
Dikamarnya Annisa menumpahkan segala kesedihannya. Ia begitu menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Ia menjadi merasa memang tidak pantas memiliki siapapun untuk ia cintai dengan tulus, karena semua akan berakhir salah ..
Kemudian ia teringat sesuatu
Annisa langsung mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Selamat malam dokter Anya, maaf Nisa ganggu malam-malam"
"Oo nggak apa-apa Nis, aku juga baru sampai rumah kok. Gimana? kamu mau mengambil tawaranku untuk dinas ke Kalimantan?"
"Iyaa dokter Anya, saya ingin mengambil tawaran itu jika masih bisa!"
"Kamu beruntung Nis, nelpon aku malam ini. Kalau enggak tawaranku sudah diambil oleh Hendra. Dia mau pulang kampung, tapi menurutku dia kurang cakap, sehingga aku takut, karena ini mempertaruhkan nama baikku juga!"
"Dokter Anya, saya menerima tawaran dokter Anya. Saya bersedia ke Kalimantan dok." ucap Annisa lagi meyakinkan dokter Anya.
"Aku tahu kamu akan mengambil kesempatan ini, karena aku tahu hatimu akan terpanggil untuk situasi yang aku ceritakan disana! kamu hanya butuh dorongan yang kuat untuk menjadi alasan agar kamu tidak ragu! baik Nis, aku akan mereferensikan kamu. Terima kasih karena kamu sudah menerima tawaranku!"
"Sama-sama dokter Anya, saya yang berterima kasih karena selama ini dokter yang masih terus percaya dan terus memberi saya dukungan. Saya berterima kasih sekali lagi dok. semoga semua kebaikan dokter Anya menjadi amal diakhirat nanti"
"Amin YRA. Ok Nis, sampai besok pagi dirumah sakit. Aku akan sampaikan teknisnya nanti kamu ke Kalimantan"
"Baik dokter Anya sampai besok pagi. Selamat malam" akhirnya Annisa mengakhiri panggilan telponnya.
Ia merebahkan tubuhnya, memejamkan matanya.
*Semua akan berlalu ..
Segala kesedihan ini akan berlalu ... aku akan memulai semua dari awal lagi ... ditempat yang tiada satupun mengenal atau aku kenal ...
Aku akan memulai hidupku yang baru ... untuk bahagia yang benar hanya milikku ... batin Annisa*.
Kemudian ia terlelap .. tangisnya membawa Annisa pada kelelahan yang teramat sangat.
.
.
.
Annisa berusaha setiap pagi ataupun sepulang ia dari rumah sakit menghindari bertemu dengan Rara dan Rasya.
Ia harus lakukan seperti itu, atau ia tidak akan bisa terlepas dari kedua bocah yang telah menceriakan harinya itu.
Sebentar lagi keberangkatannya, maka itu akan memudahkannya.
Tapi ternyata tidak dengan sore ini.
"Nisa.. saya mohon, beri saya waktu untuk bicara" ucap Rio ketika dengan sengaja sepertinya laki-laki itu menunggu Annisa keluar dari Rumah Sakit.
Suaranya dan pembawaannya yang berwibawa, seperti jampi-jampi yang membuat Annisa tidak bisa menolak keinginan Rio.
Annisa menundukan pandangannya, kemudian selanjutnya hanya mengikuti langkah Rio dari belakang. Lelaki itu menuju parkiran Mobil.
"Naiklah" ucap Rio membukakan pintu belakang mobil untuk Annisa. Ternyata hari ini Rio menggunakan jasa supir, sehingga mereka tidak benar-benar hanya berdua saja didalam mobil.
Tiba disalah satu restorant yang tidak jauh bahkan dari lokasi tempat tinggal mereka, Rio membukakan kembali pintu mobil untuk Annisa.
Lalu Rio melangkah lebih dulu masuk kedalam restorant. Menduduki salah satu bangku kemudian mempersilahkan Annisa untuk duduk juga.
Pelayan memberikan daftar menu pada Rio dan Annisa, lalu keduanya sama-sama hanya memilih minuman hangat.
"Sebelumnya, saya ingin meminta maaf sekali lagi sama kamu Nis, atas perkataan istri saya. Saya tahu, pasti Rania sudah menyinggung harga diri kamu. Tapi seperti yang kamu tahu, Rania sakit. Itu yang membuat dia putus asa, sehingga harus mengungkapkan keinginannya seperti itu pada kamu. Saya mohon .. kamu mau memaafkan Rania demi ketenangannya juga, karena setelah malam itu dia sangat merasa bersalah padamu. Anak-anak juga merasa kehilangan teman. Maafkan kami Nis .." ucap Rio dengan penyesalan yang sangat dirasakan oleh Annisa. Bahkan suaranya yang berwibawa sesekali terdengar bergetar.
"Saaa..yaa.. juga minta maaf, malam itu saya terlalu emosi, sehingga mungkin membuat Rara dan Rasya mendengar apa yang saya katakan pada mama mereka. Saya minta maaf pak Rio" balas Annisa sambil masih menundukan pandangannya.
"Daaan.. saya juga mohon Pak Rio jangan tersinggung, saya mengatakan bahwa saya tidak mau menjadi istri bapak, bukan bapak yang tidak pantas, atau anak-anak tidak pantas. Tapi karena memang.. kalian masih bisa berbahagia saling memiliki dan itu yang saat ini paling berharga. Saya akan selalu mendoakan .. semoga Allah memberikan waktu yang panjang untuk mba Rania bisa mendampingi anak-anak juga pak Rio"
Annisa tidak tahu bahwa Rania, Rara dan Rasya turut mendengarkan apa yang Ia katakan. Membuat Rania dan anak-anak yang berada di meja lain terharu dengan apa yang dikatakan Annisa.
Annisa menyesap minuman hangatnya, demikian juga dengan Rio. Sesaat mereka terdiam. Lalu Annisa berucap kembali
"Titip salam saya untuk mba Rania, Rara juga Rasya. Saya berharap kita semua sudah saling memaafkan. Dan saya harap sudah tidak ada salah faham lagi diantara kita. Karena rumah kita sudah dekat, biar saya sendiri saja dari sini, Pak Rio tidak usah mengantar lagi. Terima kasih banyak untuk minumannya. Saya permisi duluan pak .." pamit Annisa sambil berlalu dari tempat itu.
Rio memperhatikan sampai Annisa hilang dari pandangannya. Ia menarik nafas panjang. Ternyata tidak sepenuhnya Rania salah, ternyata bagian dari dirinya juga sudah menyukai Annisa.
Beberapa saat kemudian Rasya, Rara dan Rania menghampiri meja Rio.
.
.
.
.
.
.
.
.
Disuatu pagi
"Mba Rara .." panggil bibi yang melihat Rara sedang minum air putih dimeja makan.
"Yaa.. Bi .. ada apa?" tanya Rara
"Tadi, ada dokter Annisa kesini .. menitipkan ini, katanya untuk mba Rara dan mas Rasya" jawab Bibi sambil menangis.
"Kok bibi nangis?" tanya Rara
"Dokter Annisa... tadi bawa banyak koper dan .. rumahnya dititipkan lagi sama bibi yang biasa mengurus rumah itu sewaktu kosong .. sepertinya dokter Annisa tidak lagi tinggal dirumah sebelah mba.."
Rara langsung berlari keluar rumahnya dan begitu kecewa karena semua hordeng rumah Annisa kembali tertutup semua, bahkan gembok besar dan rantai yang melilit pintu gerbang rumah itu terpasang kembali.
Airmata Rara sudah mengalir. Ia memegang kuat pintu pagar rumah Annisa. Tiba-tiba Rio merangkul bahu Rara.
"Pah ...." ucap Rara lirih sambil memeluk ayahnya.
Rio hanya mampu menghibur hati anaknya dengan mengusap punggung Rara. Ia sendiri begitu terluka melihat kearah rumah Annisa.
Rio membawa Rara masuk kedalam rumah lagi.
"Buka nak, biar kamu tahu apa yang diberikan dokter Annisa" ucap Rio
Rara membuka bungkusan kado itu, dan Ia semakin terharu, Dokter Annisa memberinya tas selempang rajutan yang begitu cantik, juga foto dirinya diatas kanvas sedang tertawa lebar dengan mata yang begitu bahagia. Rara tidak tahu kapan gambar itu diambil oleh dokter Annisa.
Teruntuk gadis kuat yang cantik "Rara"
Tertera tulisan dan tanda tangan dokter Annisa dibawah fotonya.
"Simpan baik-baik kenangan itu Ra ..." ucap Rio. Meninggalkan Rara dengan kesedihannya, lalu ia sendiri melangkah kedalam kamar Rasya. Anak laki-lakinya itu masih tidur, dengan perlahan dia membangunkannya.
"Rasya .. bangun nak, ini ada hadiah dari dokter Annisa" ucap Rio sambil mengelus punggung putranya. Lalu Rasya membuka matanya perlahan..
"Bangun nak..niih lihat, apa yang dihadiahkan dokter Annisa buat mas Rasya!" ucap Rio lagi.
Rasya akhirnya bangun sambil mengucek matanya. Anak kecil itu langsung membuka bungkus kadonya, ternyata isinya sebuah bantal yang bergambarkan Mama Rania yang mencium Rasya, ada papa Rio yang menggendong Rara.
"Ada suratnya pah!" kata Rasya.
"Bukalah nak .." jawab Rio sambil merangkul bahu Rasya menemaninya membaca surat dari dokter Annisa.
*Hiii ... tetangga ..
Bantal ini akan selalu menemani anak baik sepertimu.
Ada selalu ciuman mama untuk kamu yang selalu patuh sama mba Rara.
Dan Ada papa yang selalu akan menjagamu.
kita akan selamanya menjadi sahabat.
tetanggamu
Annisa* ..
Rio mencium pangkal kepala Rasya. Lama dia diam disana. Hatinya merasakan kesedihan yang ditinggalkan Annisa pada setiap hadiah untuk anak-anaknya. Ujung matanya membasah.