
Suara dering handphone Abimanyu membuyarkan tawa Yoga dan Nindy. Abi langsung berlari mengarah keruang tengah dimana dia tadi baru saja melakukan class room dan kecewa karena Tita tidak termasuk yang hari ini berada di chatt class room.
Yoga dan Nindy memperhatikan gerak gerik putranya.
"Hallo... ini benar dengan nomor Abimanyu?" suara Tita terdengar ragu dan takut ditelinga Abi. Dan tiba-tiba senyum tipis khas dada yang bergemuruh itu terlukis dari bibir Abi.
Yoga dan Nindy saling melempar pandang dan tersenyum bersamaan melihat itu.
"Pasti Tita..!" teriak Yoga menggoda putranya. Nindy memukul lengan suaminya perlahan, dan memberi sinyal agar suaminya jangan menggoda Abimanyu lagi. Yoga tertawa ringan dan masih ingin menggoda putranya.
Abi mencoba tak menghiraukan ayahnya dan langsung mengambil langkah untuk menaiki tangga.
"Yang bergemuruh itu cinta namanya Bi!" teriak Yoga, Nindy langsung mencium bibir suaminya itu yang masih saja terus menggoda putra mereka.
Abi hanya sekilas memandang kearah kedua orangtuanya, sebelum dia tersenyum tipis lagi melihat adegan ci*man ala kedua orang tuanya itu.
"Tapi Abi enggak bucin kayak Ayah!" teriak Abi membalas ucapan ayahnya sambil masuk kedalam kamarnya.
Yoga dan Nindy sudah tidak mendengar lagi apa yang dikatakan putranya, mereka sendiri hanyut dengan ciu*an lembut satu sama lain diantara mereka.
"Kita ke kamar yuuu" ucap Yoga sambil memandang sendu mata Nindy, Nindy memberikan anggukannya, jemari Yoga sudah menaut diantara jemari Nindy dan membawa belahan jiwanya itu masuk kekamar mereka.
.
.
"Hallo..." suara diseberang sana masih menunggu jawaban.
"Maaf kalau saya salah sambung.." Tita hampir saja menutup panggilannya sebelum dia mendengar suara Abi menyahut.
"Ta.. iyaa bener ini nomor gue!" jawab Abi.
"Syukurlah.. Bi.. aku kira salah nomor.. lagi sibuk nggak Bi?" tanya Tita setelah meyakini bahwa dia sudah enggak salah nomor.
"Enggak!"
"Mau minta tolong Bi, boleh nggak?" Tanya Tita langsung ketika ternyata dia benar telah tersambung dengan Abi.
"Apa?"
"Tadi kata Ade, loe yang bisa jawab soal nomor 15 yaa pas chatt class room tadi? ajarin dong Bi..sumpah gue enggak ngerti.." suara Tita diseberang sana malah seperti suara nyanyian indah yang menina bobokan dirinya.
"Hallo.. Bi..? nggak bisa yaa? yaa udah deh kalau nggak bisa..maaf..jadinya gue ganggu elo" ucap Tita lagi demi tidak mendengar suara sahutan Abi lagi.
"Jangan ditutup! gue kasih tahu!" lalu Abi menutup panggilan dari Tita.
Beberapa menit kemudian.
Panggilan Video Call dari Abi masuk ke Handphone Tita.
"Kenapa jadi Video Call ? tadi dimatiin telpon gue!" jawab Tita langsung.
"Gue tadi harus ambil bukunya dulu diruang tengah! kalau enggak lihat cara gue ngerjainnya gimana bisa faham!" balas Yoga pura-pura enggak acuh padahal dadanya begitu bergemuruh karena bisa melihat wajah Tita.
Sebenarnya dia juga bingung sendiri, sudah selama itu mereka sekelas tapi kenapa baru sekarang dadanya selalu bergemuruh jika sudah berhadapan dengan Tita. Sebelumnya biasa aja.
"iiihhh Pake bengong lagi! trus jadi nggak ngajarinnya!"
"iya.. ya.. jadi.."
.
.
Dikamar lain
Nindy sudah menggeliat .. setiap sentuhan bibir dan lidah Yoga pada tubuhnya telah memberikan sensasi yang luar biasa. Sementara bagi Yoga harum tubuh istrinya membuat dia selalu ingin menyesapnya. Kedua mata Nindy sudah menyendu mengisyaratkan pada Yoga bahwa ia sudah ingin dinikmati oleh suaminya itu.
Tapi Yoga masih ingin merasakan seluruh inci dari tubuh Nindy yang tidak pernah berubah, membuatnya selalu rindu dan tergila-gila memikirkan istrinya jika Ia harus berada jauh dari Nindy, sekalipun itu hanya ketika ia dikantor.
P*ting merah jambu itu diyakini Yoga hanya dimiliki istrinya, melihat dan merasakannya seperti tubuh istrinya ini tidak pernah menua.
"Sayaaang...." rintih Nindy penuh kenikmatan.
Yoga semakin tergoda mendengar rintihan Nindy yang sudah tidak sabar ingin dinikmati. Entah kekuatan dari mana sehingga Nindy mampu membuat Yoga saat ini malah sudah berada dibawahnya. Yoga tersenyum puas, lalu dengan gerakan-gerakan dan deru suara mereka yang saling memburu dan saling ingin memuaskan penyatuan tubuh mereka berdua menjadi begitu liar dan memberi sensasi tersendiri bagi Yoga dan Nindy. Hingga keduanya merasakan puncak kenikmatan itu dan terbaring saling menatap hangat.
"Terima kasih sayang..." Ucap Nindy sambil mencium dada tel*n*ang suaminya, Yoga pun mencium ujung pangkal kepala Nindy hingga keduanya tertidur pulas.
.
.
Dikamar Abimanyu
"Sampai sini, udah ngerti belum?" tanya Abi sambil mencuri pandang kearah Tita yang sedang tampak menunduk memperhatikan bukunya, sementara giginya menggigit pulpen.
Abi tersenyum tipis memperhatikan Tita.