
"Ta..seperti tempo hari kamu menginginkan kejelasan dari aku... hari ini aku akan katakan.."
Abimanyu mengambil jemari tangan Tita.
"Kamu adalah bagian terindah dari perjalanan hidup yang aku jalani Ta, terima kasih untuk rasa indah yang pernah hadir diantara kita. Tapi... maaf Ta, aku tidak akan menjadi seperti Tristan, yang tetap mencintai dan mengejar wanita yang sudah dimiliki oleh laki-laki lain. Aku tidak bisa menerima kamu kembali Ta"
Air mata Tita sudah terjatuh dari pelupuk matanya, hatinya bagai disayat-sayat... Ia kehilangan cinta sejatinya.
"Pilihan itu adalah kalian yang putuskan terlebih dahulu bukan? aku harap..kamu tetap bertanggung jawab terhadap keadaan yang dulu kamu pilih Ta. Kita akan tetap bisa berteman, tapi hanya sebatas itu. Maafin aku Ta.. kalau saat ini kamu merasa hancur... aku pernah merasakannya terlebih dulu. Dan itu yang membuat aku bisa seperti saat ini. Tetap bisa memandangmu tanpa amarah, tetap menyukai kecantikanmu karena sekarang aku sudah dapat melepaskanmu Ta"
Lalu Abi perlahan melepaskan jemari Tita.
"Aku harap.. kamu bisa menerima ini. Seperti aku juga dulu... terpaksa menerima ini semua, jangan ada keraguan lagi untuk bersama Tristan, karena aku sudah tidak bisa menerimamu kembali Ta" ucap Abimanyu mencoba tak menghiraukan air mata Tita. Jika tidak sekarang maka selamanya dia tidak akan bisa melepaskan Tita.
"Abiii!" suara Bunda memanggil Abimanyu. Bunda dan ayah sudah berada didepan kamar Arimbi.
Abimanyu langsung bangkit dan mendekat kearah kedua orang tuanya. Bunda memandang tidak suka kearah Tita yang duduk menunduk, lalu mengalihkan kembali pandangannya kearah Abimanyu.
"Kenapa kamu diluar?" tanya bunda lagi.
"Handa sedang membersihkan badannya Bun.. Yah.. jadi Abi diluar dulu. Tadi sudah dikeluarkan cairan dilutut Handa yang membuat dia kesakitan dan menyebabkan tadi kakinya bengkak. Setelah itu Handa sudah merasa lebih baik. Sebentar lagi akan datang fisioterapinya, lutut Handa mengalami dislokasi, itu yang semalam dijelaskan dokternya"
"Bunda sudah firasat Bi.. makanya bunda bersikeras minta Handa pindah ke apartemen kita! nggak tahunya malah kejadian duluan.." air mata Nindy meluncur begitu saja dari mata indahnya.
Abi mengusap bahu bundanya dengan sayang.
"Anak itu bersikeras nggak mau nyusahin! sekarang malah bunda nyesel nggak maksa dia dari dulu aja tinggal diapartemen!"
"Sudah..Bun, kan hari ini Handa juga akhirnya mau pindah. Handa juga masih Shock karena kejadian ini..jadi nanti didalam bunda jangan membuat Handa juga jadi menangis lagi mengingat peristiwa itu yaa" ucap Abimanyu mengingatkan bundanya.
"Iyaa Hon.. sekarang yang terpenting pemulihan dan kebaikan Handa kedepannya. Tapi benerkan seperti yang kamu katakan nggak ada luka lain yang membahayakan Handa?" tanya Ayah.
"Iya .. Yah, Alhamdulillah nggak ada semua sudah dicek semalam lewat MRI" jawab Abimanyu
"Syukurlah.. ayah tadi juga ditelpon om Ade, mereka sudah dalam perjalanan kesini. Tante Pipit minta foto Handa saat ini Bi!"
"Iya Yah, nanti Abi foto dan kirim gambarnya ke Tante Pipit"
"Truuss.. kenapa dia ada disini?" tanya bunda sedikit berbisik dan mendelikkan matanya kearah Tita.
"Tita adalah salah satu dokter dirumah sakit ini Bun, dia mau melihat keadaan Handa" jawab Abimanyu menenangkan Bundanya.
Tak berapa lama.. keluarlah perawat yang tadi membantu Arimbi membersihkan badannya.
"Selamat Pagi Pak.. Bu.." sapa perawat tadi penuh hormat dengan membungkukkan badannya pada Yoga.
"Mba Handa sudah bisa dilihat kembali, silahkan.." ucapnya lagi.
"Terima kasih yaa mba.." balas Bunda dan Ayah, lalu mereka masuk kedalam ruangan dimana Handa sekarang sudah terlihat lebih bersih dan segar.
Bunda yang terlebih dulu memeluk Handa kemudian mencium kening gadis itu. Disusul oleh ayah.
"Maafin...Handa jadi ngerepotin Tante sama om.." ucap Handa.
"Enggak ada yang disusahin Handa.. kamu sudah om dan Tante anggap anak sendiri. Jadi jangan pernah bicara seperti itu lagi!" ucap Ayah.
Handa menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Masih ada bagian tubuh kamu yang terasa sakit sayang?" tanya bunda sambil mengusap lembut kepala Handa.
"Alhamdulillah tan.. sudah enggak ada" jawab Handa.
"Tante bawakan sarapan untuk kita semua. sebentar Tante suruh pak Budi naik untuk mengantarkannya yaa" lalu bunda langsung menghubungi pak Budi, orang yang setia sejak ayahnya masih muda.
"Ambu sama Abah sedang dalam perjalanan kesini. Pagi tadi Abimanyu yang kasih kabar, hari ini .. biar Abimanyu aja yang ambil semua barang-barang kamu dan memindahkannya ke apartemen yaa..." ucap Bunda sambil memperhatikan wajah Handa.
"Abiii.. repot nggak Tan kalau pindahannya tanpa Handa. Karena harus ketemu dulu sama ibu kos, kunci kamar Handa ikut terbawa ditas yang kemarin dijambret" ucap Handa sambil melempar pandang pada Nindy kemudian pada Abimanyu.
"Telpon dulu aja ibu kosmu Han, katakan kejadian semalam dan kalau aku akan ambil kunci cadangan kamar kamu untuk pindahkan semua barang-barang kamu. Nanti aku yang cari alamatnya, tenang aja.. dinegeri orang aja setiap rumah teman-teman aku aja ketemu! apalagi dinegeri sendiri!" balas Abimanyu.
Tak berapa lama kemudian ketika mereka masih berbincang-bincang, masuklah direktur lama rumah sakit bersama direktur yang baru, staf dan fisioterapi yang akan merawat Handa.
.
.
.
.
.
.
.
.
Abimanyu sudah berada dikamar kos-kosan Handa. Lumayan baik sebenarnya keadaan kos-kosan itu, hanya saja akses menujunya yang riskan memang untuk Handa yang jam kerjanya sif-sifan.
Handa sudah sangat rapih menata dus-dus barang
yang akan dibawa. Membuat note-note kecil pada barang-barang atau dus yang ia akan beri pada nama-nama yang sudah tertulis di note itu. Abimanyu saat ini sudah dibantu oleh beberapa orang jasa pemindahan barang, dia memerintahkan orang-orang tersebut mengangkat barang-barang yang tidak bertanda.
Sedang mereka melakukan pemindahan barang-barang Handa..
"Mas Abi ya? " sapa seorang gadis yang berdiri didepan pintu kamar Handa. Abi menoleh
"Iyaaa...saya" jawab Abimanyu.
"Handa tadi kirim pesan sama saya, katanya ada beberapa barang yang enggak akan Handa bawa dan sudah diberi note untuk siapa-siapa aja.." ucap gadis itu lagi. Tak beberapa lama berdatangan gadis lain yang muncul dipintu kamar Handa yang sambil terkagum-kagum melihat Abimanyu.
"OOO ya.. silahkan diambil yang ada nama-nama kalian.." jawab Abimanyu.
"Mas..nya.. kakaknya atau pacar mba Arimbi?" tanya salah seorang dari mereka.
Abimanyu tak menjawab, bahkan mulai memperlihatkan wajah kakunya. Ia tidak suka ditanya hal pribadi pada orang yang baru dikenal.
"Biarkan saya lewat, menunggu diluar sementara kalian mengambil barang-barang yang Handa berikan!" ucapnya lagi seadanya.
Gadis-gadis itu langsung memberi jalan pada Abimanyu dan saling sikut-sikutan karena hal itu.
"Tolong sampaikan ke mba Arimbi, rasa terima kasih kami yaa mas Abi. InsyaAllah kami akan membesuk mba Handa dirumah sakit nanti" ucap Gadis pertama yang tadi datang kekamar Handa.
"Akan saya sampaikan" balas Abimanyu tanpa memberi senyum, karena dirasa barang Handa sudah diangkat semua dan tidak ada barang lagi yang tertinggal dikamar Handa, Abimanyu mengunci kamar tersebut.
Mobil Abimanyu dan mobil yang mengangkut barang-barang Handa sudah menuju apartemen bunda. Pesan singkat diterima Abimanyu
"Biiii... maaf yaa temen-temenku tadi ada yang iseng" pesan dari Handa.
"it's Ok Han.. you know me kan ?" balas Abimanyu. Kemudian meletakan kembali Handphonenya.
Abi memutar sebuah lagu dari audio mobilnya, menemani sebagian rasanya ...
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku sedang merasa... Hampa..