
Jemari Nindy masih menggenggam jemari Yoga, hingga ketika Yoga sudah harus benar-benar masuk kedalam mobil petugas.
Yoga menangkup wajah Nindy dengan satu tangannya. Mata Nindy seakan tak ingin sedikitpun beralih dari menatap suaminya.
Membuat Yoga semakin berat dan tak mampu berkata apa-apa lagi.
Dia hanya mencium kening Istrinya, Nindy mencium punggung lengan suaminya, lalu Yoga mencium punggung lengan papanya.
Air matanya masih terus mengalir sampai Yoga masuk kedalam mobil petugas dan menghilang dari pandangannya.
Papa mengusap-ngusap bahu Nindy.
"Papa... Nindy lupa enggak bawain aa baju ganti, sejadah untuk aa sholat, baju hangatnya.."
Ucap Nindy dalam isakannya, yang membuat papa mertuanya sangat mengasihani menantunya ini.
"Ayo.. kita siapkan nak, mungkin nanti Ferdy bisa mengantarkannya"
Jawab Papa mertuanya menenangkan sambil membimbing Nindy masuk kedalam rumah.
Nindy masuk ke kamarnya yang sudah rapih lagi setelah bibi tadi membereskan semua dan mengembalikan keadaannya menjadi rapih seperti sedia kala.
Disusul oleh papa dan bibi dibelakangnya.
Ia mengambil koper kecil Yoga
"Jangan banyak-banyak ya pah.. kan paling cuma dua hari ya Pah, A Yoga nggak pulangnya."
Nindy terisak sambil berbicara kepada mertuanya dan membuka lemari pakaian suaminya.
"Iya.. nak, papa juga yakin cuma sebentar kok.. siapin yang paling diperlukan Yoga saja."
Papa masih menemani Nindy, mengikuti saja apa yang sedang ingin dilakukan menantunya itu. Menatap sedih dan menahan tangisnya sendiri dihati.
Lalu Nindy terduduk ditepi tempat tidur, menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan semua air mata dan kerisauannya.
Papa terdiam.
.
.
Lamat... terdengar ...
**
Kesunyian ini
Lirihku bernyanyi ...
Lagu Indah untukmu...
Aku bernyanyi..
Engkaulah Cintaku
Cinta dalam hidupku
Bersama rembulan
Aku menangis....
Mengenang mu..
Segala tentangmu..
Ku memanggilmu...
Dalam.. hati Liriiiih...
Engkaulah Hidupku
Hidup dan matiku
Tanpa dirimu...
Aku menangis..
Mengenang mu ...
Segala tentangmu..
Ku memanggilmu ...
Dalam hatiku...
Dalam... Hati...
Liriiiih...
(Lirih - Ari Lasso)
***
"Tapi ... tadi aa bilang... aa juga nggak tahu berapa lama papa.."
Nindy meraung.. menangis sejadi-jadinya.
Papa mengusap bahu Nindy, dia sendiri juga tidak bisa memberi penghiburan bagi menantunya, yang mengalami perasaan yang sama seperti yang Ia rasakan.
Yang Ia hanya mampu yakini didalam hatinya, bahwa Yoga pasti sudah mengetahui langkah apa yang harus dia ambil saat ini.
\=\=\=\=
Karena menangis terus, akhirnya Nindy tertidur kelelahan.
"Jangan dibereskan bi, biar Nindy yang selesaikan. Dia pasti ingin melakukannya untuk suaminya."
"Iya tuan"
Bibi meletakan lagi baju yang akan dimasukan ke koper. Melangkah mendekati keranjang baju kotor, mengeluarkan baju Yoga yang masih sangat kental akan harum laki-laki itu.
Membawa dan meletakan baju itu didekat bantal Nindy.
"Aa..."
Rintih Nindy dalam tidurnya, karena sayup Indra penciumannya seperti merasakan aroma tubuh suaminya.
Papa mengusap sudut matanya yang sekarang juga sudah basah.
.
.
.
.
.
Ditempat berbeda
Yoga sudah berada didalam ruangan penyidikan, didampingi oleh pengacaranya dan Ferdy, asisten pribadinya.
Pertanyaan demi pertanyaan dilancarkan oleh penyidik, satu persatu dijawab dan dijelaskan bahkan Yoga berusaha memberikan bukti-bukti pendukungnya.
Penyidikan masih berlangsung, seolah menguji ketahanan fisik siapa yang mampu bertahan.
Sudah kurang lebih 5 jam.
Kelelahan bisa saja melemahkan konsentrasi, sementara dalam keadaan seperti ini, untuk mampu menelaah setiap pertanyaan penyidik, fisik, daya fikir dan bisa me recall ingatan kita tentu saja butuh ketahanan fisik dan konsentrasi tinggi.
Yoga sempat mempelajari manajemen konflik ketika kuliah dulu, sehingga Ia mampu membuat dirinya tenang, mempelajari setiap maksud dari pertanyaan-pertanyaan penyidik dengan kehati-hatian.
Waktu rehat sejenak, Yoga mengusap wajah dengan kedua tangannya.
Bukan kelelahan karena diintrogasi yang membuatnya seperti ini, tapi karena saat ini..
Rasanya dia ingin mendengar kabar istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Belum 24 jam aku meninggalkanmu,
Tapi merindui suaramu...
Membuat batinku menangis.
Apa yang sedang kau lakukan bersama calon anak kita?