My Favorite CEO

My Favorite CEO
32. Rapat komisaris



Pagi yang dijanjikan Abimanyu pada ayahnya.


Kini dia duduk berdampingan disamping ayahnya menuju salah satu rumah sakit yang sudah menjadi milik ayahnya beberapa waktu lalu.


"Pagi ini, akan ada pemilihan direktur utama rumah sakit. Sudah ada beberapa kandidat yang diusulkan. Ayah ingin kamu mengikuti prosesnya. Rumah sakit ini dan juga semua yang ayah miliki saat ini, nantinya akan menjadi milikmu." ucap ayah sepanjang perjalanan.


Aku hanya diam mencoba mencermati dan mendengar dengan seksama kata-kata ayah. Aku sebenarnya tidak tertarik pada usaha yang sudah jadi. Aku lebih menyukai segala sesuatu yang aku rintis sejak awal dengan kekuatanku sendiri. Tapi sepertinya karena semua ini akan menjadi bagian tanggungjawabku kelak, mau tidak mau semua kuturuti dulu.


Sesampainya didepan rumah sakit, pintu mobil kami sudah dibukakan oleh orang-orang kepercayaan ayah. Kami disambut oleh Direktur Utama yang lama dan beberapa dokter dan staf penting rumah sakit.


"Ini Abimanyu, putra saya" ucap ayah memperkenalkan aku.


Lalu aku jabat satu persatu tangan mereka. Kami langsung diarahkan masuk ke beberapa ruangan yang telah direnovasi dan kebeberapa ruangan lagi yang fasilitas kesehatannya telah diperbaharui.


"Sepertinya itu komisaris rumah sakit kita yang baru" ucap salah seorang perawat yang saat ini ruangannya menjadi salah satu tempat yang Abimanyu dan ayahnya datangi.


"Muda bangeeet yaa.. ganteng lagi! itu laler kalau nempel dikulitnya langsung melorot kali yaaa... liciin bu.." timpal salah satu temannya.


Abimanyu tak menampakan senyumnya, walau dia tahu sedari tadi setiap dokter dan perawat yang dilewati memberi senyuman padanya juga sang ayah. Berbeda dengan ayahnya yang selalu ramah dan murah senyum.


Sampai ketika Abimanyu akan melewati sebuah nurse station, dilihatnya dengan jelas Tita yang sedang berdiri menulis pada sebuah odner besar. Rambutnya yang diikat kuncir kuda dan menggunakan snelli (jas dokter) membuat dia nampak begitu berbeda dimata Abimanyu pagi itu.


"Dok, komisaris mau lewat dok!" seorang perawat memperingatkan Tita yang masih sibuk menuliskan riwayat penyakit pasien pada lembar rekam medis. Mendengar peringatan itu, Tita langsung membalikkan badannya dan sedikit membungkukkan badannya tanda hormat.


"Kamu praktek disini Tita?" sapa ayah ketika melihat apa yang dilihat Abimanyu.


Tita begitu terkejut, dia menengadahkan wajahnya melihat seseorang yang menyebut namanya tadi. Mendapatkan bahwa komisaris baru yang akhirnya membeli saham rumah sakit tempat dia praktek adalah ayahnya Abimanyu.


"Selamat pagi pak, iyaa saya praktek dirumah sakit ini" jawab Tita gugup. Dan melempar pandang juga pada Abimanyu yang saat ini menatap padanya namun tidak berkata apa-apa.


"Apa kabarnya pak Yoga?" ucap Tita lagi.


"Saya sehat Ta, senang.. ternyata kamu salah satu dokter disini" ucap ayah lagi.


"Baik pak, terima kasih" jawab Tita sambil membungkukkan lagi badannya mempersilahkan ayah Abimanyu dan Abi melanjutkan perjalanannya lagi menuju ruang rapat direksi dan komisaris rumah sakit.


"Dok! dokter kenal baik komisaris baru kita?" tanya salah seorang perawat pada Tita setelah rombongan komisaris sudah tidak tampak lagi.


"Iyaa.. aku kenal, dan tadi yang mengenakan jas Abu-abu, itu putranya .. namanya Abimanyu" terang Tita.


"Gantengnya .. ayah sama anak.. " ucap perawat yang lain.


Tita hanya mampu terdiam, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Tristan kalau tahu ternyata rumah sakit tempat dia praktek saat ini, juga adalah rumah sakit milik ayahnya Abimanyu.


Dan dia begitu sedih, ketika tadi Abimanyu tidak menyapa sama sekali dirinya. Hatinya seperti merasa diingkari.


.


.


.


.


.


.


Tiga jam kemudian, rapat komisaris pun selesai. Direktur utama baru telah terpilih. Abimanyu dan ayahnya bersiap pulang. sampai ketika keduanya dengan elegan berjalan dengan setelan dan penampilan yang sama-sama menarik perhatian semua orang dan memasuki mobil mereka yang super eksklusif, Tita hanya mampu melihat dari kejauhan.


Dia begitu menyesali emosi mudanya dulu yang telah menyia-nyiakan lelaki yang diidam-idamkan banyak wanita itu.


Hari ini, dia merasa menjadi wanita kumuh yang mengiba cinta seorang pangeran.