My Favorite CEO

My Favorite CEO
Baby Boy



Dokter langsung memberikan bantuan Oksigen pada Nindy, mengecek tekanan darah Nindy juga hemmoglobin Nindy.


Dokter kandungan tidak berharap terjadi hipoksia pada janin Nindy.


Dokter menjelaskan kepada Yoga dan Mama keadaan bayinya Nindy.


Sehingga harus segera dilakukan tindakan agar bayi tidak terlahir cacat atau yang lebih tidak diinginkan berujung pada kematian bayi Nindy dan Yoga.


Namun tiba-tiba bidan yang mendampingi Nindy mengabarkan bahwa Nindy sudah pembukaan lengkap, sehingga saat itu juga tidak mungkin dilakukan tindakan Cesar.


Dokter, bidan dan Yoga langsung memburu langkah mereka keruang bersalin.


Nindy yang mendengar langkah memburu dengan merasakan mulas yang sudah tidak tertahan lagi mengalihkan pandangannya.


Dan ketika pandangan Nindy menemukan suaminya, dia mengulurkan tangannya. Yoga lekas menyambut jemari tangan istrinya, dan menciumnya


"A..." rintihnya


"Aa disini sayang.."


Dan saat itu jemari Nindy sudah meremas kuat jemari Yoga, menahan sakit.


Dokter sudah bersiap dengan posisinya, dan memberi instruksi agar Nindy mulai mengambil nafas dan mengedan untuk mengeluarkan bayinya.


Yoga dengan segala kemampuan doa yang dia hafalkan, tak pernah putus memohonkan keselamatan atas diri istrinya dan bayinya.


Kekhawatiran akan keadaan Istri dan bayinya saat ini membuat Yoga menyadari, bahkan berapa banyakpun harta yang ia miliki saat ini tidak akan mendatangkan pertolongan apapun kecuali pertolongan TUHAN.


Diluar Mama, dan papa juga papa Iwan menunggu dengan gelisah. Mereka juga tidak putus putusnya terus berdoa bagi Nindy dan calon cucu mereka.


Yoga melihat sangat susah payah Nindy berjuang hingga bayi mereka terlahir.


Lalu dokter bersegera melakukan pembersihan pada bayinya dengan langsung menghisap semua lendir yang ada di tubuh bayi menggunakan alat khusus, mulai dari mulut, telinga sampai hidung. Hal ini dilakukan agar tidak ada lagi cairan ketuban yang menghalangi jalan napas bayi, sehingga bayi bisa lancar bernapas.


Dan seketika bayi Yoga dan Nindy mengeluarkan tangis pertamanya. Jeritan tangis itu bagaikan nada indah ditelinga Yoga, Nindy juga dokter yang menangani.


Mereka semua bersyukur. Yoga langsung mencium kening dan bibir Nindy, tidak menghiraukan bahwa diruangan itu ada orang lain yang melihat kebahagiaan mereka.


"Alhamdulillah.. terima kasih sayang"


Ucap Yoga dengan suara beratnya, menyembunyikan tangis bahagianya.


Kemudian Yoga menghapus air mata bahagia Nindy.


Masih menatap mata Nindy dan menggenggam jemari istrinya,


"I love you Anindya Kasih"


Nindy membalas dengan senyumnya dan air mata bahagia yang masih terus menderas.


Setelah lendir dan cairan ketuban disedot, Dokter membersihkan tubuh mungil itu dan dikeringkan menggunakan handuk lembut.


Yoga memperhatikan apa yang dilakukan Dokter yang menangani bayinya tak jauh dari tempat Nindy melahirkan.


Kemudian Dokter melakukan tes APGAR untuk memastikan kondisi kesiapan bayi dalam memulai kehidupan barunya, yaitu berada di luar perut ibu.


Tes ini langsung dilakukan pada menit pertama dan kelima setelah bayi lahir ke dunia dan setelah tali pusat di potong. Tes ini dilakukan berdasarkan denyut jantung, reflek gerak, pernapasan dan juga warna kulit.


Nilai Apgar bayi Yoga dan Nindy adalah A/S 9/9


Tes Apgar Score yang berfungsi menentukan secara cepat apakah bayi baru lahir membutuhkan penanganan medis segera, memang tidak didesain untuk memberikan prediksi jangka panjang terhadap kesehatan bayi yang bersangkutan.


Namun nilai Apgar yang ditentukan dokter, mengidentifikasi bahwa bayinya baik-baik saja. Sehingga keadaan bayinya yang sempat kekurangan oksigen dan akan mengakibatkan kecacatan tadi sebelum dilahirkan tidak terjadi.


Dan itu seakan melunturkan segala kekhawatiran Yoga.


Setelah melakukan tes APGAR, kemudian dokter mengecek berat badan bayinya. Pengukuran berat badan perlu dilakukan sesegera mungkin, sebab perubahan suhu dapat mempengaruhi penguapan cairan yang terjadi pada tubuh bayi.


Setelah itu, baru akan diukur tinggi badan dan lingkar kepalanya.


Setelah bayi dinyatakan sehat dan normal, selanjutnya Dokter menggendong bayi Nindy dan Yoga, menelungkupkan bayi pada kulit bagian dada Nindy, sehingga terjadi interaksi kulit ke kulit. Lalu, bayi mungil itu dengan sendirinya mencari p*t*ng ibunya.


Inisiasi menyusui dini ini sekaligus menjadi pertama kalinya proses menyusui bagi bayi.


Yoga dan Nindy sangat terharu ketika memperhatikan putra mereka mencari p*t*ng ibunya, Nindy merasakan debaran yang teramat sangat ketika menyadari makhluk mungil yang berada didadanya saat ini adalah buah cintanya bersama Yoga.


Bayi itu masih terus bergerak-gerak mengikuti intuisinya secara alami dan akhirnya Baby Boy menemukan juga yang dicarinya


"bayi.. pintar" ucap Yoga bersyukur


Ia menyesap p*t*ng ibunya perlahan menikmati ASI pertamanya.


Setelah 60 menit, Dokter menghentikan proses menyusunya.


Kemudian bayi Nindy dibawa kembali oleh Dokter untuk diberikan suntikan Vitamin K1, diikuti oleh Yoga dibelakangnya. Suntikan vitamin K1 ini diperlukan karena sistem pembekuan darah bayi yang baru lahir masih belum sempurna, sehingga meningkatkan risiko mengalami perdarahan setelah dilahirkan. Selanjutnya diberi imunisasi Hepatitis B.


Setelah suhu bayi tetap stabil selama beberapa jam, seorang perawat memandikan bayi Nindy dan Yoga menggunakan air hangat suam-suam kuku. Untuk membersihkan bekas lapisan lemak yang menempel pada kulit bayi. Bayi kemudian  dikeringkan dan dipakaikan pakaian serta dibedong guna memastikan tubuhnya hangat.


Lalu Dokter mempersilahkan Yoga mengadzani bayinya.


Dengan gerakan yang masih sangat kaku, Yoga meraih bayinya dari gendongan Dokter, mengangkat sedikit kepala putranya, dan mendekatkan bibir Yoga ketelinga sebelah kanan putranya.


Dalam deraian air matanya, Yoga mengumandangkan suara adzan perlahan ditelinga kanan putranya, dan Ikamah ditelinga kiri putranya.


Tugas pertamanya sebagai Ayah telah ditunaikan.


Setelahnya Yoga mencium lembut kedua pipi dan kening putranya. Dan menyerahkan kembali putranya pada Dokter.


Sebelum si kecil keluar dari ruang bersalin, perawat melakukan cap telapak kaki sebagai identitas bayi Nindy dan Yoga, agar tidak tertukar. 


Sementara Nindy masih diobservasi oleh dokter untuk mengetahui terjadi perdarahan atau tidak pasca melahirkan.


Lalu Yoga mengikuti seorang perawat yang membawa bayinya untuk dibawa keruang bayi. Dan ketika mereka keluar, mama, papa dan papa Iwan berdiri menghampiri Yoga memeluk serta mencium menantu dan putra mereka sambil tak henti mata mereka memperhatikan bayi mungil didalam box transparan yang sedang didorong perawat.


"Cucu mama dan papa, laki-laki"


Ucap Yoga, orang tua itu semua mengucapkan syukur yang tak terhingga.


Lalu mereka mengikuti langkah perawat yang sedang membawa cucu mereka.


"Nindy baik-baik sajakan Ga?"


Tanya mama.


"Nindy Alhamdulillah baik-baik saja mah, sebentar lagi jika tidak terjadi pendarahan, Nindy juga akan masuk kekamar perawatan"


"Alhamdulillah... syukurlah.. mama bahagia nak"


.


.


.


.


.


.


Hari terus berganti


Banyak yang t'lah terjadi


Diriku kian pasti


S'gala kan kuraih


Bila esok menjelang


Bahagia pun kan datang


Bintang di angkasa


Bersinar gemilang


Tempat kutuju


S'gala angan dan harapan


Tempat kupadu


Cita-cita dan impianku


Tempat kupacu


Setiap langkah yang berarti


Tetap menyatu


Dalam hasrat dan tujuanku s'lalu


Waktu yang t'lah menguji


Tekad yang kumiliki


Kini t'lah terbukti


Citakan kugapai


Rintangan kuhadapi


Cobaan kulalui


Semua t'lah kudapati


Menggapai gemilang


Tempat kutuju


S'gala angan dan harapan


Tempat kupadu


Cita-cita dan impianku


Tempat kupacu


Setiap langkah yang berarti


Tetap menyatu


Dalam hasrat dan tujuanku s'lalu


(Gemilang-Krakatau)