My Favorite CEO

My Favorite CEO
64. Cerita sedihmu Annisaku 4



Setelahnya dengan petunjuk yang diberikan Bude, Abimanyu, Nisa, sepupunya Ajeng dan bude sendiri sudah masuk kedalam sebuah pedesaan yang kurang lebih hanya 1 jam perjalanan yang ditempuh.


Pada ujung jalan yang akhirnya akan menyempit, Bude meminta Abimanyu menghentikan mobilnya.


"Kita harus melanjutkannya dengan berjalan kaki Nis.." ucap bude sambil membuka pintu mobil.


Lalu diikuti yang lain. Abimanyu memegang jemari Annisa selama menempuh perjalanan kedalam desa, hanya berkisar 15 menit, mereka sudah sampai didepan sebuah rumah.


"Assallamualaikum..!" bude mengucap salam dengan suara yang dikeraskan, pada salam kedua barulah keluar seorang Bapak paruh baya.


"Waalaikumsalam... Bu Lastri? apa kabar Bu.. marii silahkan duduk Bu" ucap laki-laki paruh baya itu dengan logat jawanya yang sangat halus dan sopan, menghormati kehadiran bude dirumahnya.


"Alhamdulillah baik pak Pardi, bagaimana keadaan bapak dan Sapto?" tanya bude membalas dengan bahasa Jawa yang juga halus.


"Alhamdulillah baik Bu, Sapto masih disawah, istrinya masih jemput anaknya sekolah. Ada apa toh Bu .. jauh-jauh kesini" balas Pak Pardi.


"Begini pak, saya datang kesini karena... putri bapak yang dititipkan kepada kakak saya datang ingin menemui bapak kandungnya, dia dan calon suaminya ingin meminta izin dan restu pak Pardi" ucap bude perlahan penuh pengertian.


Annisa dan Abimanyu yang tidak mengerti dengan apa yang disampaikan kedua orang tua itu, mereka hanya bisa diam. Dilihatnya oleh mereka mata pak Pardi yang menahan airmata melihat teduh pada wajah Annisa.


"Bu.. apa anak perempuan saya yang pakai jilbab ini?" tanya pak Pardi sangat sopan.


"Iyaa pak..." jawab Bude. Lalu Bude mengambil tangan Annisa.


"Nisa... ini bapak kandung kamu, namanya Pak Pardi" ucap Bude. Annisa terdiam, menangis lalu mengucapkan ...


"Bapak... saya Annisa putri kandung Bapak ...." lalu Annisa mencium punggung tangan bapaknya dan memeluknya dengan erat. Pak Pardipun turut menangis dan mengusap-ngusap bahu putrinya yang sudah sangat lama tidak pernah bisa ia jumpai.


"Ya Allah... anakku .. maafin bapak nak.. maafin bapak..." ucap Pak Pardi berkali-kali sambil menangis dibahu Annisa. Annisa pun tak bisa menahan suara tangisannya, membuat hati Abimanyu terenyuh dan sakit. Mereka membiarkan keduanya saling menangis dan melepaskan kerinduan akan satu sama lainnya.


Beberapa saat kemudian mereda.. lalu Annisa memperhatikan wajah ayahnya yang keras dan menghitam karena kerasnya Ia harus bertahan hidup sebagai petani berpuluh tahun lamanya tanpa lelah. Mengusap sisa airmata ayahnya, tanpa berkata-kata. Annisa tidak tahu apa yang mesti ia katakan pada pertemuan ini, yang pasti ia bahagia menemukan keluarganya yang sebenarnya.


Lalu Annisa teringat kehadiran Abimanyu. Ia membalikkan badannya lalu berkata...


"Bapak.. hari ini Annisa datang dengan calon suami Nisa.. ini orangnya pak.." lalu Abimanyu mendekatkan dirinya yang mencium hormat punggung tangan ayah dari calon istrinya.


"Bapak.. perkenalkan saya Abimanyu, saya dan Annisa kemari mencari bapak untuk meminta izin dan restu bapak ... kami ingin menikah" ucap Abimanyu.


"Yaa Allah.. Den Bagus ... bapak enggak pantas dimintai izin dan restu.. yang pantas adalah pak Bram, yang merawat dan membesarkan Annisa.."


"Enggak pak, bagaimanapun .. bapak adalah orang tua kandung Annisa, karenanya sudah seharusnya saya dan Annisa datang kepada Bapak. Kami mohon Bapak mau memberikan izin dan restu Bapak, agar saya bisa menikahi putri bapak." ucap Abimanyu penuh hormat pada lelaki setengah baya yang adalah calon ayah mertuanya.


"Ya Allah.. nak .. kalau ibumu masih ada, dia pasti bahagia melihat kamu besar jadi cantik seperti ini, lalu mendapatkan jodoh segagah Cah Bagus ini ndok.." ucap Pak Pardi kembali menitikan airmata.


"Annisa ini dokter pak Pardi, dan calon suaminya ini pengusaha besar..wong sugih (orang kaya) diJakarta" ucap bude masih dalam bahasa Jawa halus.


"ehmm Alhamdulilah Gusti Allah memperkenankan anak saya bahagia Bu.. Alhamdulillah.." balas pak Pardi dengan bahasa Jawa halusnya lagi sambil masih menangis bahagia.


"Ndok... Cah Bagus, bapak ikhlas ... bapak merestui kalian menikah, berbahagialah nak, saling asah, asih, asuh. sama suami kamu harus manut yaa Ndok" Ucap Pak Pardi sambil mengusap pangkal kepala Annisa.


"Iyaa pak.." jawab Annisa.


"Berumah tangga harus akur, biar selamat dunia akhirat" tambah pak Pardi. Dengan rasa bahagia dan bersyukur Annisa memeluk bapaknya lagi terharu. Segala ucapan sederhana yang meneduhkan itu ternyata mampu membuat hatinya sejuk dan tentram.


"Terima kasih banyak Bapak, atas izin dan doanya Bapak. Saya sangat bersyukur, setelah ini InsyaAllah nanti kalau Bapak mengizinkan, sebelum ayah dan bunda saya datang melamar secara resmi, saya ingin merenovasi rumah Bapak, agar bapak dan mas Sapto sekeluarga juga menjadi nyaman, apakah boleh?" ucap Abimanyu.


"Yaa..Allah.. Den Bagus .. segini-gininyalah yang selama ini bapak dan Sapto bisa lakukan... bapak terima kasih Mas Abimanyu mau merehab rumah ini.. tapi Bapak jadi malu nak... maluuuu..." jawab Bapak sambil menangis menundukan kepalanya. Annisa merengkuh pundak Bapaknya.


"Bapak...izinkan Mas Abi dan Nisa untuk membahagiakan Bapak, izinkan Nisa berbuat sesuatu untuk ayah kandung Nisa" Abimanyu mengusap punggung Annisa menenangkan.


"Kalau ibumu hidup waktu melahirkanmu nak.. bapak tidak akan pernah memberikanmu kepada Bu Tati, susah senang..pasti kita akan bersama-sama ndok.. bapak nggak pantas menerima kebaikanmu dengan calon suamimu. Bapak sudah sangat bersyukur kamu bahagia" tangis pak Pardi.


"Nisa bahagia bisa bertemu dengan Bapak, sehingga Nisa bisa mengucapkan terima kasih, bahwa Bapak pernah memberikan Nisa kehidupan yang sangat baik dan bahagia bersama keluarga Mama Tati dan Papa Bram. Tapiiii... bapak tetap ayah kandung Nisa.. izinkan Nisa berbakti pada bapak" ucap Annisa dipunggung bapaknya. Mereka menangis bersama ...


Lalu diambang pintu, berdiri seorang pemuda yang diperkirakan oleh Abimanyu adalah Sapto, kakak kandung Annisa.


"Mas Sapto?" tanya Abimanyu. Laki-laki yang dipanggil namanya mengangguk.


"Nggih (iya) mas.." jawab Sapto.


"Deek!" panggil Sapto penuh keharuan.


"Mas Sapto.." balas Annisa sambil mencium hormat punggung tangan kakak kandungnya.


"Wajahmu.. persis seperti wajah almarhumah ibu.." ucap Sapto haru. Beberapa kali ia menyeka airmata. Ia tidak menyangka masih bisa dipertemukan oleh adiknya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa waktu setelah itu ... Sapto dan juga istri serta anaknya pun sudah saling melepas kerinduan mereka akan sosok adik yang baru bisa mereka temui saat ini dengan banyak saling bercerita. Akhirnya Bapak menyetujui niat baik Annisa dan Abimanyu untuk merenovasi rumah mereka atas bujukan Sapto.


Abimanyu saat itu juga menghubungi Febry untuk segera mengatur design rumah khas Jawa yang diinginkannya untuk merenovasi rumah calon mertuanya serta meminta Febry untuk mengatur pembangunannya segera.


Ternyata Bapak dan calon kakak iparnya adalah pekerja yang rajin dan ulet, sehingga tanah tempat rumah mereka berdiri dan 2 petak tanah sawah yang selama ini mereka kelola sudah menjadi milik mereka sendiri. Abimanyu bersyukur, mendapatkan calon keluarga barunya adalah orang-orang yang selalu bersyukur dan menghargai setiap tetes keringat mereka sendiri.


Itu menjadi bagian yang Ia sangat junjung tinggi selama ini. Sehingga Ia menyadari sifat Annisa yang sangat baik hati itu berasal darimana.


Setelah makan siang sederhana yang disiapkan oleh istri Mas Sapto juga Annisa, Bude dan Ajeng mohon diri untuk pulang.


Namun Annisa meminta izin pada Abimanyu untuk diperkenankan bermalam dirumah orangtuanya itu


Abimanyu mengizinkan sehingga malam itu ia kembali kehotel tempat mereka reserfasi tadi pagi, sebelumnya mengantar kembali Bude dan Ajeng kerumah mereka.


Sesampainya dikamar hotel, setelah Abimanyu membersihkan dirinya, Abimanyu memberikan kabar dan perkembangan yang terjadi kepada ayah dan bundanya.


"Yah.. Abi ikhlas dan Abi tetap yakin ingin menikahi Annisa, apakah ayah dan bunda tetap ikhlas menerima Annisa dan keluarganya?" tanya Abi diakhir penjelasannya kepada ayah dan bunda.


.


.


.


.


.


.


.


.


Menikah itu juga artinya menyatukan dua keluarga


Dua-duanya harus bisa saling selaras


Tidak ada yang merasa lebih dari yang lainnya


Menerima bahwa apapun itu


Adalah bagian dari yang akan terus kita hargai


Sebagai wujud rasa cinta yang tulus.