My Favorite CEO

My Favorite CEO
84. Aku tidak percaya diri



Rangkaian prosesi adat Jawa telah dilaksanakan oleh kedua mempelai. Decakan kagum para tamu undangan kepada kedua mempelai terdengar dimana-mana.


Bagaimana tidak yang pria begitu gagah berwibawa, wajahnya yang memang tampan keturunan itu menghipnotis, yang wanita begitu cantik dan lembut memancarkan wajah yang begitu mendamaikan.


Keduanya kini sudah ada dipelaminan, menerima ucapan selamat dan bergiliran berfoto bersama para tamu.



Dari banyaknya tamu yang hadir, beberapa undangan dari relasi-relasi penting Ayah dan Abimanyu juga nampak berada diantaranya.


"Kamu cape sayang?" tanya Abimanyu lembut sambil mengusap beberapa titik peluh diwajah Annisa dengan tissue.


"Sedikit ... Mas Abi cape?" tanya Annisa sambil menatap suaminya yang begitu tambah terlihat mempesona. Dihatinya ia sangat bersyukur.


"Aku nggak cape ... aku malah inginnya semua lekas selesai .. jadi bisa membawamu dari sini!" jawab Abimanyu yang disambut senyuman penuh arti oleh Annisa.


Begitu banyak mata yang memperhatikan keromantisan kedua mempelai diatas pelaminan, tidak terkecuali pandangan mata Tita yang kehadirannya pun sempat membuat bunda khawatir. Namun bersamanya juga ada Axsal, Daffa, Aryo, Bima, Mely dan Tias. Hingga bunda menitipkan pada para sahabat putranya itu untuk menjaga Tita agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.


Bunda dan Ayah tidak menduga, walaupun acara resepsi diadakan bukan di Jakarta, namun semua relasi,sahabat dan tamu yang diundang tetap menghadiri pernikahan putra mereka. Dan itu menjadi sebuah penghargaan yang tak terhingga yang dirasakan oleh Ayah dan Bunda terlebih untuk Abimanyu dan Annisa.


Akhirnya perlahan para tamu mulai berkurang, Handa mempersilahkan Abimanyu, Annisa, orang tua Abimanyu dan orang tua Annisa untuk beristirahat sambil menikmati beberapa hidangan yang sudah disiapkan.


Abimanyu memegang tangan Annisa penuh perhatian ketika membantu istrinya turun dari pelaminan.


"Aku gendong aja yaa .. " tanya Abimanyu menggoda Annisa.


Tatapan Annisa yang melembut dan senyumnya yang mendamaikan menjadi jawaban buat Abimanyu. Dijawab dengan cara itu malah membuat Abi tak berkutik, rasanya ingin langsung membawa kabur istrinya saja dari tempat resepsi itu untuk kemudian mencium kedua mata indah milik istrinya itu yang saat ini, tatapan itu membuat hati Abimanyu bergemuruh.


Sampai berada dibawah pelaminan, Abimanyu masih dengan sabar menggenggam jemari istrinya menuju meja-meja VIP. Sahabat-sahabat keduanya sudah menunggu. Celotehan-celotehan mereka yang menggoda Abimanyu dan Annisa dibalas oleh senyum keduanya.


"Akhirnya ... sebentar lagi bisa bikin dedek bayi juga yaa Bi!" goda Axsal


"Surga dunia Bi ...!" goda Daffa.


"Jangan kasih kendor Bi!" Aryo yang belum menikah ikut-ikutan menggoda.


"Jangan ngegodain gue mulu !! cepet pada balik kekamar sana ! biar gue juga bisa gendong Nisa kekamar!" jawab Abimanyu disambut seringaian dan tawa para sahabatnya. Annisa mencubit lengan Abimanyu karena malu.


Disatu meja panjang akhirnya Abimanyu berkesempatan lebih dekat menjamu para sahabatnya. Demikian pula dengan Annisa


"Nggak nyangka yaa Nis ... hidup kamu malah lebih beruntung dari ibu tiri kamu" bisik salah seorang sahabat SMA Annisa yang tahu betul siapa yang menjadi ibu tirinya.


"Gusti Allah mboten sare (Allah tidak tidur)" jawab Annisa sambil memangkukan tangannya ditangan sahabatnya itu sambil tersenyum. Sahabatnya itu langsung memeluk Annisa penuh rasa haru.


"Inilah saat-saat kamu menuai gadis...aku ikut sangat berbahagia dengan kebahagiaanmu sekarang" ucapnya dengan airmata yang tidak bisa dibendung lagi.


"Jangan hukum lagi dirimu Nis ... " ucapnya terakhir sebelum kedua tangan Annisa turut menghapuskan airmata sahabatnya itu.


"I Will .. terima kasih sudah menjadi orang yang enggak pernah bosan menghibur aku Nas.. Ais.." balas Annisa menahan airmatanya.


Abimanyu mengusap punggung istrinya. Sedari tadi sebenarnya dia mencuri lihat memperhatikan istri dan sahabat-sahabatnya itu walau Ia sendiri sedang meladeni ledekan sahabat-sahabatnya.


Lalu dengan sengaja mencium punggung bahu Annisa menenangkan. Pemandangan menakjubkan buat mereka yang mengenal bagaimana pribadi Abimanyu. Membuat Tita terperangah dan menundukan pandangannya yang sedari tadi memperhatikan Abimanyu.


Annisa terkaget juga dengan apa yang dilakukan Abimanyu, gerakannya perlahan sambil telapak tangannya menangkup pada pipi Abimanyu, Annisa mensejajarkan pandangannya ke mata suaminya.


"Jangan ada air mata" ucap Abimanyu, Annisa mengiyakan dengan menganggukan kepalanya dan menggenggam jemari suaminya meyakinkan.


Hati Tita sudah tidak bisa tergambarkan, begitu sakit dan menyesal. Sangat menyesal. Jemarinya sudah memutih saling bertautan untuk menahan airmatanya. Membayangkan bahwa seandainya kebodohan dulu itu tidak pernah ia lakukan, kebahagian hari ini pasti adalah miliknya.


Abimanyu memang lelaki yang pantas ditunggu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kini mereka sudah hanya tinggal berdua. Didalam kamar pengantin yang dihias sedemikian indahnya, wewangian yang begitu lembut membangkitkan hasrat dan kenyamanan.


Annisa berdiri didepan pintu balkon menciptakan siluet indah. Lingerie tipisnya menari-nari dipermainkan angin senja.


Rambutnya yang panjang sebahu dibiarkan turut dipermainkan oleh angin.


Ini adalah pemandangan pertama Abimanyu melihat Annisa tanpa hijab dan pakaian panjang yang senantiasa melindungi dirinya.


Gemuruh suara didalam dadanya menjadi saksi, bagaimana ia begitu terpikat dengan pemandangan dihadapannya.


Annisa perlahan menyadari keberadaan suaminya, lalu ia membalikan badannya.


"Maaf ... aku yang mematikan lampunya .." ucap Annisa sambil menahan gemuruh didalam dadanya.


"Kenapa..?" tanya Abimanyu lembut sambil mendekat.


"A..aku tidak terlalu percaya diri dihadapanmu.." jawab Annisa begitu salah tingkah ketika Abimanyu mulai begitu dekat.


"Ada .. apa sayang?" tanya Abimanyu mengkhawatirkan perubahan Annisa.


"Aku takut mengecewakanmu...a..aku takut apa yang kumiliki ... tidak seperti apa yang kamu harapkan mas.." jawab Annisa begitu khawatir.


"A..aku begitu ingin membuatmu terkesan dan bahagia ... tapi a..aku menjadi begitu takut ka..lau sampai Mas .. kecewa .."


"Kenapa aku harus kecewa hmmm? aku tidak akan pernah membandingkan milikmu dengan yang lain .. karena buatku .. ini juga adalah yang pertama kali .. aku tidak pernah jauh menyentuh sesuatu yang bukan menjadi milikku .. sayang ... apakah kau begitu khawatir .. kalau yang ada diingatanku adalah bagaimana hari ini Tita berpakaian?" tanya Abimanyu yang kini sudah tidak menyisakan jarak diantara mereka.


Kehangatan tubuh Annisa bahkan sudah menempel terasa ditubuhnya.


"Harusnya kau sangat percaya diri, karena apa yang menjadi milikmu .. hanya diperlihatkan pada suamimu .. dan itu yang membuat aku juga merasa sangat spesial .. karena hanya aku yang melihat apa yang kamu miliki.." jawab Abimanyu sambil menyentuh rambut Annisa kemudian menciumnya.


"Dengarkan gemuruh didalam sini .." ucap Abimanyu sambil membawa telapak tangan Annisa untuk diletakkan didadanya yang bidang.


"Bunyi itu karenamu ... hanya padamu .. sayang .." ucap Abimanyu lagi sambil menatap pada teduhnya mata Annisa.


"Dan .. aku yakin gemuruh yang didalam sini karena aku bukan?" ucap Abimanyu yang juga meletakkan telapak tangannya pada Annisa, membuat mata gadis itu mengisyaratkan persetujuannya pada yang selanjutnya akan dilakukan oleh suaminya ..