My Favorite CEO

My Favorite CEO
115. Mendengarkan untuk penyelesaian1



Waktu sudah menunjukan pukul 16.00 WIB ketika Febry datang dan Annisa telah selesai menyusui twins.


Abimanyu menatap mata istrinya, ia bermaksud meminta izin untuk pergi menyelesaikan persoalan Tita sore ini. Abimanyu sangat hati-hati agar istrinya tidak terluka lagi.


"Sayang ... aku izin untuk menyelesaikan masalah Tita kepada kedua orangtuanya ya, aku bukan tidak mau mengajak kamu, tapi aku lebih nggak ingin kamu tersakiti karena mendengar hal-hal yang akan mungkin diucapkan mereka untuk lebih menyakiti kita. Kamu ngizinin, aku berangkat, kamu tidak mengizinkan aku juga tidak akan pergi.." lalu Abi mencium jemari Annisa dan kembali menatap istrinya mencari jawaban.


Annisa menatap dalam pada mata suaminya, semalam memang ia juga yang meminta Abimanyu untuk bisa menyelesaikan persoalan yang ditimbulkan oleh mantan kekasih suaminya itu yang masih saja coba mengganggu.


Dengan perasaan berat Annisa akhirnya memperbolehkan Abimanyu pergi kerumah orang tua Tita. Hatinya seperti tertusuk sembilu, melihat suaminya bersiap-siap untuk pergi.


Annisa mengantarkan sampai Abimanyu masuk kedalam mobil, setelah mobil keluar dari pintu pagar rumah, dan bahkan tak terlihat lagi, Annisa masih berdiri termangu. Hatinya gundah.


"Masuklah nak, percayalah pada suamimu" tiba-tiba bunda sudah ada dibelakangnya. Bunda memahami kerisauan Annisa saat ini, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang terpenting saat ini putranya akan segera menyelesaikan persoalannya.


Bunda merangkul bahu Annisa, membawa menantu kesayangannya itu masuk. Bunda membawa Annisa duduk diruang makan.


"Ayo, diminum susunya lagi dan coba cicipi roti manis buatan bunda sayang ... yang ini isinya kacang merah, yang ini isinya kacang hijau dan yang ini isinya krim susu" ucap bunda sambil mengusap kepala Annisa penuh sayang.


"Iya.. bunda .. terima kasih" jawab Annisa tersenyum sambil menyesap susu hangat yang dibuatkan mertuanya.


"Apa yang kamu alami .. bunda dulu juga mengalaminya sayang ... sepertinya kita memang memiliki laki-laki yang diidam-idamkan banyak wanita diluar sana! kamu .. sudah tahu ceritanya, oleh karena itu bunda .. kamu .. harus kuat, jangan pernah lepas doa. Kekuatan doa akan menjaga kita semua. Percayalah pada Abi, dan rawatlah twins dengan baik, kalian akan masih menghadapi banyak cobaan didepan nanti. Bersabarlah yaa sayang ..." ucap bunda lagi sambil mengusap punggung Annisa.


Nasehat bunda, membuat Annisa menyadari .. bahwa apa yang dialaminya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang dialami bunda dulu. Dan memang benar yang dikatakan bunda, laki-laki yang mereka miliki memang sudah pasti menjadi idaman semua wanita, gimana nggak? sudah ganteng, baik hati, masih ditambah dengan embel-embel kaya!


Dilain tempat.


Abimanyu sudah berada dipekarangan rumah orang tua Tita, rumah yang dulu cukup lumayan sering ia kunjungi. Keadaan pekarangannya masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah .. membawa kenangan Abimanyu pada Tita yang polos dan baik hati, Tita yang mampu menggetarkan hatinya untuk tidak acuh dan masa bodoh pada gadis muda ayu itu. Kekakuannya .. menjadi cair ketika itu karena Tita.


Abi tersenyum mengenang itu.


Baru saja ia mengucapkan salam, pintu besar rumah itu terbuka. Dan mama Tita yang menyambut kedatangannya.


"Iya .. Tante .. sudah lama sekali, apa kabarnya Tante?" tanya Abimanyu ketika ia sudah duduk diruang tamu keluarga Tita.


"Kabar Tante dan om baik-baik saja Bi, oo iyaa selamat yaa.. Tita cerita anakmu sudah lahir. Tante mohon maaf karena belum bisa lihat" jawab mamanya Tita.


"Iya Tante terima kasih, nggak perlu repot-repot Tan, doa Tante dan om itu jauh luar biasa bagi kami semua!" balas Abimanyu lagi.


"Bi ... Tante tahu maksud kedatangan kamu kesini. Tante dan om juga sudah bertanya dan mengklarifikasi cerita yang Tante dengar dari sekretaris pribadimu kepada Tita. Tante atas nama pribadi juga mewakili Tita .. ingin minta maaf sama kamu .. atas semua tingkah laku dan perbuatan Tita .. sungguh Tante dan om malu, tapii.. karena Tante dan om juga mendengarkan apa yang disampaikan Tita, mmmmm Tante mohon, Abi mau juga mendengarkan apa yang Tita ingin sampaikan ke kamu, agar hati Tita juga .. ringan dan lepas .. Bi ... kamu bersedia kan?" nada mama Tita penuh harap.


"Demi untuk kebaikan bersama, baik .. Tante, saya akan mendengarkan apa yang ingin Tita katakan" jawab Abimanyu.


"Sebentar, Tante panggilkan Tita yaa Bi.." sahut mama Tita lagi sambil berdiri dan meninggalkan Abi.


Tidak berapa lama kemudian, Tita datang. Langkahnya ragu, senyumnya pun terlihat dipaksakan. Abimanyu sengaja menatapnya dari semula gadis itu muncul. Sampai Tita duduk dihadapan Abimanyu.


"Makasih Bi ... kamu mau dengarkan aku dulu" kalimat pertama yang gadis itu ucapkan.


"Akuuu.. selalu merasa perpisahan kita mengganjal dihatiku Bi, pada awalnya ... aku merasa kesal sekaligus sedih, kenapa dulu keputusan kamu untuk melanjutkan sekolah keluar negeri tidak pernah kamu bahas ... atau kamu ceritakan ke aku, semua serba tiba-tiba. Itu membuat aku merasa kamu tuh enggak nganggap aku orang yang spesial dihati kamu. Padahal harusnya dengan kedekatan kita, minimal kamu mengajak aku untuk diskusi .. untuk bicarakan kepergian kamu itu baik-baik agar aku juga siap ditinggalkan kamu!" Tita menarik nafasnya kemudian melanjutkan lagi


"Aku nggak siap waktu itu .. karena sebenarnya relatif kamu juga enggak bisa mengekspresikan rasa sayang kamu ke aku, yang membuat aku juga bertanya-tanya kamu itu beneran suka sama aku atau aku hanya sekedar sahabat kamu aja!"


Abimanyu hanya diam sambil tetap memperhatikan semua yang terlambat untuk dibicarakan oleh Tita, tapi demi masalah ini selesai dia memilih mendengarkan wanita dihadapannya yang dulu telah bisa membuka hatinya untuk mencintai.


"Akuuu ... akhirnya dekat sama Tristan, karena belajar dikedokteran itu nggak gampang Bi, aku butuh support dan real orang yang bisa bantuin dan bisa aku andalkan kapan aja! dan yang saat itu dekat dan ada adalah Tristan! aku juga awalnya hanya nganggep dia teman! enggak lebih! walau Tristan sejak awal deketin aku memang karena suka! semua ngalir gitu aja Bi ... kamu jarang bisa ngehubungin aku, sementara dia hampir tiap saat ngingetin aku ini .. itu .. lah! lama-lama aku juga kasian sama Tristan! itu kenapa aku akhirnya mau jadi pacar dia, sementara kamu jauh, jarang ngehubungin atau sekedar rutin kasih aku pesan aja kamu nggak lakukan, aku tuh jadi ngerasa kamu itu nganggep aku apa?!"


"Sementara perbedaan waktu kita kan udah bikin kita jarang bisa komunikasi! itu sekedar bisa dilakukan kalau aku libur atau kamu libur!"


"Semua ini karena ada sebab akibat itu Bi! bukan hanya karena aku yang selingkuh! sementara semua teman-teman kita mengganggap dalam hal ini hanya aku yang salah! hanya aku yang selingkuh! mereka nggak tahu, kamu juga dulu enggak bisa mengekspresikan kalau kamu suka..kalau kamu sayang aku! aku juga butuh kepastian !" suara Tita mulai mengandung tangisan yang tertahan. Abi masih tidak berkata apa-apa, sesekali ia hanya bisa menarik nafas panjang.


"Sampai pada saat kamu akhirnya menyudahi hubungan kita, aku merasa kamu nggak adil sama aku! kamu kira perlakuanmu sama aku bisa dikatakan kalau kamu sayang aku?! kamu perduli sama perasaan aku?! kamu kira .. apa yang kamu lakukan sudah benar? apakah itu yang namanya kamu mencintai?!"