My Favorite CEO

My Favorite CEO
101. Mertua



Sepertinya Abimanyu menjadi punya rutinitas yang membahagiakannya setiap bangun pagi juga setiap mau tidur.


Seperti pagi ini, ia kembali menyapa twins mereka.


"Acallammualaikum ... twinsnya ayah ... I love you.. selalu kuat yaa sayang, sampai kalian dilahirkan oleh ibu .." ucap Abimanyu sambil mengusap penuh kasih sayang perut Annisa, lalu menciumnya.


Annisa yang terbangun hanya tersenyum menerima rutinitas baru suaminya. Ia mengusap rambut Abimanyu. Suami tampannya ini sudah membuat teman-temannya berhalu, bagaimana kalau mereka tahu kalau Abimanyu juga sangat manja ?


Abimanyu memeluk pinggang istrinya, sementara wajahnya ia tempelkan diperut Annisa.


"Mmmmm .... nyamannya ... ayah suka seperti ini .." ucap Abimanyu sambil memejamkan matanya lagi. Nafas halusnya yang teratur diperut Annisa, menyimpulkan bahwa suaminya kembali tertidur pulas. Annisa membiarkannya, bahkan ia pun ikut tertidur kembali.


.


.


.


.


.


Entah kapan suaminya itu berpindah posisi, tiba-tiba Annisa merasakan nafas suaminya diceruk lehernya, dan tangan Abimanyu sudah berpindah.


"Sayaaaang ... bangun yuu .. kita kesiangan deh kayaknya .." ucap Annisa pelan sambil mengangkat sebelah tangannya mengusap-ngusap rambut Abimanyu.



"Jangan bergerak .... begini aja .." jawab suara parau Abimanyu pelan diceruk leher Annisa.


"Hari ini memangnya enggak ada yang penting yang mesti mas kerjakan?" tanya Annisa lagi sambil mempermainkan daun telinga Abimanyu.


"Kalaupun ada ... pasti Febry sudah cerewet ngehubungin aku dari tadi" jawab Abimanyu masih memejamkan matanya dan dengan leluasa mencium wangi kulit Annisa.


"Harummu ... enak sekali sayang .. menenangkan" suara Abimanyu parau.


"Tapi aku belum kasih tahu yang lain, kalau aku berhalangan datang mas .." jawab Annisa memanja. Sebenarnya rasa malas juga menyerangnya hari ini. Terlebih Abimanyu juga tidak beranjak dari sisinya.


"Aku kangen" suara Abimanyu mengandung hasrat pada istrinya. Ceruk leher Annisa yang terbuka sudah menjadi sasaran hasratnya. Annisa menggeliat karena sentuhan itu, jemari Abimanyu sudah bermain dibalik lingrienya, membuat Annisa menikmati apa yang dilakukan suaminya.


"Aku akan perlahan .. katakan kalau aku membuatmu enggak nyaman ..." ucap Abimanyu memasuki ruang sensitif yang membawa Annisa juga dirinya pada pergulatan hasrat yang membuncah untuk saling memuaskan. Abimanyu terlalu mencintai semua yang dirasakan pada istrinya. Membuat kata-kata cinta meluncur dari bibirnya, terutama karena berulang kali namanya disebut oleh Annisa dengan suara yang membuat gairahnya semakin memuncak dan akhirnya mereka saling mengeratkan genggaman jemari satu sama lainnya dan kepuasan itu mereka raih bersama.


Abi mencium kening Annisa sebelum ia merebahkan tubuhnya lagi diatas tempat tidur. Annisa menutup perlahan setengah tubuh suaminya yang polos dengan selimut sebelum ia pun tertidur lagi dalam pelukan suaminya yang masih berpeluh.


.


.


.


.


.


Suara ketukan didepan kamar dan panggilan bunda memanggil nama mereka, membuat Abimanyu dan Annisa terbangun.


"Abiii ! ini yang hamil Annisa kok yaa suaminya ikut males ! haaaiii ini bunda dan ayah sudah sampai !" teriak bunda didepan pintu kamar.


"Sayang... yaa ampun jam 10! itu bunda! kamu cepet pakai baju kamu lagi! aku mandi dulu!" ucap Annisa bersegera bangun dari tempat tidur.


"Jangan terburu-buru sayang ... hati-hati ada twins!" Abimanyu mengingatkan Annisa yang bergerak begitu cepat. Menyadarkan Annisa yang kemudian memperlambat gerakannya. Kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Sementara Abimanyu berpakaian dan melangkah untuk membuka pintu kamarnya.


"Buuun ...." sapa Abimanyu setelah membuka pintu kamar dan dilihatnya bunda masih berdiri, lalu mencium punggung tangan bunda dan memeluknya.


"Kamu ini! yang hamil Annisa kok kamu yang malas bangun!" ucap Bunda sambil menepuk punggung putranya yang sedang memeluknya dengan erat.


"Mana mantu bunda?" tanya bunda Nindy sambil masuk kedalam kamar Abi.


Ayah sedang memperhatikan halaman belakang rumah Abimanyu, ketika Abi menghampirinya.


"Yah.." sapa Abi sambil mencium punggung tangan ayahnya.


"Bagian belakang rumahmu harus terang benderang Bi! ayah masih takut ada ular, monyet atau sebangsanya!


"Iya yah, sudah sangat terang kok Abi desainnya" jawab Abimanyu. Lalu mengikuti langkah ayahnya masuk kedalam rumah.


Bunda dibantu bi Iim sedang mengeluarkan semua oleh-oleh yang dibawa.


"Buun.. pesanan Twins nggak lupakan?" tanya Abimanyu cemas, karena yang dilihatnya hanya kue-kue dan minuman.


"Enggaklah ... mana mungkin seorang nenek melupakan pesanan cucunya! tapi bunda nggak tahu finger grape yang dimau Annisa yang mana, jadi tadi ayah suruh beli semua, yaa sudah bunda beli semua jenis finger grape! tuuh sudah dibersihkan tadi sama Iim, dan dimasukan ke kulkas!" jawab Bunda panjang lebar.


Lalu Abi membuka kulkasnya dan seperti yang ia duga, ayah dan bundanya pasti sangking senangnya selain akan membeli semua jenis finger grape, tapi juga pasti membelinya dalam jumlah yang banyak.


"Ini sih bisa Abi jual lagi ! sebanyak ini yang benar aja buun!" ucap Abimanyu sambil tertawa.


"Eee.. awas yaa ... itu buat cucu bunda sama ayah! jangan macam-macam!" ucap bunda dengan nada mengancam.


Abi tertawa sambil mencicipi beberapa finger grape.


"Emmm manis Bun, mamacih bunda akuuu.." ucap Abimanyu sambil memeluk bundanya.


"Sudah mau jadi ayah juga, masih aja ..!" teriak ayah dari ruang keluarga.


"Ada yang iri !" balas Abimanyu dan Ayah pun tersenyum.


Abimanyu menghampiri ayah diruang keluarga, lalu Annisa keluar dari kamar.


"Ayaah .. maaf, kami kesiangan tadi.." suara Annisa lembut menghampiri ayah mertuanya terlebih dulu, mencium punggung tangannya.


"Nggak apa-apa nak, sana sarapan dulu. Bundamu itu segala macam dibawanya! buat kamu sama Abi katanya!" ucap ayah sambil membelai rambut Annisa.


"Iya Yah .. mas mandi dulu ayoo sana!" Annisa mendorong tubuh suaminya untuk melangkah ke kamar mereka.


Annisa sendiri menghampiri bunda, mencium punggung tangan mertua perempuannya.


"Bunda bawakan tuuh pesanan twins, coba kamu lihat dikulkas" ucap Bunda yang saat ini sedang memindahkan beberapa menu sarapan kepiring-piring.


"Waaa... bunda ... ini banyak sekali ... Nisa juga lupa yaa kemarin nggak bilang finger grapenya yang mana ... yaaaa ampuun mamacih nenek ..." ucap Annisa sambil memeluk ibu mertuanya dan mencium pipi bunda Nindy.


"Ayah tuh yang nyuruh semua aja dibeli! dia sebenernya yang paling senang mau dapet cucu kembar!" ucap Bunda.


"Kakek .... mamacih yaaa finger grapenya!" ucap Annisa sambil menghampiri dan memeluk mertuanya lagi.


"Iyaa.. yang penting sehat kamu, sehat juga si twins!" ucap Ayah.


"Amin... iya yah" jawab Annisa.


"Ayah mau dibuatkan minum apa? teh atau kopi?" tanya Annisa.


"Nggak usah, biar nanti kita sekalian sarapan aja" jawab Ayah.


"Nisa kalau begitu bantu Bunda dulu nyiapin semuanya ya yah" pamit Annisa.


"Iya .." jawab Ayah


Kemudian Abi sudah keluar lagi dengan pakaian yang tadi disiapkan Annisa sewaktu ia mau keluar dari kamar mereka.


Kemeja putih tipis lengan pendek dengan celana pendek selutut berwarna krem, penampilan Abi tampak segar hari ini.


"Ayo .. kakek .. ayah .. kita sarapan dulu!" panggil bunda yang sudah menata semua menu sarapan yang dibawanya khusus untuk Abi dan Annisa diatas meja makan.


"Nenek memang T O P B GT deeh!" ucap Annisa.


Mereka akhirnya menikmati sarapan yang sudah kesiangan itu dengan senang hati. Terutama Annisa, ia sangat terharu pada perhatian mertuanya yang menyayanginya layaknya ia putri kandung mereka sendiri.