My Favorite CEO

My Favorite CEO
Positif



Waktu terus bergerak


Memulai babak baru dalam sebuah episode kehidupan, adalah menjadi bagian dari hidup seorang manusia.


Demikian pula yang saat ini sedang dijalani oleh Yoga dan Nindy.


Kehidupan baru yang manis, yang mereka rasakan seakan memperkuat ikatan cinta diantara mereka, setiap hari, Yoga dengan penuh semangat memulai harinya, karena ada wanita yang sangat dicintai berada disisinya.


Setiap hari Nindy selalu membenahi dirinya agar terus nampak menyenangkan dan menyejukkan hati suaminya.


Mertuanya pun sangat mencintai Nindy, menantu yang selalu merawat dan meluangkan waktunya hanya sekedar mengajaknya ngobrol atau jalan-jalan pagi disekitar lingkungan rumah setelah Yoga berangkat kerja.


Kehidupan yang amat sempurna ...


Bahkan Papa dan Mama Nindy pun bahagia melihat putrinya bahagia.


Semua berjalan lancar, Cafe She nya yang menjadi sangat digemari oleh muda mudi dikota itu untuk sekedar kumpul-kumpul, EO nya yang semakin banyak event yang mereka tangani, bahkan perusahaan suaminya pun seperti kebanjiran kontrak kerjasama.


Sampai saat itu semua tampak indah, semua tampak sempurna dan Nindy teramat sangat mensyukurinya.


Waktu luangnya banyak dihabiskan Nindy diatas sejadah dan membaca berlembar-lembar Mushaf, selain kegiatan rutinnya memasak untuk Mertua dan Suaminya, mencoba resep-resep baru yang akan dipasarkan di Cafe She, atau mendesain rencana-rencana Event yang minta dikonsepkan oleh Nindy.


Selebihnya Nindy hanya merawat tubuhnya, menunggu dan melayani suaminya.


\=\=\=\=\=\=\=


Malam sekitar jam 20.00 Yoga sampai dirumah.


Yoga merasa heran, bukan istrinya yang membukakan pintu.


"Istri saya dimana bi?"


Tanyanya kepada asisten rumah tangga yang membukakan pintu.


"Ibu dari sore muntah-muntah terus pak, lemes badannya padahal tadi pagi sampai Dzuhur ibu baik-baik saja"


Jawab Siti


"Salah makan nggak?"


"Kurang tahu pak, tadi Tuan besar mau telpon dokter pribadinya, ibu nggak mau bilangnya mungkin cuma masuk angin, minta dikerokin bibi, Merah sih pak, tapi masih muntah-muntah, sekarang tidur dikamar."


Yoga langsung memburu masuk ke kamarnya. Dilihatnya Nindy bersimbah peluh.


"Sayang.."


Panggil Yoga sambil menyapu peluh di dahi dan hidung Nindy dengan handuk kecil yang ada disamping bantal Nindy.


"Aku panggil dr. Dian yaa untuk memeriksakan kamu?"


Nindy membuka sedikit matanya.


"Peluk.."


Pinta Nindy pada Yoga


Yoga memeluk istrinya penuh rasa khawatir.


Mencium harum tubuh khas suaminya, seperti obat buat Nindy, karena tiba-tiba rasa mual yang semenjak tadi dirasakan Nindy tiba-tiba menghilang.


Begitu nyaman dia merasa dipelukan suaminya.


"Enakan..."


Ucap Nindy


"Kenapa sayang?"


"Setelah dipeluk aa, mualnya hilang.."


"Masa? kok bisa gitu?"


Lalu pintu kamar diketuk orang dari luar kamar.


"Sebentar yaa Hon.. aku buka pintu dulu"


Lalu Yoga melepaskan pelukannya. Dan berjalan kearah pintu kamar.


"Papa.."


"Coba dites Ga, ini saran dari mama mertuamu, papa tadi cerita gejala-gejala Nindy. Karena Papa takut ada apa-apa sama Nindy. Mertuamu malah menyuruh papa beli alat tes peck kehamilan ini"


Papa lalu menyerahkan tes peck kehamilan itu ketangan Yoga.


"Terima kasih pah, nanti sebentar Yoga dan Nindy coba"


Jawab Yoga.


"Kabari papa hasilnya ya nak!"


Pinta Papa.


"Iya Pah"


Papa berlalu, Yoga masuk kembali kedalam kamar.


"Sayang... Mama minta kamu coba tes kehamilan, kamu mau coba?"


"Papa ya.. yang telpon mama?"


"Iya, Papa khawatir kamu ada apa-apa, gimana? kuat nggak kamu kekamar mandi?"


"Baca dulu cara pakainya a, Nindy nggak tau caranya"


Lalu Yoga membaca petunjuk pemakaian tes kehamilan tersebut dengan seksama. Setelah Yoga selesai membaca petunjuk pemakaiannya ..


"Sebentar, aa harus cari wadah untuk menampung air pipis kamu dulu ya"


Lalu Yoga ke dapur, membuka tutup botol air mineral yang ada didalam kulkas dan mengeringkan embun yang ada ditutup botol itu dengan tissue.


Yoga masuk lagi ke kamarnya.


"Kita pakai tutup botol ini saja sayang untuk menampung air pipisnya."


"Iya.. tapi aa bantuin yaa.. kan tadi yang baca petunjuknya aa"


"Iya.. yuu.. pegang tangan aa"


Lalu perlahan Yoga membantu Nindy ke kamar mandi.


Ketika Nindy sudah duduk diatas toilet, tutup botol pun diberikan Yoga ke tangan Nindy.


Kemudian Air pipis Nindy berhasil tertampung ditutup botol. Nindy meminta tissue yang ada diatas wastafel, lalu menjadikan tissue tadi sebagai alas untuk Yoga memegang tutup botol yang sudah ada air pipisnya.


Yoga menuangkan air pipis Nindy tadi kecekungan wadah alat tes kehamilan yang dibelikan oleh papanya dan Ia letakan dimeja samping wastafel.


Nindy sudah selesai membersihkan dirinya ikut menunggu hasilnya dibelakang bahu Yoga, sambil menempelkan bibirnya dibahu Yoga, hidungnya menyesap harum khas suaminya yang membuat mualnya berangsur hilang.


"Tandanya plus sayang.."


Seru Yoga


"Maksudnya positif hon..? aku hamil ?"


Seru Nindy juga


"Iya.. sayang, disini dibilang kalau nanti keluar tanda plus berarti kamu positif hamil !"


Lalu Yoga berbalik, menghadap istrinya.


"Sayang... kita akan punya anaaaaakkkk !"