
Yoga perlahan membantu Nindy menuruni anak-anak tangga, Pa Budi sudah sigap untuk membukakan pintu mobil buat Nindy lalu Yoga.
Sepanjang perjalanan, didalam mobil Nindy hanya diam saja, sementara Yoga serba salah mau berbicara dengan istrinya, apalagi Nindy sengaja hanya melemparkan pandangannya keluar kaca mobil, lagi pula didalam mobil itu juga ada Pak Budi.
Ternyata Nindy masih marah, disangka Yoga ketika Nindy meminta dirinya berpamitan dengan ayah Tobi, dan membiarkan dirinya mencium pelipis Nindy tadi, Istrinya itu sudah baik-baik saja.
Nindy mengelus terus perutnya, karena baby didalam kandungannya terus saja bergerak, padahal ini adalah hari pertama calon anaknya itu memberi isyarat kehidupan.
Yoga memperhatikan, dirinya sudah tidak tahan didalam kebisuan ini.
Yoga mendekatkan tubuhnya kearah Nindy, ikut mengusap hati-hati keperut istrinya. Yoga berjaga-jaga seandainya ada penolakan dari Nindy.
Ketika Nindy diam membiarkannya, Yoga mulai berani untuk membungkukan wajahnya kearah perut Nindy. Ia ingin mengajak calon anaknya berbicara lagi.
"Hi.. baby... kamu merindukan Daddy?"
"Apakah.. kamu mencari-cari suara Daddy nak?"
Kemudian Baby didalam kandungan Nindy kembali bergerak, seolah-olah membenarkan perkataan daddy-nya.
"Tolong.. Daddy.. Momy lagi marah. Dia tidak mau bicara sama Daddy.."
Yoga menanti jawaban calon bayinya. Tapi baby didalam kandungan Nindy berhenti bergerak.
"Yang belum lahir aja tahu momynya kesel ! suruh Daddy nanti benar-benar membersihkan seluruh wajahnya yang disentuh perempuan tadi D, kok diem aja dicipika cipikiin .. Momy nggak mau dekat!"
Balas Nindy.
Yoga yang masih memposisikan wajahnya diperut Nindy tersenyum. Dia tahu, Nindy sudah tidak benar-benar marah lagi. Tapi dia merasa bahwa bayinya sudah bersekongkol dengan momynya, karena bayi itu memberikan gerakan yang ditangkap oleh jemari Yoga.
Nindy tersenyum, ketika bayinya ikut membenarkan kata-katanya.
"Iya.. nanti Deddy mandi sebersih-bersihnya, Deddy minta maaf... benar-benar minta maaf.. dimaafin nggak?"
"Sekarang belum, nggak tahu nanti kalau sudah Daddy mandi"
Jawab Nindy.
"Yang cepet bawa mobilnya yaa Pak Budi, saya mau lekas mandi ini!"
"Baik pak"
Sambil tersenyum pak Budi menjawab Bosnya. Sedari tadi dia sudah mendengarkan percakapan Bosnya itu.
.
.
.
Sesampainya dirumah, Setelah membantu Nindy sampai didalam kamar, Yoga langsung masuk kedalam kamar mandi, Ia membersihkan semua tubuhnya hingga hanya meninggalkan bau harum sabun yang ia pakai.
Ketika keluar dari kamar mandi, Yoga hanya menggunakan handuk sebatas pinggangnya saja, Hingga dadanya yang bidang nampak jelas.
Namun langkahnya tertahan oleh tubuh Yoga yang terus menggodanya. Nindy mengambil sisi kiri, Yoga melangkah kekiri, Nindy mengambil sisi kanan, Yoga melangkah kekanan.
"Aa.. apa siih..! dari tadi malah nutupin jalan"
Ucap Nindy kesal sambil menatap wajah suaminya yang masih tersenyum lebar.
"Aa sudah mandi, sudah bersih dari bekas apapun.. seperti yang kamu mau.
Cium... deeh.. Aa harum loh.."
Goda Yoga sambil mendekat kearah Nindy.
"Seneng ya tadi, dicium pipi kiri sama pipi kanannya sama tamu tadi? pake diem aja, mana sexy lagi!"
Rajuk Nindy yang mulai didekati oleh Yoga.
Yoga lalu meraih pinggang Nindy, menyatukan hidungnya dengan hidung Nindy. Hingga aroma yang menyenangkan menyeruak masuk kedalam hidung Nindy, harum khas suaminya.. yang selalu mampu membuat dia menjadi segar, apalagi dulu ketika masa mual-mualnya. Wangi suaminya sampai mampu memberikan ketenangan hingga mualnya hilang.
Yoga menyadari, bahwa Nindy selalu menyukai harum tubuhnya. Dan meyakini saat ini istrinya itu pasti sudah hanyut dengan harum yang ia tebarkan.
"Gimana menghindar? Aa kan juga kaget dia tiba-tiba seperti itu."
Jawab Yoga.
"Alaaah... bilang aja aa sengaja, kapan lagi dicium sama perempuan sexy."
Nindy masih merajuk.
"iihh Aa mah lebih suka yang punya Aa sendiri, ngapain yang diumbar-umbar gitu! yang punya Aa lebih manis, lebih halus bibirnya, lebih harum"
Kemudian Yoga sudah ******* bibir Nindy dengan lembut, mencoba menghapuskan kemarahan istrinya, menangkup tengkuk Nindy, karena tubuhnya tidak ingin menekan perut Nindy yang sudah mulai membesar. Memberi lebih banyak pada bibir yang hari ini sudah mengomel saja, tidak seperti biasanya.
"Bolehkah.. Aa melakukaannya?"
Yoga meminta izin terlebih dulu kepada Nindy untuk melepaskan hasratnya, karena situasinya sekarang berbeda. Dengan kehamilannnya, Nindy harus merasa nyaman dulu untuk memenuhi kebutuhan suaminya itu.
Pipi Nindy sudah bersemu merah, karena Ia juga menginginkannya.
Yoga membaringkan Nindy diatas tempat tidur, membantu istrinya membuka pakaian tidurnya. Mengarahkan Nindy ke posisi Spooning, tidur menyamping.
Terus menikmati lekuk leher istrinya, memberi rangsangan pada Nindy hingga Yoga bisa merasakan kenikmatan yang Ia inginkan, sambil terus mendengar desahan Nindy yang juga merasakan kenikmatan yang sama.
Berdua mereka bergetar bersamaan.
"I love you Hon.."
Ucap Yoga sambil mencium punggung bahu istrinya.
"Love you too..."
Jawab Nindy sambil menangkup dan mengusap jemari Yoga yang berada dibawah perutnya yang seakan-akan sedang memeluk baby mereka.