My Favorite CEO

My Favorite CEO
27. UK



Pagi itu, Abimanyu dan Ayahnya sedang berolah raga. Saling merebut bola dan mencoba tembakan tiga angka. Beberapa kali Yoga menggoda putranya, memberi mereka waktu bernostagia masa Abimanyu masih kanak-kanak. Abimanyu bersyukur, ayahnya masih cukup bugar untuk orang tua seusianya.


"Ayah perhatikan kamu malah jadi kurang energi positifnya setelah ketemuan sama Tita! ada apa?"


ucap Yoga sambil mendribble bola didepan putranya.


"Nggak ada apa-apa kok!" jawab Abi sambil terus berusaha merebut bola dari tangan ayahnya.


Lalu tiba-tiba Yoga menghentikan permainannya.


"Beberapa hari yang lalu, waktu ayah penandatanganan pengalihan kepemilikan saham salah satu rumah sakit, ayah ketemu Tita dengan salah satu teman laki-lakinya yang ke makam aki waktu itu, Tita bilang nggak?" tanya Yoga.


"Ooohh.. Tita lupa kali yah buat cerita ke Abinya!" jawab Abi sekenanya, karena juga merasa heran kenapa Tita tidak pernah cerita ketemu ayahnya.


"Lupa, atau tidak mau cerita!" balas Yoga sambil melakukan gerakan yang melepaskan dirinya dari Abi dan berhasil memasukan bola ke jaring.


Abi kemudian bergantian yang mendribble bola.


"Ayah soalnya lihat Tita bercanda sama laki-laki itu! sampai kepala Tita ada diketiak laki-laki itu kemudian kepalanya diusap-usap! begitulah cara ayah bertemu dengan Tita dan itu juga yang membuat dia gugup sewaktu ayah memanggil namanya!"


"Ayah kenapa nggak cerita sama Abi!" tanya Abimanyu dengan nada kesal kemudian mencoba memasukan bola kejaring, namun mampu ditepis sang ayah.


Sambil bertolak pinggang Yoga menjawab


"Ayah cuma mau tahu, Tita akan cerita ke kamu atau tidak masalah itu! jika tidak ! ayah cuma bisa sarankan ke kamu Bi! Tita gadis baik, ayah akui itu. Tapi akan lebih baik lagi jika kamu mencari gadis yang setia! dunia yang kita geluti ini, membutuhkan wanita seperti Bundamu. Setia" ucap Yoga lagi sambil mencoba merebut bola dari tangan Abimanyu, tapi tidak berhasil dan bahkan ketika Abimanyu berbalik kemudian melompat dan melemparkan bola kejaring. Bola itu masuk .. Tree poin!


"Tapi adanya Handa disini, bukan berarti ayah sama bunda mau jodohin Abi kan!" tanya Abimanyu


"Geer! ngapain juga ayah jodoh-jodohin kamu! ayahkan tahu kamu masih sama Tita!" jawab Yoga sambil mencoba terlepas dari kungkungan Abimanyu. Tapi tidak berhasil. Hingga bola bisa direbut Abi dan bola pun kembali tepat masuk kejaring.


Sambil bertopang pada kedua lututnya Yoga berkata.


"Bi! lelaki itu bukan dipilih ! tapi yang memilih ! carilah gadis yang seperti bundamu!


Abi terdiam. Menyimak benar apa yang dikatakan sang Ayah.


"Ayoooo..! sudah ! sudah cukup olah raganya jangan sangking senangnya jadi lupa umur A!" teriak Nindy menyudahi permainan mereka.


Yoga yang tidak ingin membuat istrinya khawatir langsung menyudahi permainannya. Menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang sudah disiapkan, dan mengajak putranya untuk pendinginan. Setelahnya Yoga dan Abimanyu masuk kembali kedalam rumah.


"Kalian sudah ditunggu sarapan sama Ade dan Pipit, hari ini bunda dibantu sama Handa mempersiapkan sarapan untuk kita semua. Handa pintar masak ternyata. Ayoo Honey dan Abi cuci tangan! kita sarapan!" ucap Nindy ketika dilihat suami dan putranya masuk kedalam rumah. Lalu memberikan baju ganti untuk keduanya.


"Iyaa.." jawab Yoga sambil merangkul bahu Nindy dan mencium kening istrinya itu.


Abi tertegun. Menyukai dengan segala aktifitas pagi ayah dan bundanya yang selalu mesra. Membawa fikiran Abimanyu, bahwa benar apa yang dikatakan ayahnya, dia pun dari dulu begitu mengidolakan sang bunda.


Mungkin itu juga yang membuatnya selalu masih merasa masih ada ruang kosong yang sampai saat ini, Tita saja tidak mampu mengisinya.


"Waaa.. bubur Manado! buatan sayang atau Handa ini?" tanya Yoga.


"Buatan Handa om" jawab Handa malu-malu.


"Dicoba deeh Ga, Handa lumayan pinter masak seperti ambunya!" jawab Om Ade.


Lalu Yoga dan Abimanyu memasukan sesendok bubur ke mulut mereka. Handa terdiam sesaat menunggu komentar yang keluar dari mulut Abimanyu dan ayahnya.


"Benar kata kamu De! ini enak loh Handa! walau tetaaap.. masakan istriku masih yang nomor satu!" ucap Yoga dan disambut tawa semua orang.


Lelaki itu untuk memilih


Bukan untuk dipilih.


"Yah, kalau Abi kembali lebih dulu ke UK dan bunda tetap saja disini menemani ayah.. bagaimana?"


Nindy dan Yoga saling beradu pandang.


"Tidak, jika untuk kamu lari. Tapi.. jika untuk kembali dan fokus dengan tujuanmu didepan, ayah tinggal tanya bunda, apakah dia sudah siap jauh dari kamu!" balas Yoga kemudian menyesap teh manis hangat sore itu.


Nindy terdiam. Sedikit menghela nafasnya..


"Dulu.. bunda tidak pernah merasa kesepian karena ada aki yang selalu menemani dan bunda urus selain ayahmu.. lahir kamu.. akhirnya aki kembali ketanah kelahirannya, dan tinggal kamu yang menemani dan bunda urus selain ayahmu.." jawab Nindy yang tanpa dikehendakinya, air matanya mulai mengembang. Yoga mengusap punggung istrinya.


"Sekarang..kamu yang mau mandiri tanpa bunda.. harusnya dulu Aa izinkan Nin mengandung banyak anak!" ucap Nindy sambil memukul paha suaminya, selebihnya Nindy menangis sejadi-jadinya didada Yoga. Yoga mencium ujung pangkal kepala istrinya penuh kasih.


"Bun...bundakan bisa kapan aja lihat Abi disana.. trus setiap hari, kita masih bisa video call an kan Bun" suara Abimanyu melembut menenangkan ibunya, bersimpuh dibawah kaki ibunya.


"Selama nemani kamu kemarin .. bunda nggak tega, energimu hanya habis belajar, belajar trus belajar! gimana mau video callan setiap hari!"


"Itukan kemarin Abi harus penyesuaian Bun.. bagaimanapun Abi kan karena beasiswa sekolah disana, jadi ada target akademik yang harus tercapai untuk penerima beasiswa. Dan Abi harus bertanggungjawab untuk itu Bun. Tapi..sekarangkan Abi sudah bisa menyesuaikan semuanya.. bunda nggak perlu khawatir.." ucap Abimanyu lagi sambil mencium punggung tangan bundanya.


Beberapa saat kemudian Nindy melepas pelukan Yoga, dan berkata pada putranya.


"Disana, yang benar makannya. Habiskan aja uang ayah untuk makanan kamu, susu kamu, jangan hemat! jangan merasa bersalah menggunakan uang ayahmu! Bunda nggak kepingin kamu sakit, terlalu mengikuti aturan!" ucap Nindy lagi sambil membelai kepala putranya penuh kelembutan.


Yoga mengusap terus punggung istrinya penuh perhatian. Dia sangat mengerti perasaan Nindy. Selama ini hidup istrinya itu hanya benar-benar mengurus keluarganya, dan kalaupun usaha lain yang istrinya miliki itu sifatnya hanya pada event-event tertentu dan semua sudah dikelola usahakan oleh sahabat-sahabatnya. karena itu, berpisah dengan Abimanyu akan menjadi hal terberat bagi istrinya.


"Bunda sama ayah akan sering-sering lihat kamu disana yaa.."


"Iyaaa.." balas Abimanyu sambil mencium seluruh wajah ibunya.


"Bunda dan ayah sangat bangga sama kamu nak.." ucap Nindy sekali lagi.


Sore itu ..


sore terindah ..


Sore yang penuh kasih sayang..


Yang membuat aku menyadari.. langkahku masih panjang..


Dan aku harus membuktikan, bahwa sekalipun aku terlahir dari seorang anak yang kaya raya, semua aku peroleh dengan kerja keras dan kesungguhan.


Aku tak tahu harus bagaimana denganmu gadis..


Mungkin.. kutunda dulu segala ingin..


Kita lihat saja nanti..