My Favorite CEO

My Favorite CEO
75. Saranjana



Abimanyu sudah berada dipenginapannya lagi, sore tadi Annisa tidak memperbolehkan dirinya berlama-lama, mengingat besok pagi sekali Abimanyu berjanji akan mengantarkan Annisa ke dermaga.


Setelah membersihkan diri, dan sholat isya, Abi meraih ponselnya untuk mengabarkan kepada Annisa kalau dirinya sudah sampai dipenginapan.


*Syukurlah hon kalau begitu istirahat yaa .. sampai ketemu besok pagi _ Annisa


Ok, sampai besok pagi _ Abi*


Pagi masih begitu gelap


Abimanyu sudah berada didepan pintu rumah dokter Annisa, yang membukakan pintu langsung Annisa.


"Assallamualaikum .." sapa Abimanyu


"Waalaikumsalam .." jawab Annisa manis


Lalu Abimanyu dan Febry dipersilahkan masuk, Annisa sudah menyiapkan 2 cangkir teh hangat dan nasi goreng spesial buatannya sendiri dengan ceplok telur yang dibuat setengah matang dengan taburan bawang goreng yang harumnya sangat menggoda.


"Sayang .. sarapan dulu yaa, Nisa sama Aisyah siap-siapin dulu perlengkapan yang untuk dibawa" ucap Annisa.


"Iya.." jawab Abimanyu dan langsung meminta Febry untuk sarapan bersamanya.


Dan akhirnya mereka semua sudah bersiap didalam mobil untuk mengantar Annisa dan Aisyah ke Dermaga.


"Nanti sampai disini lagi jam berapa sayang?" tanya Abimanyu sambil memainkan cincin lamarannya dijari manis Annisa.


"Sehabis Dzuhur sayang biasanya, tapi bisa lebih cepat ... nanti aku kabarin ya .." jawab Annisa sambil mengusap penuh perhatian wajah Abi.


"Aku pasti sudah ada didermaga sewaktu kamu kembali" Ucap Abimanyu yang disambut anggukan Annisa


"Iyaa ..." balas Annisa, sambil masih mengusap wajah Abimanyu.


"Pagi ini... aku belum bilang sayang kamu yaa.." ucap Abimanyu, Aisyah dan Febry yang duduk didepan tersenyum masing-masing, bahkan Aisyah menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Mereka berdua malu sendiri mendengarkan apa yang diucapkan Abi.


"Sudah ... waktu telpon bangunin aku, trus waktu telpon .. bilang kamu dijalan mau kerumah aku..." jawab Annisa terus terang.


"Aaahh masa sih? kok aku enggak inget yaa ?" jawab Abimanyu tersenyum menggoda.


"Bilang lagi juga nggak apa-apa kok Nisa suka.." ucap Nisa yang saat itu jemarinya sudah menggenggam jemari Abimanyu.


"I love you sayang ..." ucap Abimanyu kemudian sambil menatap dikedua mata Annisa dengan tatapan yang penuh kelembutan.


"I love you too sayang ..." balas Annisa sama lembutnya.


"Kita sudah sampai dok" ucap Aisyah membuyarkan pandangan Annisa kepada Abimanyu.


"Oo .. iyaa, sudah sampai sayang .." ucap Annisa kemudian, dan mereka pun akhirnya keluar dari mobil dan berjalan bersisian menuju tangga dermaga dimana perahu boat yang menjemput mereka sudah bersandar disana.


Sweet daily sweater blouse dengan model batwing warna putih dan cullote berbahan glossy berwarna soft abu-abu yang dikenakan Annisa pagi ini dirasa Abimanyu sudah cukup menghangatkan tubuh calon istrinya itu. Dia mengusap bahu lengan Annisa penuh perhatian.


"Hati-hati, berkabar yaa ... aku sayang kamu" ucap Abimanyu sekali lagi ... seolah-olah hari itu rasanya dia tidak ingin Annisa pergi.


"Iyaa.. nanti pasti Nisa berkabar. sayang juga hati-hati yaa .. Nisa pamit dulu" ucap Annisa sambil mencium hormat punggung tangan Abimanyu. Mendongakkan wajahnya dan menyapu sekali lagi pipi calon suaminya


"Nisa sayang mas Abi .." ucapnya lembut, Abimanyu tersenyum bahagia, kemudian memegang tangan Annisa membantunya untuk masuk ke parahu, dan menyerahkan tas yang dibawa oleh kekasihnya itu ketangan nelayan yang menjemput.


Mereka saling melambaikan tangan hingga akhirnya sudah tidak terlihat perahu boat yang membawa Annisa dan Aisyah kepulau seberang, barulah Abimanyu meninggalkan dermaga.


Waktu sudah menunjukan pukul 12.00 sewaktu Febry mengantar bos besarnya itu didermaga. Bersamaan dengan perahu boat yang mulai mendekat dari kejauhan.


Diatas perahu hanya Aisyah yang sudah terlihat. Hingga perahu boat itu benar-benar sudah bersandar, Abimanyu tidak sabar menanyakan perihal keberadaan Annisa.


"Nisa mana Aisyah?" tanya Abimanyu.


"Tadi dokter Annisa sudah lebih dulu pulang pak, sewaktu saya masih membantu persalinan. Dokter Nisa meninggalkan pesan bahwa dia ada yang menjemput karena ada yang mendesak sakit!" jawab bidan Aisyah.


Mendengar itu, Abimanyu berusaha menghubungi Annisa lewat ponselnya, tetapi beberapa kali dihubungi nomornya selalu dikatakan diluar jangkauan.


"Coba Fer, kamu tanya orang sekitar dermaga tadi sudah melihat dokter Annisa kembali belum?" perintah Abimanyu dengan masih terus menghubungi dokter Annisa.


Bidan Aisyah pun mencoba menghubungi perawat Titi dipuskesmas, menanyakan apakah dokter Annisa sudah sampai dipuskesmas, sekaligus menanyakan siapa yang keadaannya darurat harus ditolong sehingga dokter Annisa harus segera kembali. Namun jawaban yang diterima Aisyah cukup mengagetkan bahwa tidak ada yang menghubungi atau menjemput dokter Annisa karena keadaan darurat.


Lalu bidan Aisyah menatap pada nelayan yang membawanya kembali tadi.


"Bapak, sepertinya seorang yang menjemput dokter tadi adalah dari Saranjana" (logat bidan Aisyah dalam bahasa Banjar)


"Apa ... apa Aisyah? coba jelaskan!" pinta Abimanyu mendesak. Namun Aisyah masih memakukan wajahnya pada nelayan yang mengantarkannya pulang.


"Baik Bu bidan, akan saya panggilkan Kei Langkat (ulama) kesini" jawab nelayan itu menggunakan bahasa Banjar juga.


Ia begitu bergegas membawa perahu boatnya


Kemudian Aisyah membalikkan wajahnya kearah Abimanyu.


"Pak ... yang menjemput dokter Annisa sepertinya


adalah seseorang yang datang dari Saranjana, kota mistik yang dikenal masyarakat sini dengan kerajaan jin" jawab Aisyah.


"Maksud kamu?" tanya Abimanyu lagi minta penjelasan.


"Maksud saya adalah .. dokter Annisa saat ini tidak berada didunia manusia pak Abi .." jawabnya.


Abimanyu terhenyak, duduk dianak tangga dermaga.


Ia tahu perihal Saranjana, karena ketika Ia bersama kontraktor, orang BPN dan beberapa anak buahnya sedang melakukan pengukuran dan pengambilan gambar luas tanah yang akan dibebaskan olehnya melalui alat dron, seketika saat itu dronnya tidak bisa dimajukan lagi dengan peringatan bahwa ada gedung-gedung tinggi didepan, sementara pandangan manusianya hanya melihat sebuah bukit.


Yang kemudian saat itu semua orang asli didesa itu meminta agar dron itu segera ditarik mundur. Mereka selama ini menjaga kehidupan harmonis yang saling berdampingan dan tidak ingin saling mengganggu apalagi penasaran dengan kota tak kasat mata itu. Dan itu sudah mereka sangat tanamkan kepada seluruh anak keturunannya.


Abimanyu tidak tahu harus berbuat apa ... dia mengusap wajahnya gelisah. Menatap jauh keseberang laut.


Diepisode ini, saya mencoba mengangkat apa yang menjadi cerita rakyat didaerah setempat, cerita yang mampu membuat semua anak keturunan tetap menjaganya hingga kini, apa yang menjadi larangan dan anjuran terhadap kota tak kasat mata itu. Mereka hidup berdampingan dengan harmonis, tanpa saling mengganggu apalagi melanggar adat kebiasaan yang berlaku.


Inilah bagian dari adat kebiasaan yang kita juga harus selalu junjung ketika kita berada diluar dari adat yang biasa kita jalani. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Jauhkan rasa sombong didalam diri, jika kita berada di daerah orang lain.


Akankah ... dokter Annisa kembali ?