
Waktu terus bergulir
Menyuarakan kegigihan tekad untuk lekas menyelesaikan segala tanggung jawab dan mengejar segala impian diri agar menjadi kenyataan.
Tak bisa diingkari, jarak yang memisahkan kisah cinta, terkadang diselipi cerita lain yang datang meragukan kesetiaan.
Melewati perkuliahan yang berat kemudian berharap pertolongan dan perhatian menjadi kebutuhan yang seakan mendesak dan melupakan kesucian cinta. Tak sadar hati lain telah menyelip dan tersimpan indah sebagai penghibur.
"Ta, hari ini ada ujian klinik. Kamu sudah siap?" tanya Tristan.
Tristan, mahasiswa kedokteran yang menjadi rekan setim Tita dalam tugas-tugas kuliah, adalah malaikat tanpa sayap yang selama ini menjadi orang yang menjadi andalan Tita untuk bisa bertahan di Fakultas Kedokteran ini.
"InsyaAllah Tris, mudah-mudahan aku bisa lulus kayak kamu! doa in yaa.. kamu tahu sendiri Dr. Sunarya itu prefeksionis bangeeet, mana aku dapetnya dia lagi!" jawab Tita sambil menatap kearah Tristan dengan wajah penuh permohonan.
"Nggak usah kamu minta, aku juga sudah doain kamu! kalau kamu lulus dari Dr. Sunarya, berarti kamu calon dokter hebat! dan aku yakini itu!" jawab Tristan.
"Makasih banyak yaa Tris.. kamu selalu dukung aku dan jadi energi positif ku!" ungkap Tita lagi.
Tristan mengusap bahu lengan Tita.. seolah menenangkan dan memberi kekuatan untuk Tita.
.
.
.
.
Hingga suatu hari,
Kabar kesehatan ayah Yoga, yang adalah kakek Abimanyu memburuk. Yoga meminta istri dan putranya untuk pulang ke tanah air. Dan kepulangan itu Abimanyu kabarkan kepada Tita dan juga Axsal.
Mereka tiba di tanah air pagi hari, dan sudah ada supir untuk membawa Abimanyu dan juga Nindy kerumah sakit dimana kakek Abimanyu dirawat.
Sejak Abimanyu usia 14 th, kakek kembali ke desa dimana ia dilahirkan. Bertemu kembali sahabat-sahabat lamanya, salah satunya adalah besannya sendiri, ayah Nindy. Ritual yang dilalui kembali ditanah kelahirannya itu, membawa ketenangan sendiri didalam hati ayah Yoga. Beberapa Minggu yang lalu kesehatannya menurun. Yoga segera kembali ketanah air meninggalkan Nindy dan Abimanyu. Menjemput ayahnya untuk dibawa berobat ke Rumah Sakit terbaik di Ibukota.
Segala yang terbaik telah diberikan Yoga untuk ayahnya tercinta. Laki-laki yang telah menanam banyak kebaikan dan kebahagiaan untuknya.
Nindy dan Abimanyu membuka perlahan pintu ruang perawatan. Yoga yang saat itu masih menggenggam jemari ayahnya sambil melantunkan lafaz Al Qur'an menoleh kearah langkah yang mendekat.
Nindy menangkap kesedihan yang teramat dalam pada mata suaminya. Ia mengusap punggung suaminya sambil mencium kening Yoga. Abimanyu mendekat dan menggenggam jemari tangan kakeknya yang lain.
"Aki... ini Abi dan bunda datang... Abi sayang Aki..." ucap Abimanyu sambil sebelah tangannya yang lain mengusap kening kakeknya. Airmata Abimanyu pun tak terasa menetes. Ia sangat sayang dan bangga dengan kakeknya. Sedari kecil kakeknya adalah panutannya, idolanya.
Yoga semakin bersedih melihat kasih sayang putranya itu. Yoga berdiri melepaskan genggaman jemarinya di jemari ayahnya, mendekat kearah Abimanyu, mempersilahkan istrinya untuk duduk disamping ayahnya.
Nindy mencium hormat tangan mertuanya. Airmatanya pun tak mampu ia bendung, Ayah Yoga adalah Ayah keduanya, sahabatnya yang selama ini menemani tawa dan canda Nindy dirumah selama Yoga bekerja. Laki-laki yang telah banyak memberi nasehat dan mendengarkan keluh kesah serta kerisauan Nindy. Tak banyak yang bisa memiliki mertua seperti dirinya, takut kehilangan sahabatnya itu membuat air mata Nindy deras mengalir.
"Papa... ini Nindy, haaiii jagoan.. apakah kau sudah lelah? apakah kekasihmu sudah memanggil dan ingin segera kau temani sahabat?" lirih kata-kata itu terucap dari bibir Nindy. Ia sangat tahu kerinduan ayah yoga pada istrinya, kerinduan yang bahkan Nindy saja tidak kuat mendengarnya.
"Papa pantas untuk bahagia... seperti kami semua bahagia karena papa... jika kekasihmu sudah menjemput.. pergilah pah, gandeng tangannya.. berbahagialah papaaa..." isak Nindy sambil mengusap wajah mertuanya, mencium kedua mata mertuanya membisikan kata Cinta dan terima kasih tak terhingga untuk semua kebaikan ayah mertuanya.
Yoga dan Abimanyu sangat terenyuh dengan kata-kata Nindy, karena mereka tahu, sebagian banyak waktu dan hari yang dilalui Nindy hanya berdua dengan mertuanya itu. Bahkan yang rajin mengontrol kesehatan dan mengajak ngobrol ayahnya melalui telpon adalah Nindy.
"Papa.. Yoga sayang papa.. Yoga ikhlas.." ucap Yoga sambil mencium seluruh bagian diwajah ayahnya. Lalu Yoga terus melafazkan dua kalimat syahadat ditelinga ayahnya. Airmata terus mengalir dari kedua matanya.
.
.
.
.
Inilah perpisahan ..
rasanya menusuk sakit didalam hati.
mengoyak segala rasa dan kenangan ..
membuat yang perkasa menjadi tak berdaya.
Diperpisahan ini
cintaku selalu ada dan hanya untuknya..
tinggal waktu..
(selamat jalan papa_Yoga)
.
.
.
.
Dipusara ayahandanya, Yoga masih ditemani Abimanyu dan Nindy. Semua pelayat dan juga kedua mertuanya sudah terlebih dulu kembali.
Begitu banyak yang menghantarkan, begitu banyak karangan bunga yang disematkan dan begitu banyak doa dilantunkan untuk laki-laki terkasih itu. Harum bunga mawar yang bertaburan menutupi dipusara ayahnya menandakan tempat terakhir perjumpaan mereka didunia.
"Bahkan akhirnya.. papa bersanding kembali dengan mama disisinya. Kekasih yang sangat dicintai, kekasih yang tidak pernah dia lupakan bahkan tidak pernah dia gantikan dengan yang lain.." ucap Yoga sambil mengusap terus nisan ayahnya. Nindy terus merangkul pundak suaminya. mengusap lembut punggung suaminya.
"Abiiii..." suara lembut yang memanggil namanya sudah sangat ia hafal. Abi menoleh dan berdiri menghampiri kekasihnya.
"Tita turut berduka yaa Bi.. maaf Tita baru sampai karena tadi masih ada ujian praktek" ucap lembut gadis itu.
"Nggak apa-apa sayang.." ucap Abimanyu sambil mengusap bahu lengan kekasihnya.
"Kamu diantar siapa ini?" tanya Abi
"Aku diantar teman kampus sayang.. jadi bisa cepat sampai disini..maaf yaa..dia Tristan, teman setimku" ucap Tita sambil memperkenalkan Tristan pada Abimanyu. Abimanyu menjabat tangan Tristan.
"Terima kasih mas, sudah mengantarkan Tita sampai kesini." ucap Abimanyu
"Sama-sama.. ini bukan masalah besar kok mas.." jawab Tristan.
"Yang lain sudah hampir sampai Bi, mereka sudah digerbang depan katanya Tias" sela Tita.
"Iya.. kamu tadi sudah makan belum waktu mau kesini?" tanya Abimanyu sambil membenarkan letak kerudung Tita. Yang diberi perhatian sangat tersentuh. Abi dalam keadaan berduka, masih saja memikirkan kesehatannya.
"Gampang.. nanti juga bisa... kamu juga pasti belum makan kan?" balas Tita sambil ia memberanikan diri sekilas mengusap pipi Abimanyu.
Hati Tristan seperti dicubit melihat pemandangan itu. Dia memang diam-diam telah jatuh hati pada Tita. Tapi melihat kelembutan Tita, malah semakin memperkuat hatinya untuk terus mencintai Tita. Tristan jadi semakin merasa dirinya tidak salah telah mencintai Tita.
Abimanyu mengambil handphone disaku celananya, lalu memencet 1 digit nomor
"Pak Budi.. maaf, bisa minta tolong bawakan kemakam beberapa air mineral dan roti isi dari mobil?" tanya Abimanyu.
"Baik mas, saya antarkan kesana" jawab pak Budi supir kepercayaan ayahnya.
"Kamuu..padahal nggak apa-apa nanti aja" jawab Tita sambil menggenggam jemari Abi.
"Enggak apa-apa.. kamu mau mendekat ke Ayah dan Bunda?" tanya Abi
"Iyaa.. mau.." jawab Tita sambil menatap manis kekedua mata Abi yang masih berduka. Lalu Abi sambil terus menggenggam jemari Tita mengajak mendekat kearah Ayah dan Bunda.
Dikejauhan Pak Budi sudah terlihat bersama semua sahabat-sahabat SMA Abimanyu. Inilah pertemuan pertama mereka lagi setelah Abimanyu meneruskan kuliahnya diluar negeri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dihari kedua Ramadhan kita.. semoga semua pembaca masih tetap sehat dan bahagia yaa..
jangan lupa ikuti juga tulisan pertamaku, BLOOM yang dilanjutkan dengan BLOOM Suara Hati Ayu. Terima kasih untuk kalian yang selalu masih membaca kisah Abi, Yoga dan Nindy. Jangan lupa like dan komennya yaa biar aku tambah sangat nulisnya...