My Favorite CEO

My Favorite CEO
108. Persiapan



Dan ... hari itu pun tiba


Hari dimana Annisa melepaskan satu impiannya untuk meraih impiannya yang lain.


Saat ini Annisa harus berpamitan untuk persiapan persalinannya, dan mungkin selama cutinya itu, surat keputusan pengunduran dirinya akan disetujui. Hingga kepergiannya saat ini seperti mewakili perpisahannya yang akan datang.


Pelepasan yang mengharukan dari semua teman-teman, warga sekitar dan warga pulau, bahkan aparat desa, membuat Annisa tidak mampu membendung airmata harunya.


Abimanyu juga turut menghargai dan mengapresiasi perhargaan yang diberikan semua fihak kepada istrinya. Abi merasakan betul, bahwa istrinya telah begitu banyak menanam kebaikan didesa mereka ini.


"Doakan aku yaa semua .... aku pamit, tapi pasti aku akan melihat kalian lagi. Usaha suamiku disini! pasti masih banyak waktu dan kesempatan kita bisa saling bersilaturahmi lagi" pamit Annisa kepada rekan-rekannya sebelum Ia masuk kedalam mobil yang akan membawa ia dan suaminya kebandara.


.


.


.


.


.


.


.


.


Didalam mobil yang membawa dirinya, Annisa merebahkan kepalanya dibahu suaminya. Ia memejamkan matanya menahan segala kesedihan. Ia tidak boleh larut karena perpisahan. Karena kini saatnya ia harus kembali mengumpulkan kekuatannya untuk perjuangan barunya. Melahirkan.


Abi hanya mampu menggenggam jemari istrinya memberikan kekuatan dalam diam.


Abimanyu memasangkan safety belt untuk Annisa, lalu mencium sekilas bibir istrinya. Annisa tersenyum tulus. Matanya menjadi bengkak karena menangis, mata itupun tak luput dari ciuman suaminya.


"Jangan ada airmata kesedihan lagi yaa ..." pinta Abimanyu lembut.


"Iyaaa .." jawab Annisa yang lalu menangkup kedua pipi suaminya dan memberikan ciuman hangatnya.


"Jangan goda aku! didalam pesawatku ini aku bisa melakukan apa saja semauku terhadapmu nyonya! goda Abimanyu yang disambut tawa Annisa.


Lalu Abimanyu mendudukan dirinya disamping Annisa, memakai safety beltnya sendiri kemudian memalingkan wajahnya pada wajah istrinya yang saat ini sedang menatapnya penuh perhatian.


"Mata kamu itu lebih indah kalau tatapannya seperti ini ... bukan tatapan kesedihan" ucap Abimanyu sambil menangkupkan satu telapak tangannya dipipi Annisa, membelainya disana.


Abi tidak bisa membiarkan bibir manis istrinya lagi, hingga bibir itu tertutup oleh bibirnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ruangan VVIP yang sudah dipersiapkan untuk Annisa, akan menjadi ruangan yang akan ditempatinya beberapa hari kedepan.


Bunda dan Ayah sudah turut menunggu didalam kamar rumah sakit itu, begitu Annisa dan Abimanyu landing dan dibawa langsung kerumah sakit.


Dengan dibantu Abimanyu, Annisa sudah berganti pakaian dengan pakaian yang disiapkan rumah sakit. Kini Abi membimbingnya untuk ketempat tidur, merebahkan dengan nyaman Annisa diatasnya. Kemudian mencium kening istrinya.


Abimanyu penuh perhatian terhadap semua yang dilakukan kepada istrinya. Hatinya mulai gelisah, tapi coba menampakan ketenangan dipermukaan.


Hasil skin prick test ternyata Annisa tidak memiliki Allergi sehingga keadaan sudah aman buat Annisa melakukan pembedahan Cesar esok hari.


"Ok, kita lihat keadaan twins dulu yaa.. kami akan membawa dokter Annisa untuk pemeriksaan Fetal Echocardiography" ucap dokter Liliana.


"Ok dok" jawab dokter Annisa.


Beberapa saat kemudian seorang perawat membawakan kursi roda. Abimanyu membantu Annisa sampai duduk dikursi roda itu, lalu mendorongnya sendiri.


"Bunda dan ayah menunggu kamu disini yaa nak" ucap bunda pada Annisa dan Abi.


"Iyaa Bun" jawab Abi sambil membawa keluar kamar rawat, kursi roda istrinya.


Beberapa saat kemudian setelah dokter Liliana melakukan pemeriksaan dan pengamatan, beliau menyampaikan bahwa Cantik tetap dalam keadaan katub jantungnya bocor, tetap ada lubang yang tidak tertutup sempurna ketika tubuh melakukan pembentukan.


"Enggak perlu khawatir yaa dok, pak Abi.. semua persiapan sudah kita lakukan matang. Mudah-mudahan semua sesuai harapan, tidak terkendala satu apapun" ucap dokter Liliana menenangkan.


Annisa tersenyum sebagai balasan pernyataan dokter Liliana, sementara jemarinya mengusap jemari Abimanyu yang ia fahami sedang resah.


Abimanyu hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Ok, semua persiapan sudah kita lakukan. Nanti jam sepuluh malam jangan lupa sudah mulai puasa yaa dok, sampai nanti bertemu dengan saya diruang operasi" ucap dr. Liliana kembali.


"Dok.. saya bisakan kalau Anastesi Spinal ?" tanya Annisa.


"Boleh itu nggak masalah, nanti saya berikan catatan permintaan dokter Annisa direkam medis, agar dokter Spesialis kandungannya bisa baca. Setelah makan siang dokter Ria yang akan memeriksa keadaan dokter Nisa ya" jawab dokter Liliana.


Jenis anestesi spinal ini umum dilakukan saat operasi caesar. Anestesi spinal akan memblokir rasa sakit dari dada sampai ke bagian tubuh bawah. Ibu akan tetap terjaga dan mampu bernapas normal, sehingga secara alami Annisa pun dapat mendengarkan suara bayinya nanti menangis ketika dilahirkan.


Annisa dan Abimanyu kembali lagi kekamar perawatan. Memposisikan Annisa nyaman diatas tempat tidur VVIP itu. Abimanyu memberikan Annisa Jus buah bit dan naga yang dibuat khusus oleh bunda. Satu gelas penuh itu tandas diminum oleh Annisa.


"Enakkan sayang?" tanya bunda yang melihat jus yang dibuat olehnya habis diminum satu gelas oleh Annisa.


"Bunda selalu enak bikin apa juga... jusnya enak Bun" jawab Annisa sambil tersenyum.


"Lalu tadi apa yang dikatakan Dr.Liliana? mengapa dia yang memeriksakan keadaan Twins Bi? apakah ada sesuatu yang kalian sembunyikan ?" tanya Ayah yang sedari tadi menaruh tanya akan kehadiran dokter Liliana.


"Sebenarnya Yah ... Bun .. bukan maksud Abi dan Nisa menutup-nutupinya dari ayah dan bunda, kami hanya tidak ingin ayah dan bunda menjadi khawatir, kemudian mengganggu kesehatan ayah dan bunda sendiri" jawab Abimanyu mendekat kearah ayah dan bunda yang duduk disofa.


"Kami bukan kakek dan nenek yang lemah dan sakit-sakitan! katakan Bi! ada apa dengan twins?" desak ayah.


"Salah satu twins, Basma .. katub jantungnya tidak tertutup sempurna yah, sehingga ada lubang yang menyebabkan sebagian kecil darah keluar dari katub itu"


"Ya.. Allah .. nak, trus.. gimana keadaan cucu bunda tadi kata dokter?" tanya bunda khawatir.


"Untuk keadaan Basma belum ada perubahan, karenanya besok persiapan yang dilakukan untuk persalinan Annisa melibatkan dokter Liliana untuk twins dan dokter Ria. Menurut dokter Liliana katub Basma bisa saja tertutup sempurna pada perkembangan Basma ketika sudah dilahirkan, atau juga tidak, jadi kita harus selalu memeriksakan dan memperhatikan keadaan kesehatan Basma" jawab Abimanyu menjelaskan.


"Semoga semuanya baik-baik saja, selamat Nisanya .. selamat cucu-cucunya bunda.." jawab Bunda sambil mengusap kepala Annisa penuh kelembutan.


"Amin Amin Amin YRA ... doakan yaa Bun .." ucap Nisa.


"Iyaa pasti itu nak, bapak dan mas mu akan sampai sore ini. Nanti setelah mereka istirahat di rumah, baru malamnya bunda bawa untuk melihat kamu yaa" ucap bunda sambil menyuapi Annisa salad buah yang dibuatnya tadi dirumah.


"Iyaa Bun, terima kasih banyak .. maaf sudah merepotkan bunda dan ayah" ucap Annisa sambil menikmati salad buah buatan mertua rasa ibu kandung itu.


Abimanyu menatap penuh keharuan pada wajah istrinya. Annisa tidak menampakan kesedihan hatinya, walau Abi tahu bagaimanapun ia pasti sedang bersedih mengetahui keadaan Basma.


Kekhawatiran yang sama yang juga dirasakan oleh Abi saat ini.


Ayah sebenarnya juga semenjak mengetahui keadaan yang sebenarnya, daritadi sudah mengirimkan beberapa pesan singkat agar kelahiran cucu-cucunya besok benar-benar dipersiapkan dengan teliti dan matang kepada semua direksi rumah sakit.


Ayah memandang Annisa lembut dari sofa. Menantunya ini sungguh sangat menenangkan. Membuat ia yang mengkhawatirkan keadaan menantunya itu.