My Favorite CEO

My Favorite CEO
Skype



Sekitar jam 10 malam akhirnya Nindy dan Yoga sampai dirumah.


Mang Kodir membantu Yoga menurunkan barang-barang.


Yoga membantu Nindy masuk kedalam rumah.


" Lita sama Pipit tadi ada Nak diCafe? "


" ada mah .. salam katanya buat mama sama papa "


" waalaikumsalam.."


" Ga... anter Nindy langsung deh ke kamar yaa.. biar langsung istirahat .. anak nakal, baru juga pulang dari rumah sakit.. sudah mampir-mampir "


" Kangeeen mah ... "


" sangking kangennya mah, tadi sudah ada pelanggan yang minta Nindy nyanyi... yang kangen jadinya bukan Nindy aja .. "


sela Yoga


" kemarin aja.. pingsan, bikin Mama takut "


" xixxii iyaa .. InsyaAllah nggak bikin Mama khawatir lagi"


Mama mengatur posisi bantal untuk Nindy tiduri


Lalu Nindy berbaring ditempat tidurnya.


"Mama ambilin air minum dulu yaa.. biar kamu nggak bolak balik ke dapur "


" Iya mah.. terima kasih "


" Mau aku ambilkan baju ganti hon? "


" Nanti aja a.. Nin bisa kok. "


" iyaa.. harus ganti yaa.. ini pakaiannya sudah dari rumah sakit trus kita ke Cafe.. "


" Iyaa... aa pasti cape.. istirahatlah.. terima kasih yaa hon... untuk semuanya.."


" iyaa.. sama-sama.. aa juga minta maaf untuk semua yang aa lakukan .. kalau sudah menyakiti hati kamu ... dan ganti bajumu nanti trus bobo yaa... sampai besok pagi lagi.."


Yoga semakin mendekatkan wajahnya.. lalu mencium kening Nindy, mengusap sedikit bibir Nindy dengan jarinya.. sambil matanya menatap penuh kerinduan..


Nindy memberi anggukan .. Dia tahu apa yang diinginkan lelakinya.


Yoga menyapu lembut bibir Nindy yang terasa manis dan dirindukannya.


Yoga jadi menginginkan lebih dari itu.. ditahannya segala keinginan yang begitu mendesak memenuhi otak dan tubuhnya.


Yoga menghentikan ciumannya dibibir Nindy.. lebih karena dia menahan segala keinginannya untuk memenuhi hasratnya pada wanita yang sudah membuatnya tergila-gila.


" sebentar lagi... bersabar yaa hon.. aku akan memberikan segalanya.... cuma buat kamu..."


Ucap Nindy yang bisa merasakan betapa Yoga sekuat tenaganya untuk mampu tetap mengendalikan antara fikiran dan hasratnya.


" Iya... "


Lalu percakapan mereka terhenti karena handphone Yoga berbunyi dan mama masuk kembali ke kamar Nindy membawakan air minum untuk Nindy.


" aa tinggal yaa.. ini Ferdy yang telpon "


terang Yoga sambil memperlihatkan panggilan dari Ferdy kearah Nindy.


" iyaa.."


" Kamar aa sudah disiapkan sama mama dikamar yang biasa yaa.."


Yoga mengangguk dan mengambil langkah keluar kamar Nindy.


" Hallo pak, Kabar terakhir disinyalir dari penggunaan kartu kreditnya, Nena ada diwilayah Bandung pak. Beberapa orang yang ditugaskan untuk melindungi bapak dan Bu Nindy sudah saya sebar pak dan saat ini sudah dilokasi rumah Bu Nindy."


" Ok Fer, tetap suruh orang-orangmu bersiaga. Saya tidak mau Nena bisa menyentuh calon istri saya lagi."


" Dimengerti pak, akan saya laksanakan"


\=\=\=\=\=


Pagi berhujan..


Melihat airnya yang membasahi hijaunya daun-daun padi, menyirami tanah-tanah kebun tomat, cabai serta bunga-bunga yang dicintai dan ditanam oleh tangan Nindy sendiri..


Membuat kecintaannya pada semua yang dipandang pagi ini semakin bertambah.


Hujan selalu membuat hati Nindy syahdu..


seperti juga langit yang menjadi kelabu dan suasana disekitarnya seperti memandu orang-orang yang saling mencinta untuk saling berdekapan dan saling mengungkapkan rasa Cinta mereka .. sebelum semuanya tidak lagi menjadi milik mereka.


Dan saat ini.. seperti bayangan itulah yang dilakukan Nindy dan Yoga.


Seperti impian yang menjadi kenyataan bagi Nindy.


Tubuhnya yang saat ini bersandar didada Yoga sambil menikmati minuman teh hijau yang dimasukan potongan sereh dan Risol rougut panas seperti sengaja menikmati harum tubuh Yoga yang terasa segar.


Yoga mencium ujung kepala Nindy dan berlama-lama disitu sambil sama-sama membaca Novel yang ada ditangan Nindy.


" lamaaa iih kamu bacanya.. balik dong ke halaman selanjutnya "


" iiihhh... dihayati kalau baca itu a... dibayangi jadikan berkesan bacanya !"


" kapan mau tau akhir ceritanya kalau bacanya lama gitu !"


" iiihhh... aa itu harus menikmati alurnya, jangan cuma karena mau tahu akhirnya !"


" iiihh ... baca sendiri ! kalau kayak gitu !"


" Hahhhaaaaa ... mulai nggak sabar yaaa... "


Tiba-tiba bibir Yoga sudah menggoda dipipi Nindy. mengecupnya sekilas, lalu mengambil gelas mug tehnya dan menyesapnya perlahan-lahan.


" iiihh... apa-apaan kamu.. main tinggalin aa, balik nggak kehalaman sebelumnya! tadi kamu yang lama bacanya, aa nunggu kamu sambil minum teh, malah ninggalin !"


" iiihhh... wewet niih lama-lama "


Nindy beranjak duduk dan menangkup wajah Yoga gemas dan mencium sekilas bibir Yoga.


" udah... nggak usah baca lagi ! "


Giliran Nindy yang menyesap minumannya, sementara Yoga mengambil buku dari pangkuan Nindy dan membuka akhir dari halaman buku yang tadi mereka baca.


" OOO ... akhirnya menyedihkan... mereka putus !"


Kata Yoga dengan nada tidak bersalah


" aaaaaaaaa.... jahaaaat iiih kenapa diomongin akhirnyaaaa .... kamu maaaah ..."


Yoga tertawa senang karena berhasil menggoda wanitanya.


Mama sangat bahagia dengan pemandangan yang Ia lihat saat ini.


Doa tulusnya semoga Putri kesayangannya itu selalu berbahagia didalam kehidupan berumah tangganya nanti.


Hatinya begitu lega... karena bahagia akhirnya Yoga dan Nindy bisa saling mencintai.


Handphone Yoga berbunyi


" Ya Fer.. "


" Pa, maaf mengganggu.. ada beberapa pekerjaan yang harus dibahas bersama bapak. apakah saya beserta beberapa staf bisa Skype an dengan Bapak sekarang?"


" Ok, sebentar saya bersiap dulu"


" sebentar aa urus pekerjaan dulu yaa.. kamu tetap duduk disini."


Nindy mengangguk, Yoga memindahkan laptopnya bersebrangan dengan Nindy, sehingga latar belakang hujan dan hijaunya daun-daun padi menjadi latar belakangnya saat ini.


Sementara di Jakarta, Ferdy dan beberapa staf beserta direktur sudah berada diruang meeting menunggu hubungan langsung jarak jauh yang akan mereka lakukan bersama Yoga.


" Ok.. apa yang perlu dibahas?"


Ucap Yoga kepada seluruh stafnya.


" Waaaa..... suasananya enak sekali pak.."


Seluruh stafnya gagal fokus demi melihat pemandangan yang memanjakan mata itu.


Nindy tersenyum-senyum sambil merebahkan dirinya lagi dibangku panjang yang tadi Yoga dan Nindy tempati.


Dia buka lagi novelnya sambil menyicipi risol rougut buatan mama.


" Bonus, kalau kalian sukses didua Proyek yang berjalan .. pembayaran terakhir kita terima, saya ajak kalian rafting disini !"


" yeeeeyyy... OK pak ! "


Seru semua staf Yoga


" Ok, apa yang mau dibahas ? "


Lalu Yoga sudah sibuk dengan percakapan mengenai proyek perusahaannya.


Sambil sesekali pandangannya teralihkan ke Nindy.


Gadis itu baru saja menghabiskan risol rougutnya dan menyisakan fla putih diujung bibirnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Novel yang masih dibacanya.


" Ok... saya mengerti. tapi tunggu sebentar "


Ucap Yoga, dia berdiri dari depan laptopnya menghampiri Nindy.


Menjilat sisa Fla rougut disudut bibir dan mencium bibir Nindy tiba-tiba.


Nindy yang kaget kesenangan mengeluarkan sedikit suara erangan tak sengaja yang terdengar oleh staf-staf Yoga yang sedang menunggu.


Mereka tertawa pelan sambil menutup mulut mereka dan saling menyenggolkan lengan mereka pada teman yang ada disamping.


Ciuman itu langsung terhenti karena Nindy coba menjauhkan Dada Yoga dan menunjuk kearah Laptop yang masih menunggu kehadiran Yoga.


Sebelum kembali kedepan Laptop, Yoga merapihkan dirinya lagi.


" Ok.. "


katanya


" pak... apakah kami selesaikan disini dulu urusan kantor, sepertinya kami sudah mengganggu acara bapak."


Kata Ferdy.


" nggak.. nggak apa-apa.. teruskan dulu saja, tadi saya cuma membersihkan sedikit sisa Fla di ujung bibir Nindy "


Perkataan Yoga malah sontak membuat staf wanitanya menjeriiit kesenangan seolah-olah mereka yang diperlakukan seperti itu oleh Yoga sambil menutup wajah mereka.


" eheemm.. kita lanjutkan.. !"


ujar Yoga selanjutnya dan mereka meneruskan meeting jarak jauh itu.