengan keadaan ini. tapi semua hanya Kuasa Allah yaa Pak... Bu.. perdarahannya Alhamdulillah sudah sangat baik tertangani dan sistem syaraf dikepala mba Nindy semoga lekas pulih seiring setelah ini harus langsung dilakukan terapi oleh Fisioterapi dan semoga Mba Nindy lekas sadar pagi ini"


" Alhamdulillah... "


Semua orang mengucapkan syukur.


Mereka semua begitu lega dan seakan beban berat yang mereka pikul telah diangkat.


" apakah meninggalkannn.. maaf dok, kecacatan permanen ?"


Tanya Yoga tiba-tiba


" Itulah yang saya katakan pak, saya cukup heran dengan kondisi Mba Nindy. Tapi kembali saya hanya bisa bilang, Jika Allah SWT berkehendak, maka hal yang tidak mungkin dalam pandangan manusia, sangat mungkin bagi Allah. InsyaAllah Bu Nindy tidak akan cacat.. dan kami sudah melakukan yang terbaik yang bisa kami lakukan. Sekarang tinggal Mba Nindy berjuang sekali lagi untuk sadar dan bangun hari ini"


" Terima kasih banyak Dok!"


Ucap Yoga dan semua keluarga yang ada.


Mereka benar-benar bahagia mendengar penjelasan dokter bedahnya Nindy tadi.


Lita, Pipit dan mama, mereka menangis bahagia saling berpelukan.


Setelah dokter pergi, tidak berapa lama Nindy keluar dari ruang operasi.


Ranjang tempat tidur rumah sakit itu didorong kembali masuk keruangan Nindy semula.


" Mohon maaf Bapak.. Ibu.. saat ini yang bisa menemani mba Nindy hanya boleh satu orang didalam"


" Sebaiknya kamu Ga, yang didalam "


Kata Papa Fachri.


" iya.. kamu saja nak.."


Kata Mama


" Baiklah.. Yoga tinggal kedalam dulu yaa pah, mah.. "